Kamis, 27 Oktober 2011

“Hmmm…. Petui”


Ter-adab
bermartabat
jika tidak terdahulu memikirkan
harkat
sumpah
kali ini tetua dan petua

Petuah habis bersama kangker di kulit
Uzur menggerogoti umur

Kalau di muda mu kini terpaksa kerja keras
untuk nanti bermatabat
untuk nanti berharkat

maafkanlah
kesialanmu bukan kami yang buat
kesialanmu adalah karena kemudaanmu
petua hanya mengatur
pemudalah yang sulit diatur

eh koyong emansipasi jadi eksklusif diri
serdadu jadi pembeda kowad dan polwan
poligami vs poliandri
melawani harkat
sesama jenis atau kelainan kesehatan
bahkan tubuh pria berwajah wanita
sumpah pemudamu masih tak mewakili
karena mudik membawa nama kampung
tapi jalanan bukan mewakili

kemauan dan semangat
menyisakan kentut, tulang dan urat

mengaku.... ngaku gak loe
bersumpah.... sumpah bukan gue

putra putri
pemuda pemudi
petua petui

Menandai Hari 28-10-2011 (6 adalah cinta dan nasehat)
Hari Sumpah Pemuda
Jumat adalah hari ke 6

Selasa, 18 Oktober 2011

(Hahay Story 060) Tukang Bunga


Adul tak terfikir akan menjadi seorang tukang bunga. Awalnya ia hanya menjadi penerima bunga sisa atau bunga yang sudah dibuang orang, orang yang akan pindah rumah memberikan sisa bunganya pada Adul. Dengan sabar lalu ia memperbaiki dan menukar media tanamnya, dan wow, tumbuhlah bunga itu segar kembali. Ternyata bunga-bunga itu mengeluarkan kelopak bunga yang penuh warna-warni. Kepada sanak saudaranya yang setiap kali ia berkunjung, Adul selalu membawa bunga sebagai hadiah, dan selalu disambut hangat pemberiannya tersebut sebagai hadiah yang indah. Maka Adul berniat ingin membagikan bunga tersebut sebagai hadiah kepada setiap tamu yang datang kerumahnya.
Beberapa hari kemudian, di rumah ibunya kedatangan tamu teman ibunya yang sudah lama tidak berkunjung. Sebagai hadiah Adul memberikannya sebuah tanaman bunga segar. Betapa dengan ikhlasnya Adul membagikan bunga yang sudah sehat kembali itu, baik kepada tamu dirinya, tamu dari adiknya, atau tamu dari ibunya. Lalu teman ibunya itu dengan senang menerima bunga cantik pemberian Adul. Tiga hari kemudian teman adiknya Adul memberikan bunga untuknya. Dalam hati Adul terkesima, bahwa ia baru saja berniat membagikan dan baru saja ia membagikan satu pot bunga kepada teman ibunya maka hari ini ia mendapatkan dua pot bunga berisi enam batang tanaman yang hampir layu.
Hari-hari berikutnya demikian pula. Ia memberikan bunga kepada teman-teman ibunya. Beberapa hari kemudian salah satu teman ibunya mengirimkan Adul bunga-bunganya yang hampir mati sebagai hadiah buat Adul. Betapa terkejutnya Adul, semakin ia berniat untuk mengurangi jumlah tanaman peliharaannya malah semakin bertambah banyak pula tanaman-tanaman yang datang untuk ia perbaiki dan ia rawat. Adul lalu berfikir bahwa ia merasa ditunjuk sang Khaliq untuk menerima rahmat ini. Setiap kali ia merasa senang dan ikhlas memberi maka semakin banyak ia menerima tanggungjawab untuk merawat yang lainnya. Lama kelamaan tanamannya mulai memenuhi perkarangannya.
Karena semakin banyak tanaman itu maka semakin besar biaya perawatannya, dan untuk menutupi kebutuhannya tersebut Adul pun menjual sebagian tanamannya. Tapi tanaman itu tumbuh pesat dan dari biji-bijinya telah tumbuh benih baru. Menyadari bahwa tanaman Adul bukannya berkurang tetapi malah bertambah banyak. Karena keterbatasan halamannya Adul pun memutuskan untuk menyewa lahan agar dapat menampung semua tanaman miliknya. Dalam hitungan bulan tempat itu pun juga mulai penuh dengan tanaman hias miliknya. Melihat kesuksesan yang Adul raih ada pedagang bunga lainnya yang cemburu atas keberhasilan Adul. Menunggu disaat Adul tidak ada ditempat ia pun mencuri semua tanaman hias Adul.
Keesokan harinya ketika Adul mendapati semua tanaman hiasnya raib Adul pun sedih bukan kepalang. Biasanya Adul selalu ikhlas memberikan bunganya kepada orang-orang secara gratis, tetapi untuk pencuri itu Adul tidak bisa ikhlas. Wajar saja, siapa pun tidak bisa ikhlas jika barang kesukaannya dicuri. Hati Adul pun mulai risau, karena dari penjualan tanaman hiasnya inilah sumber pencahariannya terputus. Tak satu pun tanaman hias itu disisakan pencuri. Adul pun pulang dengan hati sedih.
Berhari-hari setelah kejadian itu, tak ada satu pun bunga yang telah raib itu terganti. Di dalam kerisauan fikirannya, Adul pun takjub dengan apa yang terjadi. Jika ia memberikan satu pot bunga dengan ikhlas maka tak butuh waktu lama ia telah mendapat kembali gantinya, bahkan dengan dua kali lipat jumlah yang ia dapat. Tetapi kali ini ia dirampok, hatinya sulit sekali untuk mengikhlaskan kehilangan tanamannya, bahkan atas kesedihannya itu ia telah mengadukannya kepada sang Khaliq, tetapi tak satu pun ada orang yang memberikan bunga untuk ia kembangkan kembali seperti dulu.
Hari berikutnya dengan lemah tanpa semangat ia pun mengunjungi lahan sewaannya tempat ia biasa berjualan bunga. Hari itu tak ada gairah sama sekali, ia hanya berniat untuk memberesi tempat itu lalu setelahnya ia segera pulang. Sesampainya ia disana ia mulai membersihkan tempat itu, disaat ia membersihkan tempat itu ada dua kaleng bekas susu yang berfungsi untuk mengganjal meja yang sudah tak berkaki. Tanpa ia sadari salah satu dari dua kaleng itu berisi benih tanaman hias yang tak sengaja ia simpan. Sambil mengangkat alas meja itu Adul tak sengaja menendang kaleng tersebut dan berbunyi kemericik sepertinya kaleng itu berisi kerikil.
Adul pun mengangkat kaleng yang bergemericik itu. Betapa terkejutnya Adul setelah ia membuka kaleng itu, ia mendapati benih yang banyak sekali untuk bisa ia tanam kembali, semua benih itu masih dalam keadaan baik dan masih bisa ia tanam. Adul pun teringat kata-kata ibunya yang memuji Adul kepada teman-teman pengajian ibunya, “Adul itu tangannya dingin kalau tanam menanam. Apa yang ia tanam kemungkinan besar pasti tumbuh!” Hidung Adul kembang kempis membayangkan pujian ibunya. Dengan semangat ia pun pulang ke rumah. Dalam hati Adul berfikir, “Ternyata tidak semua yang bisa pencuri itu ambil dari ku, ilmu pengetahuanku akan tanaman dan bibit bunga ini lah yang telah luput dari mata mereka.”
Dengan kemampuan itu lah Adul kembali menanam bunga-bunga hias itu. Awalnya dari satu bunga kembali kepada satu kaleng bibit. Walaupun sulit untuk ikhlas merelakan semua yang telah hilang tetapi tak semua yang hilang itu bisa dicuri. Yang Tuhan kembalikan itu bukan tanamannya yang hilang tetapi kemampuannya yang hampir ikut tercuri. Dengan susah payah Adul memulai kembali usaha tanaman hiasnya, kali ini ia harus lebih berhati-hati.
Ahahahayyya…

-o0o-

Selasa, 11 Oktober 2011

(Hahay Story 059) Tukang Gudeg


Dari pagi penjual gudeg belum juga laris manis, dagangannya masih banyak. Lalu datanglah seorang ibu berbaju kusam dan kumal. Ibu tersebut memesan setengah porsi, sambil merogoh dompet kainnya ia dapati uangnya hanya tinggal sedikit. Tetapi si penjual gudeg memberikan satu porsi dan ditambahkan telur bulat.
“Aku tidak memesan ini bu!” kata ibu tua kumal itu.
“Sudahlah bu, buat ibu saja. Ndak apa-apa toh.” Mbok itu tersenyum ramah, lalu ibu tadi tiba-tiba sumringah dan matanya berkaca-kaca. Menyambut sepiring makanan dengan kedua tangannya lemah karena lapar. Keesokan harinya si ibu tersebut datang dan menghadiahinya dua bunga teratai putih yang ia petik dari telaga.
Beberapa hari kemudian penjual gudeg juga kedatangan bapak tua berpakaian necis dan trendy. Walau dari usianya bisa dibilang sih sudah uzur, tapi dari penampilannya tidak bisa dibilang ia kolot, dandanannya rapi jali dan modis, ala bapak-bapak pensiunan pengusaha property. Ia memesan satu porsi lengkap dengan lauk pauknya, dan mengambil posisi duduk di pinggir tenda yang pemandangannya langsung ke view jalan raya dan pasar hiruk pikuk. Setelah menyambut sepiring makanan ia melahapnya sambil bercerita pengalaman hidupnya. Mbok penjual mendengarkan dengan baik tanpa menyela atau bertanya. Pak tua puas sekali makan di sini.
Setelah makan ia siap membayar, akan tetapi ia lupa membawa dompet, gelagapan dan salah tingkah. Melihat pak tua itu kebingungan mbok penjual gudeg tersenyum sejuk.
“Ah pak, ndak usah mbayar. Anggap saja hari ini pak’e lagi dapat ndorprais. Besok-besok datang makan disini lagi.” Suara mbok itu lembut sehingga bapak tua itu dengan elegan mengeluarkan tangannya dari sakunya.
“Ha ha ha ha. Aku merepotkan kamu yah mbak?”
“Ah ndak pa pa kok.”
“Tapi maaf aku ndak sopan, aku juga ndak punya ongkos pulang, bisa kah kau pinjamkan aku uang?” si pak tua malu-malu atas keteledorannya, maklum sudah tua pikunnya kambuh. Si mbok meminjamkan uangnya kepada orang yang belum ia kenal tapi ia mencoba berprasangka baik saja.
Keesokan harinya si bapak tua datang kembali bersama anaknya, membawa bingkisan buah-buahan sebagai hadiah. Dan ia membayar hutangnya.
“Aku datang lagi toh? Aku tidak terlalu pikun kan? He he he.” Katanya. Si mbok tertawa senang melihat pak tua juga senang.
“Aku mendoakan bapak datang lagi untuk makan disini.”
“Oh ya berapa satu porsi yang aku makan kemarin?”
“Kan kemarin adalah ndorprais mbuat bapak. He he he.”
“Ya. Ya. Ya. Baiklah. Aku pesan satu bungkus buat aku bawa pulang.”

Beberapa hari setelahnya. Warung tendanya didatangi mahasiswa yang juga merupakan pelanggan pertamanya. Hari itu masih sepi pengunjung. Mahasiswa ini membawa tas berisi laptop dan buku-buku. Ia juga baru pertama kalinya makan di sini. Sebagai seorang mahasiswa ia tampak sekali seperti seorang yang cerdas, menjadi tumpuan keluarga dan harapan bangsa, setidaknya begitulah si mbok melihatnya. Mahasiswa itu pun memesan satu porsi gudeg plus lauk-pauknya. Duduk sambil mengangkat kaki satu layaknya makan di warung penuh kebebasan dari adab sopan santun makan diatas meja makan keluarga. Lahap sekali. Wajahnya sesekali berkeringat karena kepedasan.
Setelah makan ia siap membayar. Tetapi karena uangnya pas-pasan untuk ongkos pulang maka ia memasang wajah susah dan siap memelas.
“Mbok. Maaf yah, uangku tinggal cukup buat ongkos doang. Bolehkah aku berhutang hari ini?”
Dengan senyum lembut seperti biasanya dan dengan suara sejuknya ia memberikan kejutan buat mahasiswa itu. “Ndak. Ndak usah dek. Ambil saja ndek. Anggap saja makan pertama itu hadiah dari saya buat mahasiswa. Gratis.”
“Oh ya?” mahasiswa itu takjub dengan keramahan si mbok dan rasanya seperti mendapati durian runtuh. Betapa bahagianya dan pulang dengan fikiran bergejolak seperti penuh ilham.
          Keesokan harinya, seperti biasa sepulang mengikuti mata kuliah, mahasiswa itu datang kembali. Kali ini ia membawa kawan-kawannya. Dengan wajah sumringah dan penuh perasaan seperti penolong sesama mahasiswa, ia berkata, “Ayo teman-teman, makan sepuasnya, disini untuk mahasiswa, makan untuk pertama kali di sini! GRATIS!”
“Hah???” wajah si mbok pucat melihat begitu banyaknya kawan-kawan si mahasiswa yang ia sangka tumpuan keluarga dan harapan bangsa itu.
 

Komunitas Saber


Dari nara sumber Komunitas Peduli Ranjau Paku “Saber” (Sapu Bersih), yaitu sukarelawan kota yang bergerak menyapu bersih ranjau paku sepanjang jalan (perjalanan pulang pergi rumah dan tempat kerjanya), yang sudah dua tahun bergerak memunguti ranjau ini, awalnya hanya bapak Abdul Rahim sendiri lalu diikuti Siswanto, Sanawi (etnik Tionghoa), lama kelamaan anggotanya menjadi 16 orang. Saber menyimpulkan ada beberapa jenis ranjau:
1.    Ranjau Bunglon; yaitu jenis ranjau paku yang telah disamarkan dengan cara di cat atau dibakar dengan plastik, ranjau yang dibakar dengan plastik dapat meyamarkan diri di jalan karena plastik suatu saat akan lumer.
2.    Ranjau Siluman; yaitu ranjau paku yang disembunyikan didalam bungkusan, yang sering dilakukan oleh penyebar ranjau biasanya menggunakan Koran, kresek, kotak korek api, sandal jepit bekas, potongan kayu, dll.
3.    Ranjau Stereo; yaitu ranjau paku yang berbunyi, bentuknya paku yang diberi gantungan yang bisa berbunyi, seperti botol pelastik kecil minuman yogurt atau kaleng kecil. Apabila paku menancap pada ban maka akan berbunyi, lalu pengendara yang menghentikan kendaraannya biasanya akan dirampok.
4.    Ranjau Modifikasi; ranjau ini biasanya bukan paku, bisa potongan jari-jari payung, potongan pisau cutter, semua jenis paku payung, dll.
5.    Ranjau Yang Disengaja, yaitu potongan besi kecil halus yang sengaja diselipkan di ban, lalu ban yang menggilasnya akan perlahan-lahan kehabisan angin, pelakunya biasanya beroperasi di parkiran umum yang terbuka.
6.    Ranjau Tak Sengaja, yaitu paku yang tak sengaja terjatuh saat dibeli tanpa disadari pembeli paku.
Penyebar ranjau ini biasanya bekerja untuk para pemilik bengkel tambal ban. Dan apabila anda mengadukan nasib anda pada pekerja penambal ban, anda akan salah alamat, bandit sesungguhnya ada dibelakangnya.  Peduli itu bukan nasib milik relawan saja tetapi kadang sial juga pernah menghantui mereka, Abdul Rahim pernah ditendang oleh penebar paku, Siswanto bahkan hampir saja ditabrak oleh penebar paku itu, tetapi perlawanan mereka tak pernah berhenti, apalagi kapok. “Penebar paku ini hanya sekali tertangkap Polisi tetapi sepuluh hari kemudian ia dibebaskan.” Begitu tutur Siswanto.


Jakarta, 12 10 11
Menandai hari.
-o0o-

Sastra Sufi


Sastra Sufi sempat menjadi tren di tahun 80-an, sayangnya kini tinggal kenangan. Tahun 1970-an jadi era yang amat penting bagi kesusasteraan Indonesia. Saat itulah terjadi berbagai macam pendobrakan dalam nyaris segala aspeknya. Terjadi eksplorasi tema, gaya berbahasa, teknik bercerita. Para sastrawan melakukan berbagai eksperimentasi, seperti yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kembali ke akar adalah salah satu bagian dari eksplorasi yang dilakukan itu. Para sastrawan menggali nilai-nilai tradisi dan spiritualitas dalam karya-karyanya. Penggalian terhadap spiritualitas inilah, yang kemudian melahirkan bentuk sastra sufi dalam khazanan Sastra Indonesia.
Tema-tema yang menonjol dalam sastra sufi antara lain adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan, kerinduan manusia terhadap Tuhan, rasa cinta yang besar terhadap Tuhan, juga keberadaan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.
Penyair F. Rahardi mencatat tiga nama yang konsisten mengangkat nilai-nilai sufistik dan memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sastra sufi, yakni: Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, juga Danarto. Abdul Hadi dan Sutardji membuat puisi, sementara Danarto membuat prosa-prosa dengan gaya yang mengaburkan batas antara yang nyata dan yang tak nyata.
Menurut F. Rahardi, Abdul Hadi menonjol, sebab selain berkarya ia juga kerap menuliskan pemikirannya yang mematangkan wacana sastra Sufi. “Abdul Hadi memiliki pengetahuan yang amat matang tentang sastra sufi di luar Indonesia. Ini ia gunakan untuk memformulasikan sastra sufi yang sedang marak di Indonesia,” ujarnya.
Abdul Hadi punya andil tersendiri dalam membangkitkan semangat sastra sufistik. Di tahun 1980-an Abdul Hadi mengasuh rubrik Dialog pada harian Berita Buana. Saat itu rubrik ini besama-sama dengan majalah sastra Horison jadi salah satu barometer perkembangan sastra Indonesia.
Dalam rubrik itulah ia kerap memuat puisi-puisi juga esai-esai tentang estetika sufistik. Lewat esai-esainya ia memperlihatkan tradisi panjang estetika sufistik yang sudah dikembangkan di Persia beberapa abad sebelumnya oleh para penyair semisal Jalaluddin Rumi, dan Ibn Arabi. Dicanangkan Abdul Hadi WM. Sayangnya, sastra sufistik tidak terlalu bisa diterima banyak kalangan. “Oleh masyarakat awam, sastra sufistik tidak terlalu bisa dicerna, karena gayanya yang begitu kompleks,” ujar Danarto.
Perkembangan sastra sufi di tahun 80-an menurut sastrawan yang juga perupa ini hanya merupakan kesinambungan dari gerakan sastra sufi yang dicanangkan Abdul Hadi WM. Pun para eksponennya, masih terdiri dari wajah-wajah lama seperti Abdul Hadi, Danarto sendiri, Sutardji, dan Kuntowijoyo.
Jika bentuk sastra itu bisa bertahan dan berkembang sedemikian lama, itu karena asal-muasalnya dan bentuknya yang berbeda memberikan kesempatan bagi para sastrawan untuk mengangkat nilai-nilai sufistik dalam karyanya, dengan melakukan eksplorasi seperti yang belum pernah dilakukan sebelumnya. “Para sastrawan itu menemukan keasyikan karena ada adanya hal baru yang menantang dan amat berbeda secara teknis,” ujar Danarto.
Pendapat yang sama dikemukakan Jose Rizal Manua. “Puisi sufistik adalah semacam mode yang muncul selama beberapa waktu. Memang waktu itu kemudian muncul para penyair lain semisal Leon Agusta, Zawawi Imron, kemudian Acep Zam Zam Noor di Bandung. Tapi mereka tidak sekuat Abdul Hadi. Sesudahnya tidak terlalu banyak pengaruh puisi sufistik yang dapat dirasakan dalam sastra Indonesia,” ujar Jose.
Beberapa kritikus sastra sempat melontarkan kritik kepada sastra sufi. Nirwan Arsuka mengatakan bahwa tema-tema sastra sufi sudah basi, sementara bagi Richard Oh, sastra sufi bukanlah sastra mainstream. Tapi menurut Danarto, yang perlu dicatat adalah sastra sufi yang muncul mulai tahun 1970-an adalah sesuatu yang khas Indonesia, yang juga dipicu oleh peristiwa politik 1965.
Saat ini menurut Danarto, ‘gerakan’ puisi sufistik sudah tidak ada lagi di Indonesia. “Puisi sufistik sudah jadi semacam warisan saja. Saat ini tidak ada lagi sastra sufi di dunia. Yang masih ada adalah sastra kontemporer, yang seperti sastra sufi, tidak bisa dibaca dengan menggunakan logika standar.” Danarto mengambil contoh novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.
Untuk audiens yang luas, selain tren sastra aufi, di tahun 80-an muncul pula wacana lain, tentang sastra kontekstual. Adalah Arief Budiman yang saat itu mengkritisi kecenderungan berkiblat ke Barat dalam Sastra Indonesia. Sastra Universal, demikian Arief menyebutnya tidak memiliki akar dalam realitas kehidupan Indonesia.
Menurut Arief saat itu, nilai sebuah karya sastra tidak semata-mata ditentukan oleh keindahannya, tapi juga maknanya bagi masyarakat yang jadi penikmatnya. Sastra yang baik oleh karena itu, adalah sastra yang mampu mengolah muatan lokal di dalamnya, juga berbicara dengan audiens yang seluas-luasnya. Sastra tak hanya bisa dinikmati sebagian orang dengan wacana intelektual tertentu, tapi juga harus bisa dinikmati kebanyakan orang Indonesia, seperti petani, nelayan.
Pikiran-pikiran Arief dan perdebatan sastra kontekstual ini mendapatkan cukup banyak perhatian, dan mengundang perdebatan yang cukup meluas di kalangan sastrawan. Ariel Heryanto kemudian mengabadikan salah satu perdebatan yang seru ini dalam buku Perdebatan Sastra Kontekstual (1985).
Menurut F. Rahardi, konsep tentang Sastra Kontekstual sendiri adalah sesuatu yang terlalu mengada-ada. “Banyak sastrawan pada masa itu, yang membuat karya tak terlalu baik, tapi ingin karyanya dibaca banyak orang. Muncullah kemudian sastra kontekstual. Dan wacana ini kurang ditunjang karya yang mampu berbicara. Hasilnya kemudian adalah sebuah gerakan yang tidak berkesinambungan.”
Menurut Rahardi, jika dibandingkan dengan perdebatan-perdebatan dalam sastra yang terjadi sebelumnya, perdebatan sastra kontekstual ini kurang memberikan manfaat. “Bandingkan dengan perdebatan yang disulut oleh Surat Kepercayaan Gelanggang, Polemik Kebudayaan, konflik antara Manikebu-Lekra. Semua perdebatan itu jauh lebih seru dan memperluas wacana dibandingkan dengan perdebatan sastra kontekstual,” kata Rahardi.
Sikap Jose Rizal tidak sekeras Rahardi dalam menyikapi masalah sastra kontekstual. “Perdebatan sastra kontekstual memang belum selesai hingga sekarang. Tapi harus diingat perdebatan adalah sesuatu yang biasa dalam berkesenian. Dan memang diperlukan agar kesenian tetap dinamis dan terus berkembang,” kata Jose.
Perdebatan ini sendiri menurut Jose menghasilkan pengaruh yang cukup besar. Pasca perdebatan sastra kontekstual muncullah para penyair dengan bentuk puisi yang unik, semisal Joko Pinurbo dan Afrizal Malna.

Jurnal Nasional, 14 September 2008
-o0o-