Selasa, 14 Februari 2012

BANGGAKAN SAJA AYAHMU

     Demi sebuah masa lalu, pasti semua anak mempunyai kenangan tentang ayahnya. Tetapi aku tidak memiliki banyak peringatan tentangnya, paling-paling hanya tiga atau empat momen berharga yang dapat aku kenang pasti. Kehidupan masa kecil itu memang aku ingat semua (tapi ternyata tidak, hanya yang dapat terkenang jika memiliki momen tertentu yang berharga untuk diingat, selebihnya terlupakan), bahwa aku memiliki seorang ayah yang humoris dan berwibawa di mata teman-temannya. Beliau fasih bermain gitar, bas betot, bernyanyi, bahkan jaipongan. Aku kenal jurus jaipong ayah yang jitu kalau sedang mengolok-olok ibu ku yang ngomeeeeel seharian. Atau kalau kesal nonton Dunia Dalam Berita beliau goal-goel di depan layar kaca menutupi pandangan kami semua (anak-anaknya) yang sedang menonton, itu artinya kita disuruh lekas masuk kamar dan tidur (sudah malam, bobo’ sana!).
     Aku akan menceritakan satu saja buat kalian, tentang cerita Ayahku yang juga sebagai Paman, Kakek dan Eyang Uyut kalian. Saat itu aku berumur sembilan tahun dan pekerjaan beliau waktu itu adalah Satuan Petugas Keamanan (Satpam) pada sebuah kilang minyak. Tapi tugasnya bukan hanya menjaga kilang saja, beliau menjaga semua sarana dan perumahan milik perusahaan minyak tersebut, sampai jauh ke perbatasan dengan dusun tetangga. Kota ku saat itu masih kota administratif sebelum jadi kota madya. Belum lagi jabatan kepala kompleks khusus Satpam dan juga sebagai kepala blangwir – “camp fire” (karena saat itu beliau merangkap-rangkap jabatan, dan saat itu belum semua orang ahli dalam bidang tersebut). Maklum beliau adalah sebagai veteran AD (tentara) di bagian seni tempur maka dipercayakanlah merangkap-rangkap jabatan tersebut.

 
     Malam itu kebetulan ayah mengajakku dan adikku satu-satunya naik jip dengan bak terbuka di belakangnya, ada satu buah sekop lipat, dua biji gerigen minyak isi 25 liter, dan seutas tali laso dari serabut kelapa yang aku tak tau kira-kira berapa panjangnya. Malam sudah larut, hampir jam setengah 11 malam, tapi aku diajak untuk menemani beliau dan ibuku mengijinkan kami. Dengan mengendarai jip kami diajak berpatroli berkeliling kompleks sampai ke perbatasan dengan kampung sebelah. Waktu itu hutan masih lebat, bahkan ada harimau (datuk atau si belang) yang suka masuk kedalam kompleks. Setelah mengecek semua pagar dan pintu portal jalan keluar-masuk kompleks, maka ini adalah pintu portal yang terakhir. Di luarnya ada warung minum-minum, kami singgah sebentar disana.
     Waktu menunjukan pukul 12 kurang. Kami masuk ke dalam warung lalu duduk sebaris di bangku panjang dari papan. Dalam warung berdindingkan susunan papan dan beralas tanah padat, tersusun dua meja panjang  bersaff dan satu meja kecil yang jadi imamnya tempat kasir. Di dindingnya tersusun minuman seperti rak, ada soda, limun, dan jamu dalam botol-botol bekas sirup beraneka ragam (termasuk anggur dan angker bir). Ayah memesankan dua susu soda untuk ku dan adik. Sementara ayah sendiri membeli segelas kopi susu dan sebotol anggur (berlambang orang tua berjanggut putih panjang) untuk dibawa pulang. Beliau berbincang-bincang dengan temannya yang juga veteran perang berambut cepak. Mereka tertawa penuh kelakar. Aku tersenyum memperhatikan. Setelah susu soda habis adikku merajuk minta pulang. Ayah menggembok portal dan kemudian mengemudikan mobil jip itu mengajak kami pulang.
     Sesampainya di rumah ternyata ibu sudah menunggu kedatangan kami. Kami duduk di ruang makan sebelah dapur. Ayah membuka botol anggur yang dibelinya lalu menuangkan kedalam 2 gelas kecil dan mengisinya setengah, kemudian diberikan kepadaku dan satunya diminum sendiri, karena (mungkin) adikku masih kecil beliau tidak memberinya. Belum sempat aku meneguknya tiba-tiba suara ibu menghardik, “Jangan kasih minuman itu nanti anakmu mabuk!” Aku terkejut, apa ini minuman memabukkan, atau sejenisnya. Lalu ayahku menjelaskan pada ibuku, “Gak apa-apa kok bu, ini biar dia enggak masuk angin.” Ibuku menggangguk saja mendengar penjelasan ayah. Setahuku (sejauh yang aku kenal) ayahku bukan seorang pemabuk, tetapi dia perokok berat.
     Setelah meneguknya memang terasa hangat sekujur tubuhku. Sementara adikku sudah tertidur di paha ayah. Malam itu ayah berwejangan buat diriku, “Kamu kalau mau nakal ingat umur! Kalau bisa jangan nakal, kalau mau nakal juga, yah nakal lah sewaktu muda, kalau sudah tua jangan nakal lagi...” dan seterusnya yang aku pun sudah tak ingat lagi, keburu ngantuk. 

 
     Nah pesan itulah yang masih ku ingat sampai sekarang ini. Memang sepanjang aku hidup tidak pernah memikirkan apa maksud dan tujuan ayah mengatakan itu. Apa karena efek minuman anggur? Aku rasa juga bukan. Karena ayah bukan pemabuk tapi menangkap orang mabuk sih sering. Setelah dewasa aku baru tau kalau minuman anggur itu memang memabukkan, tapi jamu tolak angin pun bisa memabukkan jika meminumnya berlebihan (jamu tolak angin ukuran satu sachet jika dituang penuh kedalam gelas besar lalu diteguk habis, pasti memabukkan, dada terasa panas, otak mulai limbung hilang kesimbangan). Berarti saat beliau mengatakan perihal itu beliau sedang tidak mabuk.
     Dan selama aku kecil dan tumbuh dewasa memang banyak kenakalan yang sudah aku perbuat. Dan dimana suatu saat adalah titik aku memahami kata yang diwasiatkan untukku itu, di saat itu aku harus akui wasiat itu adalah benar adanya. Aku harus berhenti menjadi anak-anak atau orang muda yang nakal. Saat menjadi orang mulai mengerti umur aku harus menjadi panutan, berarti aku harus berhenti nakal. Aku tahu ayahku perokok berat, maka aku tak mau mengikutinya agar yang manut dan mengikuti panutanku bisa memilih mana yang baik, mana pula yang nakal.
     Ayahku memang tidak banyak memberi nasehat kepada ku. Bukan karena beliau pelit nasehat tetapi beliau keburu wafat. Jadi memang tak banyak yang ku dapat langsung dari ajaran beliau. Lalu aku mencari tau siapa dan bagaimana sebenarnya ayahku. Selama pencarian itu memang ada juga nada sumbang dari teman-teman beliau yang membuat aku menangis, tetapi yang membuat aku bangga dan membahagiakan adalah jasa dan amal baik ayahku justru lebih buaaanyaak dibanding nada sumbangnya.
     Seperti halnya ayah ku, ada seorang guru yang cukup berkenan buatku untuk mencari jati diri ayah ku. Beliau adalah Husni Thamrin, seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sewaktu aku duduk di kelas lima dan enam. Saat aku menduduki kelas enam aku mulai jarang berinteraksi dengan ayah dikarenakan ayah mulai sakit-sakitan dan banyak menghabiskan sisa waktunya di rumah sakit. Pak Hussni itu mengajarkan ilmu alam dengan caranya sendiri, yakni memberikan selingan dongeng disela-sela pengajaran ilmu alam yang dikuasainya.       Menurutnya ilmu alam adalah ilmu yang menceritakan alam. Dan selalu menceritakan tentang betapa hebatnya menjadi seorang anak alam yaitu anak laki-laki kecil, anak dewasa atau juga menjadi ayah. Cerita dan dongeng yang beliau ceritakan kepada kami adalah cerita yang ia karang-karang sendiri atau dari buku bacaan yang beliau baca. Tetapi itu sangat menginspirasikanku tentang pencarian sosok ayah.

 
     Jangan bayangkan beliau seperti MH Thamrin yang pahlawan itu, tetapi beliau hanya seorang guru yang bersahaja, tak pernah memberikan kami ulangan. Hanya saja kalau tidak bisa menjawab pertanyaan beliau hukumannya adalah memunguti sampah di sekitar kelas dan ruang guru. Aku sering mengacungkan tangan hanya ingin menjawab benar pertanyaan beliau tetapi selalu saja aku yang kebagian memunguti sampah. Karena ilmu alam maka alam sekitar kita harus bersih dulu baru bisa mengerti apa itu ilmu alam sebenarnya. Benar-benar jitu.
     Kedua sosok ini saling berkaitan, disaat aku mulai kurang berinteraksi lagi dengan ayah dikarenakan sakit, entah mengapa Tuhan memberikan aku sosok lain seorang ayah dalam diri Husni Thamrin, guru penakluk alam. Sayang setelah aku menamatkan sekolah dasar aku harus berpisah dengan keduanya, ayahku wafat dan pak Husni tetap mengajar di SD sedangkan aku harus naik ke SMP. Tetapi perpisahan ini adalah awal pencarian ayahku, sosok ayah, dan ayah-ayah lainnya. Semakin aku mencari apa itu ayah semakin aku menemukan siapa diriku sebenarnya.
-o0o-
Kisahku, 15022012.
Diibaratkan sebuah telur. Masa yang sempurna itu hanyalah bagian kuning telur. Gabungan antara masa tua dan masa kecil adalah bahagian dari putih telur. Dan sianya adalah ruang udara diibaratkan sebagai bagian masa hampa (kekosongan hidup).
Usia sempurna manusia itu pendek walaupun umur dianggap panjang diantara makhluk lain ciptaanNya, sisanya hanyalah kehampaan dan kealpaan bahwa diri tumbuh menjadi anak-anak dan menua.

Cerita Uyung & Amak (Sesi Hemat)

Hemat Pangkal Cerdas.

Paman sedang membersihkan goloknya dan kemudian mencuci kaki. Di belakangnya Uyung mengikuti, mencuci kaki dan sandal jepitnya yang melekat tanah lempung merah.

"Yung, apa pulsa amak kau masih ado?"
"Masih paman. Kami berusaha hemat paman! Bukankah hemat itu pangkal kaya?"
"Apa benar demikian Yung?"
"Kan kami bisa menghemat uang kami, dan uangnya bisa buat yang lain paman."
"Kalau macam tuh kapan kau nak jadi kaya, kau bilang hemat bisa buat engkau kaya?"
"Ah iyo jugak ya paman, kalau macam tuh berarti hemat bukan pangkal kaya, yak? Habis tu, apo jadinya paman?"
"Kubilang ke kau ye! Hemat itu memang pangkal kaya kalau tak de pemborosan yang merugikan. Jadi sebetulnya hemat itu menunjukan kecerdasan seseorang. Ngerti ndak kau Yung?"

Uyung mengangguk setuju sambil matanya melirik ke dahinya (hal mustahil berhasil bisa melihat kerut dahinya sendiri), berfikir keras.

-o0o-

Guru Pangkal Kaya

Uyung yang baru pulang dari kebun pamannya langsung masuk rumah tanpa mengucapkan salam. Amaknya terkejut lalu memarahi kebiasaan buruknya.
“Ada perihal apa kau terburu-buru nih?” tanya amak dengan nada yang mulai tenang karena melihat senyum Uyung mengembang. Lalu tangan Uyung menjulur memberikan upah kerja di rumah paman kepada ibunya.

“Kau terima bonus ke? Kan belum mase bergaji nih?”
“Iye mak oi. Ini upah karena Uyung bisa menjawab setiap ujian pertanyaan yang paman bagi buatku.”
“Memangnya ade upah macam tuh?”
“Ade laah mak oi. Ini buktinye.”
“Setau amak tak ade yang memperkerjakan orang untuk menjawab pertanyaan sebagai upahnya dia dibagi duit.”
“Bukan macam tu pulak mak. Setiap yang Uyung pelajari dari pelajaran yang Uyung dapat dari paman itu harus Uyung ajarkan pulak kepada Murni, Siti dan Fajri, anak-anaknya paman. Jadiiii, Uyung itu harus membagikan pulak sama mereka lalu Uyung diberi upah sama paman sebagai pengganti paman kalau tak sempat mengajarkan mereka.”
“Ah macam tuh rupanye. Maklumlaah, Yung. Amak nie kan Cuma tamatan sekolah rakyat. Untung juga ya kau, masih kecik tapi sudah setinggi ilmu paman kau tu ye?”
“Iye laah mak, kan anak Amak!”
Ha ha ha ha, keduanya tertawa penuh bahagia sambil membayangkan nantinya Uyung akan menggantikan paman dan memimpin kampung ini.

-o0o-

Minggu, 12 Februari 2012

“Catatan Akhir”

Laksana suara jeritan bocah bahagia
seperti meracau
mengatakan
jangan berjalan dibayang-bayang seseorang
mengatakan
aku akan selalu mencintaimu
mengatakan
aku tidak memiliki apa-apa
sebelumnya ia punya segalanya
tapi ia keburu tewas
dalam kamar sendirian
tanpa kerabat apalagi sobat
meregang karena kelebihan obat
tak lagi ada kata tobat
terperangkap dalam tubuh tua dengan sindrom kaya
dan dulu ternama
semua teman ingin berbagi bersama
tapi kau tak berdaya
tertulis dalam sesobek kertas
mengatakan
terbunuh sepi

-o0o-
Hari bagai cermin
12022012

“Puisi Jambu Monyet”

Tadinya puisi ku memanggil-manggil para TKI pulang
jangan pulang!
karena ijon menguasai pupuk dan bibit
belum lagi hama wereng
dan biang logistik yang celeng
kirim saja duitmu dari sana!

Tadinya puisi ku menghimbau pedagang sukses di manca negara pulang
jangan pulang!
tetaplah berdagang disana
disini banyak koruptor bangun pagi
belum lagi pungli
makelar kasus sampai makelar kakus yang bermilyar
kirim saja pitih dan money mu dari sono!

Tadinya puisi ku ini mermbujuk rayu sarjana dan pemikir sakti yang ada diluar negri pulang
jangan pulang!
karena nanti disini akan dijiplak
akan ada perbedaan visi
cakap gaji belum cakap kerja belum cakap umur
banyak manipulasi dan mark-up
kirim saja dollarmu dari situ!

untuk yang tidak mampu kirim doku
doa saja sudah cukup

-o0o-
Menandai hari 11022012 pukul 12:38 •

Kamis, 09 Februari 2012

Mahaguru dan Hujan

    Selagi berjalan-jalan dengan murid-muridnya tiba-tiba hujan menderas. Mereka pun berteduh di sebuah pendopo. Sambil bercanda dan memakan camilan yang dibawa masing-masing. Hari ini mahaguru mentraktir makan angin, hanya makan angin. Mahamuridnya selalu mau dan senang bila berjalan-jalan di alam terbuka sambil mempelajari apa saja, karena di dalam ruangan kelas seperti sangkar emas dan tiada ruang lapang untuk berimajinasi.
     Selalu saja mahamuridnya dilibatkan oleh pertanyaan mahaguru yang penuh imajiner. Ditengah percakapan mahamuridnya yang riuh mahaguru menyela dengan suara lantang memberikan pertanyaan, "Apa bedanya berilmu dan beragama?"
     Pertanyaan yang bagi mahamuridnya ini adalah pertanyaan sulit. Lalu ada yang memberanikan diri menjawab, "kalau beragama perlu ilmu kalau berilmu belum tentu perlu agama."
Suara riuh murid lainnya tengah berbincang.
     Mahaguru hanya mengangguk sambil menunjuk jarinya kepada mahamuridnya tadi dengan gaya penuh kharisma, "Bukankah orang yang penemu banyak dari orang beragama?"
     Sambil menunggu sebentar lagi hujan mereda dan menunggu mahamuridnya menjawab kuis karakter yang dibuatnya. Yang ditunggu beliau datang juga.
"Bapak, bukankah ini hanya masalah prinsipalnya antara mengamalkan dan meyakini. Bagi orang yang mencari ilmu, dia akan menemukan dan mentela'ah apa yang di-ilmukan olehnya. Ia akan mengamalkannya terlebih dahulu baru ia percaya dan yakin." Kata salah seorang mahamuridnya sambil terbatuk-batuk karena cuaca dingin. Dia terdiam sejenak.
Beliau menganggukkan kepalanya perlahan penuh percaya diri. "Lalu?"
"Sedangkan seorang yang beragama, orang itu akan percaya dan yakin terlebih dahulu, baru ia mengamalkannya."
     Mahaguru mengangguk kencang. Sepertinya beliau senang akan kemajuan amal dan ilmu mahamuridnya. Hujan makin mereda dan kelar sudah. Jalanan becek, tetapi mahaguru tetap melanjutkan langkah sambil berhati-hati menjejakkan kaki. Dibelakangnya mahamurid mengikuti.
 -o0o-
Jumat ketemu Jumat
Hujan kembali hujan
Jakarta ke Surakarta kembali ke Jakarta
Akhir Januari ke awal February, 2012

Cerita Uyung & Amak (Sesi Misteri)

Ayahnya Ayam

Uyung yang baru pulang dari ternak bang Udin langsung menyinggahkan diri ke rumah pamannya. Paman sedang menyabut sabut kelapa tua yang baru tadi pagi dipetik Uyung.
"Paman, kenapa ayam-ayam bang Udin itu bisa bertelur sendirik tanpa dikawini sama si jago?"
"Ah kau, bukan mengucapkan salam terlebeh dahulu. Apa hal kau ni?"
"Itu ayam-ayam bang Udin bertelur sendiri. Kalau tak dikawini si jago, berarti anak-anak ayam itu tak ade bapaknyo? Bukan kah begitu paman?"
"Itu kuasa Allah Yuuuung. Tidak semua binatang bisa macam tuh. Tengok cacing tu! Dia jugak bertelur tanpa ada proses pembuahan. Allah sudah berkuasa atas segala sesuatuNya, tinggal engkau lah yang berfikir."
"Oh macam itu yeee. Baeklah paman, aku nak naek ke rumah. Tengok-tengok si Murni mungkin dah siap memasak, aku lapar sekali." Uyung langsung menggowes sepedanya meluncur ke belakang rumah panggung milik pamannya.
"Aih budak sekarang nih tak ade sopan-sopannya. Tak salam. Tak terimakasih. Ilmu tuh kan mahal. Aiiih ya ya." Paman menggerutu.

-o0o-

Misteri Alam

Seperti biasa Uyung selalu ke rumah pamannya untuk memetik kelapa atau membantu paman menyiangi rumput dan ilalang. Setelah kemarin Uyung bertanya masalah ayam tanpa bapak, sekarang giliran pamannya yang bertanya sama Uyung.
“Yung kalau malam hari di langit penuh bintang, kalau siang kenapa tidak ada bintang?”
“Aha, kalau bintang itu hanya terlihat kalau gelap saja paman. Kalau siang kan terang.”
“Bukankah bintang itu menghasilkan cahaya juga, lalu kenapa malam masih gelap?”
“Mungkin karena jauh ya paman?”
“Sekarang kalau lilin menyala cahayanya dapat menerangi kamar yang gelap. Kalau lilin itu ditiup lalu mati, kemana cahayanya?”
“Paman nih pertanyaannya sulit sekali. Mana yah, aku tak tau paman.”
“Matahari itu memiliki cahaya yang tak pernah padam. Benar bintang itu jauh dan cahayanya kalah sama cahaya matahari. Kalau lilin itu padam karena lilin tak memiliki sumber cahaya yang tetap seperti matahari. Hanya saja mata kita tak bisa beradaptasi dengan gelap seperti mata beradaptasi dengan terang.”
“Oh begitu yah paman. Kalau astronot itu berada di luar angkasa saat siang atau malam yah paman?”
“Diluar atsmosphere kita sudah tidak ada siang atau malam, yang ada yaitu saat astronot terlindung dari cahaya matahari berarti sedang gelap, kalau tidak terlindung sedang terang.”

-o00o-

Senin, 06 Februari 2012

“SEkaTenAN Tenan”

Gaz mendengkur disebelah Gus di dalam becaknya masing-masing
tukang becak kagetan selama gunungan berlangsung
menertawai Muh dan Nah yang berebut berkah di sela-sela pemungut berkah
Lah ikutan latah datang dari kampung
tadinya niat nontoni pesawat take off
sementara Min digendong disusui melotot
susunya emak Gah asin bercampur peluh Min terus netek
diantara mereka hanya Sus yang jeprat-jepret
ada roh halus diantara mereka yang berebut berkah
jangan lupakan, ada setan bertanduk tujuh
keberadaan Num si copet gesit meraup laba
diam-diam dia melepaskan kentut tapi mereka kadung takut
takut ndak kebagian berkah
takut ngomong dan salah tuduh kentut itu milik siapa
aku kebayang setiap acara besar
selalu ada yang nunggu ang pao
selalu ada yang ngantri kurbanan
selalu ada yang nunggu zakat fitrah
selalu ada yang ngantri besekan
selalu ada yang nunggu sedekah
selalu ada yang ngantri saweran
selalu ada yang nunggu berkah
gunungan diantara bukit barisan
berkahnya bukan rahmatMu
sedekahnya bukan anugerahMu
Zai hanya menghantarkan aku sebagai guide
takut dituduh ia keburu menjelaskan, “hanya mengantar!”
dan Zai memaksa aku pergi
jauh dari keadaban ini
aku terpaku menatap langit panasnya berapi-api
sedangkan kemarin dingin lembab berair
hanya untuk upacara ini
katanya seseorang tengah “milad” tapi Zai takut kualat
aku setujui kepergian Zai dari sini sambil membawa aku dengan arti
sebelum pergi aku titip salam sama Sultan
sampaikan pada yang punya hajat
dirgahayu dan mulyo
salam

-o0o-
Menandai hari, di dekat Masjid Agung Surakarta 05022012

“Dewan Guru: Dari Pada Dewan Dari Pada Guru”

Anjing dewan menggogong kafilah dewan berlalu
anjing itu anjingnya sendiri
menjilat pantatnya sendiri
siapa yang sanggup melanggar aturan yang dibuat mereka sendiri
gurunya kencing berdiri murid kencing berlari
kepala sekolah seolah-olah melilitkan kaki
menjepit sendiri menahan tak membuangnya

mereka membentuk undang-undang yang mereka langgar
membuat komisi jadi legitimasi
sementara dia bersekolah diambruk tak peduli mati

mereka membeli kursi luar negri buat duduk lebih nyaman
dia menyeberang kali demi sekolah tak peduli mati

mereka membangun taman mahal dan ruang santai berkaraoke
dia menulis sambil berdiri di perkarangan sekolah tanpa pengeras suara

siapa pengajar
siapa penggoda
siapa yang mau belajar

lagi-lagi siap mati ala petualang sejati
lagi-lagi superhero banci tampil
dan lagi-lagi siap mati demi prestasi
dan lagi-lagi penunggang dan pemancing hadir

demi cita-cita bintang di langit
demi cara dan sarana konyol

-o0o-
Menandai hari 010221012

Jumat, 03 Februari 2012

“Deru Mesin Teramat Sangat Maha Besar”

jika dunia sebuah mesin besar pada bagian sebuah mesin yang lebih besar
sangat mumpuni laksana sebuah kompeni
dahsyat laksana terhubung kawat
bergerak teratur laksana terseting akur
berada di jalur laksana posisi catur
suaranya laksana mendengkur halus tak terukur

mesin tak pernah muncul dengan bagian tambahan
mereka datang dengan benda yang tepat
mereka berada di posisi yang tepat
fungsi mereka yang tepat pula
mereka utuh dan menjadi partai dari mesin lainnya
menyatu dalam semesta galaktika

bulan hiasan malam masih partai dari duniaku ini
dan duhai duniaku ini bagian matahari itu
matahari satu itu dan lainnya bersekutu dalam kumpulan bintang
dan kumpulan bintang itu partai dalam pasukan debu andromeda atau milkyway
dan begitu setiap matahari memiliki bumi lainnya

mesin-mesin yang berupa kotak musik
dikuasai sang Maha Pencipta tengah duduk diatas kursi di Arrasy sambil memandangi kotak musik itu
Ia memainkan musik kesukaan
mengumandang lagu setiap hyper kecil mili detik per second
tik tik tik tik tik tik tik tik tik
maha-super-halus nyaris tak terdengar
hanya Dia Maha Mendengar

terkesimanya aku
setelah menjadi partai dari keseluruhan kerja mesinnya
aku hanya menjadi kecil diantara bagian-bagian super-besar unit mesin ini
jauh diatas langit sana bulan, bintang, planet, meteor berukuran sangat-amat-super-duper-mega-mambo-jumbo-dumbo-huge-sekali
jadilah aku bagian yang disebut tak-ada-taik-taiknya-tiada-kentut-kentutnya
maka aku bukan kumpulan tulang belulang dari kumpulan debu angkasa-maha-raya menjadikan aku hanyalah kumpulan angin yang terbungkus daging, tulang, cairan dan kulit
dan aku telah menjadi bahan bakar mentahnya
aku juga bagian yang begitu sangat-amat-super-duper-mega-maha-haluuuuuuuus-sekali
jika aku bersujut
aku membayangkan betapa tidak ada apa-apanya diriku
jika aku menengadahkan kedua tangan keatas meminta sambil berdiri diatas gunung tertinggi
aku rasakan bahwa Arrasy itu masih jauuuuh
apa yang aku minta adalah sangat amat kecil bagiMu
apa yang aku pohonkan amat sangat remeh bagiMu
tapi tak akan Engkau izinkan
padahal aku hanya ingin memeluk bulan, memetik bintang, dan menggenggam matahari
tak pula aku egois memintanya untuk aku miliki
semua itu milikMu
aku hanya ingin berkuasa beberapa bulan saja
belum lagi doa-doaku yang lain yang telah Kau batalkan

aku kembali terkesima
betapa nyamuk, semut, lalat, cacing dan belatung
makhluk kecil yang sering mengganggu hidupku
belum lagi ganggang, amoeba, virus dan bakteri
seperti yang ku bilang
mereka bukan bagian tambahan tapi termasuk dalam bagian mesin dunia
yang nantinya memakan bangkaiku jika dikubur nanti
apa kalian tidak tau bahwa aku ini juga ciptaanNya yang sangat-amat-super-hyper-kecil-sekali
jadi tolong jangan meminta ku untuk tidak lupa dan lalai agar aku tidak menginjak kalian
aku juga bagian yang besar bagi kalian tapi teramat sangat kecil pula bagi yang lain

so
jika memang seluruh jagat raya adalah satu mesin teramat sangat maha besar
aku muncul di peradaban berbeda dan di abad berbeda
aku rela saja menjadi suku cadangnya
aku disini pasti untuk suatu alasan
pasti untuk menjadi unit bagian
pasti untuk menjadi mesin keseluruhan
aku dan kalian semua bukanlah seperti pemain cadangan sebuah tim sepakbola
tetapi menjadi bahan bakar penggerak mesin jagat semesta raya
mau itu kau pengembara
petualang
penyihir
pesulap
penyulam
penambal
pemabuk
perusak
pengajar
pengukus
pendusta
penghianat
pencuri
pengentit
pengentut
pemijat
pesuruh
pembantu
pemerkosa
pencipta
penganggur
perokok
pemulung
pemahat
pelukis
aku, kau, kalian semua, cuma unit dari unit-unit lainnya
-o0o-
Menandai hari
30012012;17:07

“Semoga”

yakini keyakinan kini
sayangi kesayangan ini
untuk harmoni bagi lestari
apa masih layak berambisi
prihatin makan nasi basi

ludahi kebusukan hati
kangkangi jeritan nurani
untuk semua kekusutan fikir
apa otak hanya berisi birahi
prihatin otak ejakulasi dini dan terkebiri

kebas hati dan mati rasa
kram otak dan lumpuh akal
untuk wafat dan tak lagi beramal
tak salah jika tak sejalan
tak benar jika tak beriman

untuk semua keindahan hati
untuk semua imajinasi
tak lagi bertanya mau dibawa kemana
sudah tidak bisa pergi lagi
kunci hati dan gembok akal
tak sanggup peduli
tak tega tepasalira
tak kuasa tepuk pundak
tak bertampuk tuk tepuk dada
nol toleransi
tarik tirai jingga
duduk diam di wajah senja
-o0o-
Menandai hari 29012012;15:10