Senin, 20 Juni 2011

“DANDANGGULA”

Kejayaan sastra tempatnya sulit (kain)
jelek sekali namanya wanita
keliru barang dibelakangnya (marga/fam/bin/binti)
mengetahui pada akhirnya
sinar panjang mengandung air (pelangi)
pakaian lelaki (bebed) yang harus terbawa
justru wanita yang banyak repotnya
taji ayam (jalu)
bau yang diusapkan mulut (minyak krawang)
untuk itu, jika keliru sudah menerawang

Daun yang tumbuh di tanah (kecambah)
mangga besar bau menyengat (kweni)
tingkah pola serba salah
tengara wanita menyeleweng
kuda keluar dari taman (Kalisahak)
bambu bulat dari tanah (cobek)
seumpama semua itu menjadi miliknya
akibatnya akan merusak diri sendiri
untuk itu sari minyak (malam)
isinya daun (getah)
jika aib itu dilakukan wanita
maka aku sebut sebagai alam dunia yang bergetah

Tanah yang hancur (debu)
anak Djumuiril (Umarmaya)
tetapi perempuan tidak termasuk pembicaraan
raja di Tasmiten (Genijara)
kaca yang tanpa ancur (ram)
itu yang membuat kagum yang menyaksikan
negeri itu pantas jika dipilih
wilayahnya laut (samudra)
dalam tekad yang tidak-tidak (sejati)
logamnya senjata (tepi/bermata)
perginya orang yang mengirim berita (kondang)
jadi semua demi menetapi kewajiban

Tenggelamnya bulan purnama (gerhana)
bayi yang lepas dari tuntunan (puput)
berilah pakaian selengkapnya
yang jatuh keliru
talinya perahu (welah)
aku sebut parikan penuh tawa (tunduk)
jangan terus menunduk
dalam tingkah tanpa hasil
kemenyan kuning (welirang)
air dari jasmani (keringat)
bila sudah sampai disitu
ingatlah jika sampai malu

Di Ngadjerak Patihnya Raja Jin (Sannasal)
warna mencolok digunakan menulis (tinta)
dilihat-lihat saja sejak dulu
tapi pada akhirnya tanpa hasil dalam berjalan (sia-sia)
sembahyangnya manusia minta dikasihi (shalat hajat)
hukuman manusia dendanya Hyang Agung
tanpa tujuan dalam fikirannya
membuat telaga untuk berenang (bale kambang)
Raja Negara Boja (Surjawisesya) mengambang perintahnya

Manusia beruntung (mukti)
suara dalam bambu (suling)
diingat-ingat orang hidup
jangan hanya senang-senang saja
ya, logamnya tempat nasi (wakul)
bunga pandan berserakan terkena angin (pudak)
meskipun keturunan raja
sedunia diambilnya (loba)
angin besar menumbangkan pohon (prahara)
sampai tercerabut seperti benangnya pisang (serat)
ada melarat ada kaya
sudah lazim di alam dunia

Putri Mandura (Sumbadra) yang menggerakan perhiasan
meski keturunan manusia sudra papa
jika baik pendidikannya; ajiannya Raja Salya (Candrabirawa)
burung puter kecil ditempatkan diatas (perkutut)
pantas jika kalian bawa
cenderung pada hati
Wiku Raja di Kusnija (Bawadiman)
anaknya Sarkap (Samardikaran) harus hemat
menyimpan rahasia jangan sampai kebingungan

Lebah besar yang berminyak tanah (tutur)
meraih hadiah pelajaran akhiran (surga)
jika kamu mematuhi pembicaraan (ini/petuah)
itu sama dengan mensorgakan bapak ibu
termasuk kakek dan nenek
selamanya selamat sampai tujuan
teman tinggal menurut (murid)
jika terkena godaan setan
sapu kapur (usar)
istrinya Hyang Guru Pramesti (Bathari Durga)
dewi yang menyebabkan manusia tersesat

Ikan di tanggul (ketam)
anaknya Kumbayana (Asawatama)
maksudnya wanita ayu yang utama
pertandanya surat untuk pengingat (penget)
menyipta dalam hati yang tak terucap (prasangka)
yang sudah lepas dari dugaan yang tajam
diingatkan pada kenyataan
berkelana burung puyuh (menjelajah)
menjajah bagian terlarangnya badan
jalan panjang (krakad)
suluknya wayang Klitik (Sendon)
jika merasa sendu dalam hati

Kentang yang merambat (umbi jalar)
cepatnya orang menanggap wayang (lakon)
sungguh wanita yang utama yang baik kelakuannya
singa kecil naik di kasur (kucing)
gadis Putri Negara Karta (Susilawati)
jika tidak sopan pada pria
akan menjadikan kecewa
kekuatannya pembicaraan gugur batal
tidal batal pada yang rahasia
orang memberi salam kepada sesamanya

