Kamis, 24 November 2011

Tukang Cuci Gosok Pakaian


Minah seorang buruh harian, perempuan tua tukang cuci gosok pakaian, sejak muda sudah menjadi tukang cuci gosok harian. Kisah sedihnya berawal dari perpisahannya dengan suami, kisah rumah tangganya berhenti begitu saja, dengan egois suaminya meninggalkan Minah. Saat itu sang suami meninggalkan anak semata wayang dan nasib yang tidak jelas buat Minah, tapi Minah sudah menganggap suaminya itu mati disambar geledek.
Suhari adalah majikannya yang sekarang. Orangnya sangat baik pada Minah, bahkan Suhari mau menyekolahkan anaknya. Hari itu Suhari tengah gusar, uang hasil menjual hasil ladangnya telah raib dirampok. Kala itu rumah Suhari tengah kosong tak berpenghuni. Sebagian uangnya akan ia kirim kepada ayah dan ibunya untuk berobat ayahnya yang sedang sakit. Betapa terpukulnya jiwa Suhari, seharian ia kasak kusuk, mondar mandir mengelilingi ruangan rumahnya seperti orang kerasukan setan. Minah memperhatikan saja tanpa sedikit pun teguran buat menenangkan majikannya, ia takut kena marah majikannya.
Sejak kemalingan tingkah Suhari mulai stress dan tegang, sepertinya ia berusaha menahan emosinya yang meledak-ledak. Terdengar caci maki buat orang yang tega mengambil hartanya Suhari. Tampaknya ia mulai hilang akal, ocehannya tak keruan. Akhirnya kaki Suhari letih juga, kemudian ia mengambil bangku dan duduk di belakang Minah yang tengah menyetrika pakaian Suhari. Dengan suara bergetar Suhari menceritakan perihal kehilangan uangnya dan sebagian barang berharga miliknya. Tanpa maksud mau menuduh Minah, dan Suhari pun menceritakan kekesalannya pada pencuri itu. Bahkan Suhari mengutuknya setiap kali ia kesal dan teringat akan uangnya yang hilang.
Tapi Minah tidak dapat membantu apa pun. Maka Minah hanya bisa menceritakan nasibnya saja sebagai perbandingan buat Suhari. Dahulu, beberapa bulan bersama majikan lamanya, tatkala ia tengah bekerja untuk seorang ibu yang tingkat ekonominya biasa-biasa saja. Dan ibu tersebut seorang janda beranak tiga, hidup sederhana dari penghasilan berdagang kelontong. Kesibukan ibu tersebut membuat ia memilih Minah untuk dipekerjakan sebagai buruh harian cuci gosok pakaian dirinya dan ketiga anakanya.
Tetapi pada suatu hari sang nyonya kehilangan harta berharga miliknya, lalu ia mencari ke seisi rumah, dan menanyakan kepada ketiga anaknya, semua menjawab tidak tahu. Semua mengatakan tidak tahu, dan yang tersisa hanya Minah yang belum memberikan alibi. Akhirnya timbul prasangka bahwa pelaku pencurian itu adalah sang pramu wisma tersebut. Wal hasil ia menghusir sang asisten rumah tangga itu, sambil mengancamnya, “Jangan pernah sekali-kali kembali ke kampung ini, apalagi untuk mencari nafkah disini! Pergi.”
Karena Minah merasa tidak melakukannya tetapi ia sudah terlanjur terdakwa tanpa ada pembelaan kata-kata. Namun hardikan sang majikan itu benar-benar tertanam dalam fikirannya yang lugu. Walau setelah sekian lama kejadian itu terjadi namun ia tidak pernah menginjakkan kakinya ke kampung itu lagi, apalagi untuk mencuci gosok pakaian sebagai mata pencahariannya.
