Selasa, 13 Maret 2012

“Orang Asing”


Kalau semua merasa pribumi
lalu aku ini apa

Jika semua merasa pemilik
lalu, aku ini apa

Pabila semua merasa sudah edan
kemudian, aku ini apa

Jikalau semua merasa tangguh dan gagah
lantas, aku ini apa

Apabila semua merasa suci dan wali
terus, aku ini apa

Bila semua merasa ahli
nah, aku ini apa

Ketika semua merasa agung
bah, aku ini apa

Saat semua merasa wasit dan juri
and then, aku ini apa

Jika semua merasa pahlawan
so, aku ini apa

Kalau semua merasa kekurangan
what the, aku ini apa

Jikalau bila begitu
...., anggap saja aku orang asing

-o0o-
Menandai Hari,
06032012

“Dendam”


“Dendam (I)”

sajak mulo titian kayu
lah lapuk bapaneh hari
hingga mati bapacik baro
jan sampai tabaka habih

-o0o-
Menandai hari
060322012

“Dendam (II)”

If you look world so beautiful
don't let anger and revenge consume you...
you'll find yourself unable to behold the beautiful sights
right before your eyes

-o0o-
Menandai hari
060322012

Selasa, 28 Februari 2012

"Melamun"


Minggu pagi tahun 1985
pada jambu bol tumbuh sebatang
tepat bersebelahan rumah
menempel sebagian dahannya pada asbes bergelombang seperti awan yang ku pandang
diketinggian tiga kurang
menyembunyikan diri dari sunyi ruang
rebah meratapi birunya langit bersih
melamun akan tak kuasa pada rasa sedih
ketakutan rasa sakit di dalam dirimu
yang selama ini kau pendam
dan sekarang terkapar bungkam
dalam bilik perawatan panjang
perlahan air bening mengalir
datangnya dari sudut dalam merambah menembus kedua bola mata

Minggu pagi tahun 1986
setelah perjalanan panjang menghantar dirimu
di tempat peristirahatan panjang Balongkore
kembalikan ingatan ku pada sebuah peristirahatan Sekuriti Camp
aku terbayang-bayang luangnya, leganya, lapangnya
setelah itu berlari kebun belakang
terpaku sejenak di tepian kolam
beranjak perlahan di titian kecil menuju tempat duduk panjang
sebuah gazebo di tengah kolam seindah Firdaus
sebuah bale-bale milikmu
lalu beranjak pada sebuah batang umbi karet tua
berdampingan bambu kuning yang juga seumur
diatasnya rumah pohon buah tangan abangku
memanjang dari batang umbi karet sampai ke batang-batang bambu
mengakhiri lamunan akan perpisahan panjang
dengan semua yang kalian bangun
dengan kekuatan punggung dan bahu
tak kuasa aku membendung haru

Minggu pagi tahun 1989
pada ruang dua kali dua di kediaman Dock Yard
satu pintu tanpa atap dan jendela
dibawah lantai menembus cahaya dan pandangku
mengalir air berwarna bak air teh
air tanah gambut bercampur getah damar kering
bercampur kompos hutan Bukit Datuk
atau bercampur fosil Bukit Timah dan bahkan minyak bumi Bukit Jin
kehilangan sentuhan akhir mu
pada bangunan ini
selain bangunan utama dari hasil hati dan fikir mu
kokoh tanpa kalap
tapi ruang ini ruang melamun
tembus kelangit ke tujuh
tiap pagi singgah disini
hanya untuk membuang ambisi
sambil mengikuti hanyut bersama arus lelebut
tepian kali kecil berwarna bening kecoklatan
dengan harum buah cempedak dan berisik mesin diesel
lalu rimbunnya daun cincau
pintu dari seng bertuliskan ruang bermenung
disana aku terpidana

Minggu pagi 1994
pada riak bening air sungai Kayu Tanam
diiringi batang-batang kayu manis
ke tempat yang lebih terbuka
bebatuan aneka warna
lebih ketengah dasar tanah lembut kemerahan
bermaksud bersihkan diri
sebersih langit pagi
bersama angin gunung Singgalang dan Merapi
kabut dari Bukit Tinggi menyertai
lagi-lagi seindah karya musikmu
mengalun indah membelah kawah
mengulur waktu dengan mudah
terlena dalam gundah

Minggu pagi 2000
ke Jakarta
kembali ke realita cinta
tidak ada langit biru
bangun pagi nafas debu menggebu
riuh melata dan gemuruh merata
aku tak bisa melamunkan kamu ayahku
disini aku tak diberi waktu
sesak rasanya kenyataan
hanya berusaha bisa
sekuat tenaga
bersama kasih sayang orang yang tersisa
dan akan nantinya bersama yang lainnya
.... ssssssss
sunyi itu hanya diatas jam dua
beberapa saat saja
huk huk huk
... hening

-o0o-
Menandai hari
21022012
Hari Cermin

Jumat, 17 Februari 2012

“Reformasi”


Reformasi bukan debat di televisi
adalah pengumpulan semua visi dalam satu misi lahir kembali
reformasi untuk satu abad nanti
bukan acara unjuk gigi tetua yang menggunakan senyum cemerlang gigi palsu dan bedak pemutih wajah
pemuda-pemudi yang datang dengan pembaharuan
bukan para muda yang memanfaatkan sorotan tetua lalu dimanfaat
bukan simbiosis mutualis tapi tumbuh dengan sistemis yang berkeadilan
dengan ambisi perubahan yang berbeda dari mereka tetua tapi benar dan tepat
langkah yang pasti
langkah yang berani

Reformasi bukan debat para lawyer dan banker dalam kasus dokter
tentang radang paru-paru dan kanker otak ganas
yang oleh mereka mempercepat pensiun dini adalah yang terbaik
kehadiran para muda yang dinanti akan bicara politik untuk kemakmuran rakyat dan keadilan yang beradab tanpa perdebatan sulit
dalam pilihan-pilihan kebaikan
menghilangkan celah-celah kecurangan
menutup peluang para makelar
semua terlahir percaya diri dan madani

Reformasi itu tidak ada lagu Indonesia Raya penutup acara radio dan tv
karena kami akan menyiarkan dua kali sehari
tepat jarum pendek tepat menunjukan angka dua belas  
tak harus berdiri tapi duduklah di sofa kalian sambil menegakkan dagu tinggi-tinggi
akan bermartabat
akan bermanfaat
tanpa seragam dan atribut bendera partai
tanpa harus mandi siang atau dini hari
dengan radio mobilisasi
dengan tv di kamar mandi
bukan basa basi dan bualisasi
ini harga diri

Reformasi bukan bicara sakit hati dan benci
karena catatan sejarah akan selalu ada keberpihakan
pada yang menakuti dan yang ditakuti
ada catatan langit disebutkan bahwa sejarah akan selalu berulang
malam ke siang, siang ke malam, begitu seterusnya proses kelahiran dan kematian
para muda lah yang mengambil kemudi perubahan
tak usah merisaukan kemakmuran jaman silam
kembali merenda kemenangan masa depan
bangun kembali nusantara baru dengan gelar-gelar lama
yaitu
nusa peri indah
pulau melati pujaan bangsa
rayuan kelapa
negeri kopi
jantung dan paru-paru dunia
negeri khatulistiwa
negri kepulauan
benteng laut dan samudera  
akan diperdengarkan oleh para muda dengan sebait syair, “sejak dulu kala”

Reformasi bukan sekedar reboisasi atau program imunisasi
program keluarga berencana yang dulu menekankan anak
seharusnya sekarang menekankan bapak
terbiasa melihat bapak-bapak pendahulu beranak pinak
sekarang para janda mengasuh anak
tak ada lagi korban kurang gizi
atau bunuh diri
semua terhormat karena keluarga yang bermartabat
semua terpandang dari keturunan yang bermanfaat
bagi sesama para muda
buat sesama para muda

Reformasi adalah cahaya rembulan dan air sungai bening nan sejuk
dapat dinikmati dengan diam
atau mengalunkan keroncong berkolaborasi dengan piyama batik para penyanyi dangdut dan klasik
mencintai produk dalam negri dari kursi dewan sampai boneka jelangkung
menghargai barongsai sampai leak
menganggumi perkusi, kecapi, gendang atau musik berisik
jamu gendong, ramuan madura atau herbal dari para tabib dan habib
resep warteg atau rumah makan salero bundo
menikmati semua tanpa perdebatan rumit
tanpa perusakan dan intimidasi
apalagi sampai kecolongan hak cipta
tanpa tipu muslihat kaum patriat
tanpa merisaukan golongan darah ningrat

Reformasi semua dipandang sebagai warga republik
republik yang publik lahir kembali
yang teguh memegang janji bumi pertiwi
bertanah air Indonesia
bukan partai, bukan golongan, bukan kaum elit dan ekonomi sulit
karena petani butuh tampilan baru yang modern
karena buruh butuh tampilan baru yang sederajat
bukan hanya persamaan gender tapi persamaan kesempatan
bukan keputusan hakim tapi juri dari para ahli
semua itu baru reformasi
semua itu baru republik
semua itu butuh para muda

-o0o-
Menandai hari 17022012