--oo0oo—

Dikisahkan pada saat itu Dandanggula adalah nyanyian Gatolodjo.
Syair diatas dinyanyikan saat ia menasehati istri-istrinnya.
Aku bawakan lagu Gatolodjo berisikan syair tentang wanita, juga pertemuan perempuan dan lelaki.
21062011



HANTU-HANTU KECIL YANG MEMENUHI AULA

Orang yang paling baik dari yang terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan paling baik amalnya, yang paling celaka adalah orang yang selalu buruk amalannya tatkala itu juga ia menghembuskan nafas terakhirnya. Orang-orang yang baik selalu berada dalam kebaikan amal karena disponsori oleh Tuhan, karena Tuhan tidak akan menggagalkan hambaNya yang berada di jalanNya. Orang baik itu memiliki hati yang lebih luas dari jagat raya, dan pintunya hanya sebesar biji jambu klutuk, jadi bayangkanlah bagaimana memasukan semua itu ke dalam hati orang baik dari pintu sekecil itu.
Keberhasilan itu bukan dari sampainya. Tetapi dari kualitas perjalanannya. Berbahagialah sepanjang perjalanan itu. Sepanjang hidup adalah sebuah perjalanan panjang, yang akan selalu berhenti sejenak di halte-halte pilihan, memelihara kebahagian disetiap halte perhentian adalah keberhasilan. Bukankah doa-doa orang yang mencintai anda mengharapkan anda happy always. Begitulah.
Ulaym Al-Kindi menceritakan, “Tidak pantas salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, karena pada saat itu (kematian) terputuslah semua amalnya, jangan pula kalian lari atau menolaknya, apalagi sampai mencelanya?” (begitu seriusnya sebuah kematian, bahkan mencelanya saja tidak dianjurkan).
Habib ibn Abi Fadhalah bertutur bahwa Abu Hurayyah pernah menyebut-nyebut kematian seakan-akan ia mengharapkannya. Sang sahabat lantas bertanya, “Mengapa anda mengharapkan kematian, padahal tidak diperbolehkan seorang pun mengharapkan kematian, meskipun ia orang baik maupun orang jahat. Jika ia orang baik, ia mungkin akan bertambah kebaikannya. Jika ia orang jahat, ia mungkin akan meninggalkannya.”
Kalau ada orang baik yang berumur pendek itu artinya beliau dilindungi Tuhan dari keburukan dan kekeliruan. Dan jikalau ada orang baik berumur panjang itu berarti beliau ditugaskan Tuhan untuk memperbaiki dan memberikan kebaikan lebih luas lagi dari sebelumnya, yakni kebaikan yang telah ia perbuat dan yang telah ia berikan.
Jikalau ada orang jahat yang berumur panjang itu artinya beliau diberi waktu oleh Tuhan untuk berubah, taubat dan memperbaiki diri. Dan seandainya ada orang jahat berumur pendek berarti Tuhan menghendaki beliau menjadi contoh yang tidak baik dan dikendakiNya berakhirlah keburukan itu hanya pada orang tersebut.
-o-
Aku baru saja mendengar dan mencoba mengerti arti kata validasi. Apa itu validasi, mungkin anda juga baru mendengarnya. Aku mencoba browsing dan cari tahu arti sebenarnya, dan yang aku dapat adalah; Apabila seorang anak melakukan kesalahan maka anak dan orang tua sebenarnya adalah korban, maka selayaknya adalah menerima, menghargai dan memaafkan. Sisi lain atau pandangan lain yang sebaiknya dicermati adalah, kesalahan yang dilakukan anak terkadang jauh dari logika orangtuanya, maka kesalahan itu penuh adalah kesalahan bersama. Banyak terdengar cerita yang mengabarkan ketimpangan, ada yang bapaknya taat tetapi anaknya bejat, atau sebaliknya ada yang anaknya baik tetapi bapak-ibunya tidak.  
          Ada kalanya semua itu benar, dalam arti menerima, menghargai dan memaafkan. Memutuskan kesalahan. Jika sang anak baik maka orangtua pasti merasa ikut andil dalam keberhasilannya, tetapi jika sang anak tidak baik maka kesalahan akan ditumpahkan seluruhnya pada sang anak. Adakalanya sang anak dapat memutuskan sebuah kesalahan yang dilakukan orang tua, menghargai pengakuan orangtua, dan yang paling penting memaafkan. Tidak seluruhnya juga kesalahan orangtua didapat karena kesalahan sendiri, atau bentuk warisan kesalahan orangtua sebelumnya, diatasnya.
-o-
Perjalanan panjang atau pendek sebuah hidup penuh dengan perhentian sejenak. Disaat itulah momen untuk menjadi baik. Menghargai apa yang telah dilakukan oleh sesama, orang-orang yang terdekat, atau rekanan, sejawat, sahabat setia. Saling mengingatkan dan mendoakan. Itu barangkali gunanya orang merayakan hari jadinya. Untuk menggembirakan halte tempat perhentian sejenak.
Reuni dan temu kangen adalah bentuk mereformasikan diri. Kita semua seperti hantu, spirit anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa, atau ruh yang yang singgah di suatu tempat, masa, dan peristiwa pada waktu lampau. Lalu saat dewasa, bertemunya dengan ruh-ruh anak-anak sepermainan. Anda melihat diri anda kecil kembali dan kembali ke masa lampau itu. Anda mengenal sahabat anda dalam bentuk kecilnya dulu, ingusan, gemuk, pendek, nakal, jahil, lucu, bersuara merdu, bahkan ada yang suka-sukaan.
Atau anda kembali ke tempat anda dulu berkumpul sewaktu kecil. Disana anda melihat ruh-ruh anda saat masih kecil bermain bersama memenuhi ruangan itu. Memori di otak anda seperti energy yang meledak-ledak. Itulah kegembiraan sewaktu kecil dulu. Sekarang dewasa anda masih dapat merasakan energy itu, seperti hantu bermain-main memenuhi ruangan aula tempat anda semua berkumpul sewaktu kecil.
-o-
Kematian adalah tidur panjang, begitu sang penyair mengibaratkan. Tetapi sebelum saat itu sampai kita masih bisa bergembira menuju tujuan akhir itu. Seperti terbangun dari mimpi indah, pertemuan dengan kekasih hati, atau sesuatu yang didamba, bahkan mimpi bisa terbang jauh. Disaat ini andalah pemilik mimpi-mimpi itu, di pertemuan mana lagi kah anda terjaga dari mimpi indah. Anda melihat diri anda gagah, tampan, atau cantik dan anggun, lalu terbangun dan tersenyum. Saat ini pun sebenarnya anda sedang terlelap dalam jaga. Lalu tersadar dalam tawa. Perjalan yang panjang dan mengasyikan.
“Selamat ulang tahun,” buat kalian semua. Atau, “Selamat reunian”. Atau, “Selamat menempuh hidup baru”. Atau, “Selamat sampai tujuan, sampai ketemu di alam yang lain”. Hua ha ha ha. Hi hi hi hi. Hiks.
Top of Form
Bottom of Form

02 juni.

Kamis, 16 Juni 2011

“OLEH-OLEH SOLO”

Aku bawakan syair Gatolodjo
dari pinggiran Klewer
berisikan keanehan
segera aku tuturkan
sepenggalan saja
buatmu

“Berbicara kepada sahabat
sanak saudara semua
jikalau berharap selamat
maka ingatlah
jangan meniru seperti gurumu
yang sewenang-wenang
semaunya
yang seperti itu tidak baik
menghina sesama, umat itu semua sama
pandai, bodoh, baik, jelek, untung dan cilaka
kuli, tani orangnya, putra putri tidak membeda jawatan

Sudah ditakdirkan Allah
tidak bisa diubah
lebih baik menerima
dan saat hidup ingatlah mati
di dunia ini ingatlah jangan gampang curiga dan kikir

setengah menyombongkan diri
memelihara dengki

senang berdusta dan memfitnah
jahil serta iri

menipu dengan kasar dan halus
lebih-lebih senang menganiaya

jangan sekali-kali berlagak sok
berwatak angkuh
menuruti hawa nafsu

jangan kenyang makan tidur
nikmati secukupnya saja

yang sabar dan tawakal
yang suka senyum dan jangan marah
menghargai terhadap sesama
jangan membuat kebencian

jangan membuat kecewa
jangan membuat takut dan terkejut, itu namanya najis dan haram

memakai pakaian dan makan yang sah, itu namanya amalan orang berilmu
jangan sampai sembarangan

Harus menerima takdir
pasrah terhadap kehendak Widi
manusia hanya mengabdi
sekarang aku tanya, apa mantap hingga batin mengaku bapak kepadaku?

Jika kamu sudah jelas
percayalah nasehat ini
tapi, kamu jangan ragu-ragu
tidak boleh membantah ilmu
jika membantah
akan terkena pendeknya hidup kemuliaanmu

Kamu semua anakku
Tebaklah ungkapan ini

Jika malam ada apa
Jika siang memenuhi apa yang tidak ada
Sesungguhnya dimana?

Jauh tanpa wewangian itu
dekat tidak tersenggol ini
jika jauh kelihatan mengawang
jika dekat tidak dapat dipegang

jika isi ada apa
jika kosong lebih merata
siapa di depanmu itu

jika laki-laki tak punya taji
jika wanita tak punya kemaluan perempuan

ya ini ya itu
ya depan ya belakang
ya kiri ya kanan
ya bawah ya atas

perahu memuat laut
Kuda melaju dengan sepenglihatan
tapaknya burung Kuntul melayang

sulung adiknya bungsu
si Welut berdiam di parang
Kodok menyelimuti lobangnya

orang bisu kemudian bicara
Jago berkokok dalam telurku
orang buta melihat bintang
orang cebol menggapai langit
orang lumpuh mengelilingi bumi

dimana sarangnya angin
dimana buahnya air
beserta hatinya Kangkung itu
mencari api membawa dian
orang menimba dengan pikulan air

barang putih bertumpang putih
barang hitam bertumpang hitam

Ketumbar berisi biji
Randu Hutan menjalar pada pohon Simbukan itu

laut yang tak bertepi
rambut hitam menjadi putih, yang putih dari mana asalnya
hitamnya kemana itu

bersama lampu mati, nyalanya kemana itu
carilah hingga ketemu

Jika tidak mengetahui sia-sia
Belum sempurna ilmu yang di dapat

Yang ada di laut, burung Gagak, Kuntul, sama-sama datang
ketika hinggap si Kuntul itu, Gagak ada dimana
Gagak kemudian datang, si Kuntul terbang kemana

Sebaiknya harus mengetahui
kamu semua anakku, sebagai perlambang itu, rasakanlah
yang ketemu pada yang sesungguhnya
sesungguhnya rasa itu, rasa di dalam laut
pertanda yang bertambah

ketahuilah ucap ini bersama pendengaranmu
serta penglihatanmu juga
tidak ada ucap dua itu
jadi tingkah lakumu
tidak curiga
tidak benci itu
tidak tasbihmu Zat Illahi
yang terasa jika tidak makan
yang dirasakan jika minum
sembah Hyang lah agar terasa
agar terasa Zat Allah itu.”

Begitu selesainya sepenggalan
jangan dirasuki
jangan kehilangan akal
jangan dudukan dan tapakan
bersemedi di keramaian
tertawa dalam hati
lebih baik diam

--0o0—

Dari Solo ke Jakarta
Dari tahun 70an ke1999 ke 2011
Dari Joko kepada saya

Senin, 13 Juni 2011

(Hahay Story 050) Cerita Uyung & Amak (Sesi Makanan)

Kehidupan sederhana selalu saja menimbulkan kebahagiaan. Tanpa harus basa-basi dan dipertentangkan perihal benar atau salah, hanyalah sebuah kasih sayang.

"Yung bantuin amak buat lapek"
"Gak ah mak! takut salah"
"Belajar dong"
"Malas ah mak"
"Malas pangkal miskin"
"Salah mak! kalau malas tidak naek kelas"
"Yung, jualen ni lapek ke sekolah!"
"Yaaah amak! anak2 bawa hape masak uyung bawa lapek"
"Bawanya pake baki tutup pake slampek amak! Nanti kalau kawan-kawan kau tu tanya, jawab aja!
Belilah lapek ini berhadiah ipad series terbaru!"

"Aah yang benar mak?"
"
Tentulah"
"
Emangnya amak tau ipad itu apa?"
"
Nanti amak buatkan.. sisa singkong parut masih ada tu, asal kau bawakan contohnya yung!"
Gubrak! Si Uyung pingsan.
Ketika Uyung siuman dari pingsannya, amak telah menciptakan ipad ala kue talam singkong.
Melihat ipad itu Uyung pingsan lagi
-o-

Di hari minggu amak sedang duduk di depan TV menyaksikan berita tentang selebriti. Terdengar suara dari speaker memanggil-manggil, “Belilah! Belilah! Awas kalau tidak beli!” Suara itu berasal dari penjual es krim yang dibawa menggunakan sepeda. Es krim-es krim itu di tempatkan di boks pendingin dibelakangnya.  

"Yung ada yg jualan es krim tuh"
"
Mana mak"
"
Tuh yg pake sepeda. Kamu mau yung?"
"Mau mak"
"Kamu mau yg rasa apa yung?"
"Hhemmm rasa jagung bakar, kalo gak ada rasa rendang jengkol aja"

Ahayyyyay

Selasa, 07 Juni 2011

(Hahay Story 049) MEMBERI DAN MENERIMA

Tiga orang yang terkenal akan kefakirannya, Kirman seorang sangat kikir, Bendot seorang sangat kedekut dan Pailut juga seorang yang sangat pelit. Ketiganya berteman dan seprofesi yakni sebagai pengemis. Tengah asyik berdandan ala kaum fakir, baju seragam untuk mengemis pun dikenakan, dari baju compang camping hingga obat merah pelengkap dandanan pura-pura luka atau korengan.
Setelah waktu subuh berlalu langit masih remang-remang gelap mereka berangkat. Jalan biasa yang dilewati menyeberang stasiun kereta lalu menyeberang kali, tempat tinggal mereka sulit dilacak dan tidak masuk peta kota, sulit disangka kalau ada orang yang sanggup hidup di rawa-rawa. Memilih rawa adalah karena tidak perlu bayar uang sewa dan bayar listrik. Rumah istri dan anak-anaknya di kampung jauh lebih asri dan sehat dibanding rumah gubuk mereka sekarang. Tempat yang terasing itu sulit tersentuh oleh penduduk lain
Ketiganya hidup penuh keegoisan, semua milik pribadi tidak boleh dipakai bersama, yah baju pakai baju sendiri, sabun mandi, odol, handuk sampai tikar tempat tidur pakai punyanya masing-masing. Namanya juga raja pedit bin kikir bin kedekut. Rezeki itu milik masing-masing fikirnya, karena kesamaan prinsip itulah mereka hidup rukun. Sampai MCK pun mereka bangun atas nama masing-masing, maklum rawa luas terbentang adalah WC terbaik buat mereka.
Seperti biasa ketiganya menyeberang sungai dengan getek bambu rakitan. Disaat mereka akan menyeberang, belum begitu jauh dari tepi sungai tapi sudah hampir setengah lebar sungai tersebut, Bendot dan Pailut terjebur ke dalam sungai berwarna butek. Byarrr. Air menenggelamkan sedalam leher mereka, tetapi keduanya tetap tenang dan keduanya kesulitan untuk naik kembali ke atas getek. Sementara Kirman hanya menjaga keseimbangan rakit agar dirinya tidak terjatuh atau getek terbalik. Kirman menatap kedua orang itu penuh ketenangan tanpa ekspresi apa pun. Setelah hampir satu jam Kirman menunggu kedua rekannya naik tapi masih tetap belum berhasil. Sampai akhirnya Kirman kesal.
“Berapa lama lagi aku harus menunggu kalian naik?” tanyanya dengan sopan.
“Tak bisa kau lihat kah diriku tengah berusaha.” Bendot menjelaskan.
“Lumpurnya terlalu kental sehingga menahan kaki ku dan seragam mengemis kami telah menyusahkan kami untuk bisa naik.” Pailut berusaha keras untuk keluar dari kesulitan.
“Berapa lama lagi yang aku tanya?” Kirman menunjukan kekesalannya.
“Ya ya ya, baiklah. Aku terpaksa memberi kau waktu satu jam lagi. Ingat! Ini terpaksa aku kasih!” Jawab Pailut ikut kesal atas sikap Kirman, sementara Bendot mengerlingkan matanya melihat sikap Pailut yang sanggup memberikan waktu dan melotot kepada Kirman yang sudah mendapatkan waktu tambahan.
Waktu berjalan terus, antara keringat dan basah air sungai tak bisa dibedakan. Setiap kali hampir bisa mencapai permukaan getek Bendot dan Pailut terjatuh lagi ke air. Kirman lelah menunggu lalu ia duduk sambil memegangi sebilah bambu menyeimbangi geteknya. Satu jam hampir habis, Bendot dan Pailut panik.
“Bisakah kau memberikan pertolongan buat kami?” Bendot memelas pada Kirman tetapi Kirman malah membuang muka. Matahari mulai bangkit, hari juga mulai panas.
“Berikan bambumu itu agar aku bisa naik!” Pinta Pailut panik. Kirman masih mempalingkan mukanya hanya menjawab ketus.
“Huh. Tidak mau.” Pailut dan Bendot mukanya sedih.
“Aku akan berikan penghasilan ngemis ku hari ini untuk mu sebagai tukaran, kalau kau mau memberikan bambumu itu. Plis?!?” Bujuk Pailut. Wajah Kirman cerah, secerah mentari pagi, lalu berdiri dan memberikan sebilah bambu penyeimbang getek itu pada Pailut.
“Berikan tanganmu biar aku bisa naik!” Hardik Bendot mulai naik pitam.
“Cih. Tidak mau!” Jawab Kirman, lagi-lagi ia membuang mukanya.
“Baik! Baik! Kau menang. Sekarang ambil tanganku dan angkat aku ke atas.” Kirman tersenyum.
“Sebagai upahnya?” Kirman cengengesan.
“Kau boleh ambil sabun mandiku dan juga odolku sebagai gantinya. Cepat ambil tanganku ini dan angkat.”
“Kurang!” Kirman tawar-menawar, memang ini yang ia tunggu sedari tadi.
“Baiklah. Ditambah makan siang dan makan malam nasi bungkus.” Tawaran paling tinggi dari Bendot.
“Dil.” Kirman menyetujui dan menarik tangan Bendot.
Sementara Pailut tengah berusaha naik dengan bantuan sebilah bambu. Karena keduanya berusaha naik dari sebelah kanan dan bambu penyeimbang tengah dipakai Pailut maka Kirman tidak lagi memikirkan keseimbangan getek. Walhasil getek terbalik dan melepaskan ikatannya membelah menjadi dua bagian. Sekarang ketiganya berada di air, dan Bendot benar-benar kesal, Pailut pun ikut murka. Tetapi Kirman gelagapan, panik karena dirinya tidak bisa berenang. Lalu Bendot menampar wajah Kirman agar dirinya tenang dan tidak berusaha menarik-narik baju kedua rekan seprofesinya tersebut. Plak!
“Tenanglah kau Kirman. Tak akan tenggelam kalau kau tenang. Air ini hanya selehermu saja.” Lalu Kirman berusaha tenang, dan benar saja air itu hanya selehernya saja.
Getek yang terbelah dua itu hanyut terbawa arus karena tak ada yang mengemudikannya lagi, sekarang ketiganya berada di air sungai tanpa pernah ada yang bisa menolongnya, tempat yang terpencil itu tak diketahui orang lain. Akhirnya Bendot dan Pailut memilih berenang ke tepi dan pulang. Tetapi bagaimana dengan Kirman yang tidak bisa berenang. Lalu Kirman menawarkan tawaran buat kedua temannya agar mau membawanya ke tepi sungai.
“Bagaimana kalau kau Pailut, aku kembalikan hasil mengemismu hari ini. Dan kau Bendot, tak usah belikan aku makan siang, makan malam, dan odol, sabun mandimu aku kembalikan. Asal kalian berdua bawa aku berenang ke tepi. Bagaimana? Setuju?” Kali ini berbalik, wajah Kirman yang memelas. Tetapi kedua rekannya lebih memilih berenang sendiri tanpa harus membawa Kirman.