Sampai saat ia menceritakannya kepada Suhari, hati Minah masih saja takut untuk mencari nafkah di kampung itu apalagi untuk berkunjung barang sejenak. Tapi sekarang Minah telah bekerja sebagai tukang cuci gosok pakaian harian di kampung ini, yang ternyata aman-aman saja dan di kampung ini tak terbukti bahwa ada barang yang hilang, sampai saat ini saat mas Suhari menceritakan kehilangannya. Minah tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya, tapi seandainya mas Suhari mau mengatakan sesuatu tentang pemutusan kerja tapi Minah memohon agar Suhari jangan mengusir dirinya dari kampung ini. Suhari yang sejak tadi mendengarkan cerita Minah hanya terpaku dalam tenang duduk bersandar di bangku. Fikirannya mulai tenang dan akalnya mulai kembali. Ia berdiri dari bangku dan meninggalkan Minah sendiri tanpa kata-kata, ia kemudian masuk kamar dan berbaring diatas kasur.
Matanya menerawang ke langit ke tujuh menembus langit-langit rumahnya. Suhari terbayang tentang kejadian pemulung yang digebukin massa yang kebetulan ia ikut hadir disana sebagai orang yang juga punya dendam perasaan sebagai sesama korban. Betapa babak belurnya pemulung itu yang ketahuan memungut sepatu baru dari dalam teras rumah. Kemudian ia pun tertuduh atas dosa mengutil perkakas rumah orang yang masih dipakai, atau peralatan rumah tangga yang sengaja ia pindahkan kedalam gerobaknya, padahal itu dosa yang dilakukan pemulung lain, bukan dirinya yang hanya mengambil sepatu doang. Lantas orang se RT bahkan RT tetangga ikut memukuli atas nama pernah juga kehilangan, maka orang ini adalah korban yang salah, tetapi tempat yang tepat untuk pelampiasan kesalahan orang lain juga.
Suhari mulai terkesima mendengar cerita Minah tadi. Lalu yang terfikirkan olehnya perasaan yang sama telah kehilangan barang berharga, dengan dada yang masih sesak dan penuh lalu Suhari meminta kepada Tuhan agar orang itu ditutup pintu rezekinya. Sejak saat itu Suhari mulai berkeras hati untuk tidak mengampuni orang yang berprofesi maling, bahkan perasaan tidak ada ampun baginya adalah hukuman yang layak. Tetapi hari ini Suhari sedikit mengelus dada, tak seharusnya ia memintakan hal begitu.
Betapa sebenarnya Tuhan itu maha Pemberi, maha Pengampun, dan maha Pemurah. Hari ini dia seperti mendapat teguran dari cerita si mbok Minah. Betapa Tuhan telah melunakkan hati orang lain, di kampung lain, mampu menerima si mbok tukang cuci gosok ini. Bahkan di kampung ini Minah diperlakukan jauh lebih baik, dan anaknya mendapat bantuan dana buat sekolahnya dari warga disini. Si mbok memang seorang janda beranak satu, sudah tanpa suami sejak anaknya masih bayi. Tapi ia terpelihara dari kesusahan dan kemiskinan. Dia dengan keluguannya bertahan hidup di kampung lain dengan harapan ada orang yang membutuhkan tenaga dan kemampuannya yang sedikit, hanya tukang cuci gosok pakaian.
Begitu juga buat maling yang terkutuk itu, terfikir oleh Suhari akan pengampunan Tuhan buatnya, juga dimurahkan pintu rezeki lainnya buat dirinya, juga pemberian Tuhan berupa kesempatan kedua.
Pernah juga Suhari dengar tentang cerita orang yang telah mengampuni orang yang telah mencuri darinya, bahkan mendoakan pintu taubat buat maling itu agar ia dapat melepaskan beban penghukuman yang seharusnya itu bukan tugasnya, tetapi tugas Tuhan. Itulah kampung lain yakni kampung penuh harapan, menyembuhkan hati dan nasib Minah dengan perlakuan baiknya. Sejahat apa pun oknum, selalu ada tempat lain untuk ia kembali ke pangkuan Tuhan dengan amal baiknya, karena Tuhan menyediakannya kampung-kampung penuh taubat, untuk itu Suhari merasa sia-sia atas amarahnya itu. Kemudian ia sujud syukur atas teguran dan sapaan lembut Tuhan melalui Minah.

3 komentar: