Jumat, 06 Januari 2012

“Hujan Pembebat”



Semut yang sedang memandangi kesombongan Ilalang
angin menyapu daun Sukun yang kering
menutupi Ilalang berhari-hari hingga mati
Semut mendaki Sukun sambil meremah-remah
bernyanyi lagu, kerja kerja ayo kita kerja
Sukun mulai congkak memandang tinggi Pinus
ia merasa lebih berkuasa
awan mengandung mendung melepaskan ribuan geledek
Sukun disambar petir berkali-kali hingga mati jadi abu
Pinus gemulai menari-nari mengikuti angin
serasa lebih diatas angin
awan meringis bengis
awan tak kuasa menahan bergalon-galon air
ditumpah-ruahkan menimpa Pinus
Pinus berusaha bertahan tapi akar tercerabut
hingga ia menghitung hari untuk kering dan mati
tukang kayu akhir-akhir hari menikmati kayu mati
menang jadi abu kalah jadi arang diganti uang
langit punya kuasanya sendiri

-o0o-
Menandai hari Kesaktian Nenek, 07012012 ada di 09:20

Rabu, 04 Januari 2012

“Skandal Sandal Japit”


Ada oknum penembakan guru ngaji
ada oknum tidak disiplin
ada oknum penipuan
ada oknum pemerasan
ada oknum salah tangkap
ada ada aja
aja ada aja

Hukum tak pandang bulu
walau tuna siswa, tuna nestapa, tuna papa, tuna fakir kafir,  
dimata hukum tetap lah patuh hukum

Aturannya pencuri harus dihukum
mau itu coklat
kelapa
sawit
bahkan sandal japit

Sandal jiwa disita milik aparat
siswa pesakitan, terdakwa salah malah didukung amarah
pisau memang menusuk kebawah
tetapi timbangan tetap sesuai jarah
bersyukurlah ini bukan mekah
yang salah harus di potong

Si Sulut Penyulut dituntut kentut
tak ada hukumnya menuntut nurani
tak ada dalilnya memejahijaukan sanubari
kentut itu kalau masih dibadan milik si pemilik
kalau sudah dilepaskan itu milik bersama

-o0o-
Menandai hari 05012012
Merdeka ataoe mati, sudah terhapus dari coretan dinding, gedung tua sudah berganti, merdeka masih dicari

"Peluh"



bulan separuh depan beranda Hendra Peluh
hati keluh Hendra melenguh
bukan Hendra bila tak berpeluh
makan berpeluh
tidur berpeluh
boker berpeluh
ujian di sekolah berpeluh
gugup berpeluh
grogi berpeluh
nafsu berpeluh
bohong berpeluh
seakan Hendra tak henti berpeluh

-o0o-

Menandai hari,23122012
12 siang

“Sama Berbeda Tahta”


Engkau tukang potong
sepatu sepasang seperjalanan
telinga sepasang sependengaran
mata sepasang sepenglihatan
tangan sepasang
berbeda pegangan
berbeda kemampuan
berbeda perlakuan
yang tukang cebok diberi cincin
yang tukang catat diberi golok

-o0o-

Menandai hari,04012012
Menanti panggilan tugas

“Tiga Penggali Tua”


Kemarinnya dulu lewat sana
ada dua titik hitam disetiap dada penggali parit
ada pola putih putih tidak merata di punggung mereka
rata-rata sawo matang yang keabu-abuan
rambutnya mulai kecoklatan bukan dicat
peluhnya meluncur bebas hambatan
masuk ke sela-sela celana

Tapi kemarin dua lewat sana
ada seragam rompi jingga bergaris putih
berhelm kuning dibukanya karena gatal
para kutu unjuk rasa kegerahan
memantulkan cahaya menyilaukan pengendara
mentereng melebihi penggali kubur
pekerjaan tetap jadi penggali parit

Tetapi apa bedanya ya...
air rembulan diteguknya
mandor kawat main urat
sebagian masuk cawat

-o0o-

Menandai hari,04012012
Menanti panggilan tugas

“Resolusi”


Memperbaiki solusi
ilmu kodok berambisi
permerkosaan diatur dengan seragam biru supir
penggali diatur dengan seragam jingga PeU

Memberi solusi
ilmu padi yang membumi
protes lahan disegerakan masuk bumi
melawan penguasa hutan dikebumikan

Di negeri ramah tamah
terlambat, ramah tamah
ngentit, ramah tamah
bohong, ramah tamah
pura-pura sakit, ramah tamah
kentut, ramah tamah
korupsi berjamaah, ramah tamah
membajak, ramah tamah
cabul, ramah tamah
bolos rame-rame, ramah tamah
tidur di meja rapat, ramah tamah

Sambutlah dengan remeh temeh
tak menyediakan fasilitas umum, salahkan umum, remeh temeh
tak memiliki aturan, salahkan peraturan, remeh temeh
pendosa, salahkan agama, remeh temeh
lolos, salahkan penjaga, remeh temeh
ada yang mati, berhenti bernyanyi, remeh temeh
ada yang rubuh, sembunyi, remeh temeh

-o0o-
Menandai hari 02012012
Adinda B Day

Minggu, 01 Januari 2012

Cerita Uyung dan Amak (Sesi bersama Kakek)


Keriputnya Kakek

Uyung bertanya sama kakek yang sudah keriput. Sedang asyik duduk di kursi goyang di depan teras rumah menikmati angin. Melihat anak dari kemenakannya yang berstatus cucu, sang kakek sangat sayang sama si Uyung.
"Kek, kek, kenap
e wajah kakek nii keriput?"
"Ehhhh sembarangan. Ini bukan keriput,
kata anak sekarang ini cuma mengganti kasing doang!" kata kakek dengan nafas senin kamis. Sebentar-bentar menarik nafas panjang, karena oksigen memburu masuk ke jantung yang udah reot.
"Ohh kirain habis dicuci lupa disetrika."
Uyung langsung ngacir, dibelakang Uyung melayang terompa kayu. Tapi terompa bakiak yang kakek lempar mendarat setengah meter tepat dihadapannya, nafasnya ngos-ngosan gak kuat ngangkat badannya lagi.
"Untung kakek udah tua, kalau enggak udah tanding balap lari. Awas kau Yung, tunggu pembalasan kakek!"
-o0o-

Sekolah Tinggi dan Kacamata Kakek

Uyung sedang asyik makan kripik singkong. Tiba-tiba amaknya nyeletuk seenaknya. Berdiri di belakang Uyung dan membuatnya kaget seperti sedang di kagetkan hantu.

"Yung kau baiknya sekolah yang tinggi. Jangan kayak almarhum ayah kau. Jangan pulak kayak amak kau ini cuma tamantan SR, sekolah rakyat."
"Tapi amak kan setelah lulus amak jadi rakyat. Kalau aku sekolah tinggi, apa nanti kalau aku lulus jadi tinggi?"
“Ah kau Yung, kalau mau tinggi tak usah sekolah tinggi-tinggi, kakek Udi aja tak sekolah badannya sudah tinggi.”
“Tak mau lah mak, macam kakek. Sekolah tak sekolah kakek tetap saje bertingkah sok pintar. Membaca sajo masih tampak sombong, masak kertasnya di jauhkan dari kepalo. Bukannya kalau sudah lamur dan berkacamata sebaiknya tulisannya didekatkan ke mato. Ya ndak mak?”
Amak yang kebingungan garuk-garuk kepala.
“Mungkin kacamatanya rusak kali ya Yung? Atau mungkin kakek lupa cara menggunakan kacamata baca?”

-o0o-