 aHAhayya.....

Senin, 06 Juni 2011

(Hahay Story 048) PARUH BAYA

Pekerjaan menjadikan orang mempunyai kesibukan dan berwacana baik tentang mengisi waktu. Sebagai pengusaha daur ulang sampah atau peternak ikan air tawar adalah  gawai yang halal. Kedua pekerjaan itu telah merubah ekonomi pak Sato dan Rakusih. Rakusih yang hidupnya mulai membaik setelah menjadi pengusaha daur ulang sampah, baik itu pelastik, kertas, atau juga kaleng. Pak Sato adalah peternak ikan, di kolam-kolam miliknya ada ikan lele, bawal, mas, dan gurami. Sekarang keduanya terkenal makmur, sukses mengurusi bisnisnya dan sukses pula di kampung ini, kampung yang bersebelahan dengan pasar dan kaum yang menempati hidupnya berkutat di bawah jembatan layang.
Sore itu keduanya tengah bercengkrama di kebun di sebelah kolam-kolam milik pak Sato. Keduanya sudah cukup umur, tuiiiiir. Berkelakar dan bercerita tentang kepenatan sehari-hari sebagai pengusaha. Ditemani kopi dan gorengan tempe mendoan buatan bu Sato, keduanya sesekali menyeruput dan sesekali mengunyah. Duduk di hadapan kolam dan pandangan dapat langsung tertuju ke arah jalan raya tempat orang lalu lalang menuju atau kembali dari pasar. Kedua paruh baya ini tiba-tiba terkesima dengan sesosok aduhai lewat lintas di hadapan mereka, perempuan muda berbusana minim, berkulit putih dan berambut merah bluceri (bule ngecet sendiri). Ketika mengangkat tangannya merapikan rambutnya, ketiak sang gadis pun tersibak, terlihat bersih dan segar. Kedua paruh baya menelan ludah, dan keduanya terkejut ketika istri pak Sato keluar menghantarkan singkong rebus dengan ditaburi parutan kelapa. Gelagapan salah tingkah.
“Ayo dimakan pak Kusih.” Bu Sato menyuguhkan di atas meja bambu, kedua paruh baya itu berusaha bersikap wajar seperti tidak ada kejadian apa-apa.
“Kenapa kalian berdua seperti gugup? Kok tiba-tiba jadi diam, senyap begitu saja?” tanya bu Sato yang sebenarnya sudah tahu saat sebelum tiba di hadapan keduanya ia juga memperhatikan wanita tadi.
“Ah tidak kenapa-napa, bu.” Jawab Rakusih sambil memperbaiki posisi duduknya dan berusaha tampil wajar.
“Oh ya, Sih! TV di rumah sudah diganti yang baru belum?” Giliran pak Sato berusaha mengalihkan pembicaraan. Rakusih yang ditanya masalah TV-nya malah kebingungan. Kepalanya kekanan kekiri keatas kebawah. Lalu seperti mengerti sendiri maksud tujuan Sato menanyakan perihal TV adalah pertanyaan kiasan. Rakusih mengangguk-angguk kencang dan menjawab tegas.
“Oh ya TV. TV…. ehem, TV di rumah masih bagus, masih 45 inch, suaranya masih kuenceng, cuma kadang-kadang remotnya gak nyambung. Yah cuma remotnya doang.” Jawab Rakusih sambil mengangguk-angguk. Bu Sato mengkernyitkan dahi hingga kedua goresan celak alis mata menyatu menjadi satu garis lurus. Bu Sato bingung, lalu ia mengambil bangku dan duduk di sebelah pak Sato.
“Oh bagus lah kalo begitu. Tapi gak ganti TV baru kaaaan?” Tanya pak Sato lagi.
“Emangnya TV mu kenapa Kusih?” Tanya bu Sato menimpali pertanyaan lalu menyuruput teh manis hangat. Udara di sore itu sejuk bukan main karena siangnya baru turun hujan.
“Ohhh oh oh, ndak apa-apa. TV di rumah masih TV cembung bu. Cuma gambarnya sering rusak dan suaranya sering melengking. Dan masih TV yang lama.”
“He he he.” Rakusih dan Sato cengengesan menahan geli, bahkan menahan tawa ngakak dihadapan bu Sato. Sementara ibu Sato hanya manggut-manggut.
“Pak Sato sendiri sudah punya TV baru lagi. Maksud saya nambah TV baru lagi?” Gantian pak Rakusih yang bertanya. Mendapat pertanyaan begitu Sato gelagapan karena ada bu Sato di sebelahnya.
“Ah kami tidak suka menonton TV berlama-lama. TV kami masih yang dulu.” Bu Sato yang menjawab. Pak Sato mengangguk-angguk kencang sambil menunjuk-nunjukan jari jempolnya ke arah Rakusih, Sato senang dengan jawaban istrinya. Rakusih cengengesan sendirian, dalam hatinya memaki-maki Sato, “mampus lu Sato!”
Sato manggut-manggut menyeringai menyombongkan diri. Selamat fikirnya.
“Hape kamu sekarang ada berapa?” Tanya pak Sato giliran bertanya pada Rakusih. Rakusih kaget lagi dengan pertanyaan Sato tersebut, karena sungkan dengan bu Sato ia menjawab penuh kehati-hatian.
“Ah handphone saya masih ada tiga. Rencananya mau nambah satu lagi.” Rakusih pongah dengan raihannya.
“Wah hebat yah kamu.” Bu Sato memuji.
“Hhuh.” Sato mencibir.
“Kamu sendiri punya berapa Sato?” Tanya Rakusih dengan mengalun, pertanyaan yang sarat sindiran. Sato menengadahkan kepala mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Aku sih cuma dua tapi tiga bulan sekali ganti dengan model baru. Yang chasisnya ramping-ramping dan baterenya tahan lama.” Kepala Sato manggut-manggut senang bisa membalas, sedangkan Rakusih tangannya gatal kepingin menggaruk mukanya Sato.
“Ah kalo begitu aku pamit dulu. Lain kali, lain waktu, aku main lagi. Makasih jamuannnya wahai sahabat ubananku.” Rakusih yang selalu mengecat rambutnya agar tampak selalu hitam menyindir rambut Sato yang belang-belang menyilang, rapi seperti zebra-cross.
“Ha ha ha. Iya iya.” Jawab bu Sato tersenyum senang.
“Gih sana!” Sato kesal. Tapi keduanya sahabat kental, saling menyindir dan saling merindukan.
Rakusih berjalan pongah keluar dari kebun milik pak Sato, berjalan ke arah pasar.

Sepuluh hari sebelumnya. Di tempat pengolahan daur ulang, lapak milik Rakusih. Keduanya tengah bercengkrama membincangkan tentang istri dan selingkuhan. Mereka berkias membandingkan diri, mengibaratkan istri itu bagaikan TV dan selingkuhan itu ibarat handphone. Kalau lagi tidak punya uang enakan nonton TV di rumah, sedangkan kalau lagi punya banyak uang enakan jalan-jalan bawa handphone. Kalau TV lagi kumat biasanya hanya diservis atau dibiarkan membaik sendiri. Kalau hape lagi kumat mendingan cari hape yang keluaran baru dan masih orisinil.
Keduanya terkekeh-kekeh, pemuda paruh baya, uzur dan gaul. Sedang asyik membagi tips dan kebolehan. Saran terbaik hari itu adalah, “Jangan sekali-kali meletakan handphone bersebelahan dengan TV. Karena radiasi handphone bisa mengakibatkan layar TV rusak, suara TV-nya akan putus-putus, atau bahkan tabungnya bisa meledak. Jadi…. Jauhkan hape mu dari TV..!”
“Hua ha ha ha ha ha.” Keduanya terbahak-bahak.  
 Ahayyya....

Minggu, 29 Mei 2011

KENDARA 2


BERKENDARA dengan apa saja adalah memudahkan anda mencapai tujuan. Sehebat apapun anda mengendarai kendaraan, secepat dan semahir apapun, anda tak akan pernah sampai jika kendaraan lain tidak memberikan jalan kepada anda. Ingat lampu merah yang menyala di kendaraan orang lain, artinya orang lain harus menginjak pedal rem dalam-dalam untuk membiarkan dan dengan keikhlasan memberikan jalan untuk anda. Atau bahkan ada yang sambil mengumpat menginjak remnya, memaki bahkan menyumpahi anda.
Jadi bukan masalah kehebatan anda sepenuhnya, tetapi telah adanya peran keikhlasan dan umpatan orang untuk memberikan anda jalan. Begitu juga lampu merah lainnya yang menghendaki anda untuk berhenti dan memberikan jalan orang lain. Anda harus berlaku sama dengan orang lain dan tidak ada keistimewaan sama sekali untuk anda, kecuali anda tengah terbaring di atas ambulans, mentri pun harus memberikan jalannya untuk keselamatan nyawa anda. Anda tidak lagi mengemudikan kendaraan anda, tetapi anda terbaring di dalam ambulan tersebut, ditandu dengan kendaraan berserine, bahkan di kawal dengan iringan kendaraan polisi. Sakit pun anda masih butuh kendara.
Tetapi hari ini aku mendapati banyak kendara-kendara yang dikemudikan oleh orang-orang yang tak peduli dengan pengendara lainnya. Berusaha menyalip atau bahkan menyerempet. Pelajaran berharga hari ini adalah seorang polisi yang merelakan hati demi tugasnya mengatur kendaraan itu, datang menolongku yang kebetulan kendaraanku terhenti akibat kecelakaan kecil. Barang-barangku yang tercecer sebagian tergilas kendaraan lain yang tidak mau menghentikan laju rodanya, tetapi sebagian lainnya berhenti lantaran ada seseorang berseragam polisi menghentikannya, dan polisi itu membantuku.
Alangkah tidak pedulinya orang lain atas orang lainnya. Tak ada satu pun yang berhenti membantuku, memang sih itu tugas polisi tetapi setidaknya ada satu orang saja yang mau membantu itu sudah cukup bagiku untuk menggugurkan penilaian negativ atas keegoisan dan kehidupan individualis orang-orang Jakarta.
Aku mungkin terlalu banyak berharap atas sesuatu yang bisa merubah orang lain untuk sedikit lebih bermurah hati, tetapi ternyata aku melawan arus dan aturan main tak tertulis.
Karena tidak ada lampu merah yang menyala di belakang kendaraan atau pada traffic light yang menghentikan laju kendaraan anda lalu bukan berarti tidak tega terhadap orang lain yang terkena musibah. Aku terpana dengan hukum alam ini. Aku memang tak hebat berkendara, tetapi lagi sial, saat ada jalan yang menggunduk membuat aku terpental. Dan selama semua hal telah dipersiapkan bukan berarti selalu tetap selamat sampai tujuan, selamanya aral dan rintangan, bahkan kerikil kecil dan biji buah kedelai pun bisa menjatuhkan kendaraan beroda delapan sekalipun.
Aku bersyukur tetap utuh dan sehat, tanpa ada cedera berarti. Tapi tidak untuk barang bawaanku sebagiannya hancur. Mungkin kemarin aku melakukan perbuatan bodoh dan culas, lalu aku mendapat ganjarannya hari ini. He he he he he...

Alhamdulillah semua selamat