Senin, 11 Juli 2011

(Hahay Story 054) Cerita Uyung & Amak (Sesi Sekolah)

Kehidupan sederhana selalu saja menimbulkan kebahagiaan. Tanpa harus basa-basi dan dipertentangkan perihal benar atau salah, hanyalah sebuah kasih sayanglah yang Uyung persembahkan. Hari itu, di sekolah, tengah menghadapi pelajaran matematika, Uyung tidak berhasil juga memecahkan soal matematika yang diberikan gurunya yang terkenal killer (kayak pemburu aja).

"Yung! Begini aja kamu kok tidak bisa?" tanya pak guru matematikanya.
"Yaa bapak kan udah tau, makanya bisa!" sahut Uyung yang sudah kesal tak bisa mengerjakan malah disalahkan. Bukankah guru itu harusnya sabar mengajarkannya sampai bisa.
"Tapi dulu juga bapak gak tau, Yung!
Untuk itulah bapak kan belajar dulu maka lama-lama bapak tau."
"
Tuhkan lama-lama! Makanya jangan maksa dong pak!"
"Tapi bapak gak butuh waktu lama."
"Kalo gitu gak mau ah pak. Kalo cepat tau nanti Uyung jadi guru kayak bapak. Uyung kan mau jadi vokalis grup band.
Atau jadi kepala sekolah."
-o-

Sudah beberapa hari Uyung tidak masuk sekolah karena sakit. Dan beberapa hari pula Uyung minta ijin tak masuk sekolah karena harus merawat ibunya yang sakit. Lalu ibu guru mempertanyakan tentang ketidak-absenan Uyung untuk beberapa hari tersebut.

"Yung! Kamu itu kalo gak masuk sekolah, kirim surat kek, sms kek!"
"Ah bu guru! Ibu kan tau aku gak punya hape." Bu guru melotot.
"Ya kirim surat laaah!"
"Malas ah bu, soalnya setiap aku kirim tak pernah ibu balas." Biji mata bu guru mau keluar.
-o-

Esok kan harinya Uyung akan masuk sekolah lagi setelah libur sekolah, maka Uyung mempersiapkan alat tulisnya. Setelah hitung punya hitung ternyata Uyung tidak punya alat segitiga atau siku-siku. Dalam fikirnya, Uyung harus minta sama siapa lagi, amak kan sudah belikan Uyung sepatu pasti duitnya amak habis. Terfikirlah olehnya pamannya yang baik hati. Dalam bayang-bayang angannya wajah paman tersenyum sambil menyodorkan uang buat membeli alat sekolah tersebut. Berangkatlah si Uyung ke rumah pamannya dengan mengendarai kereta angin alias sepeda.
Setibanya di rumah paman ia disambut Murni, sepupunya yang seumuran. Murni menyilahkan masuk dan langsung bertemu pamannya yang tengah asyik mengajarkan anaknya matematika. Setelah memberi salam Uyung langsung duduk di sofa tempat pamannya tengah mengajar di meja tamu tersebut.

"Yung! Apa kabar mu, amak sehat ke?"
"
Baik paman. Amak jugah sehat-sehat saje.”
“Gerangan ape kau datang kemari?”
“Hemmmm. Begini, paman. Aku kan besok masuk sekolah. Setelah aku bereskan alat-alat sekolah ternyata aku tu tak punye pengaris segitiga.”
“Ape?” paman pura-pura tak mendengar.
“Se gi ti ga. Pengaris. Itu tu paman, alat untuk menyiku.”
“Oooooh. Trus kau nak ape?”
“Aku nak paman kasih aku duit buat beli penggaris nanti aku bantu paman mengupas buah kelape.”
“Ah kalau itu kewajiban engkau. Kan tiap bulan engkau ku kasih upahnye. He he he. Bukan maksud paman hitong-hitong. Tapi tak usah mengupas kelape, sebagai gantinye bagaimane kalau aku tes engkau matematika, bagaimane? Setuju?”
“Ohya, siape takut!”
“Hah itu baru si Uyung namanye. Bagus tak?
“Baguuus. Aku akan sekuat tenage ku untuk menjawabnya. ” Lalu paman memberinya selembar kertas dan sebuah pensil.
“Kau buat lah segitiga same kaki. Sekarang!”
“Siap paman.” Uyung langsung menggerakkan tangannya melukis segitiga sama kaki dengan cermat.
“Nih paman udah jadi pun.”
“Ah kau ini tak mengerti ke? Kan aku sudah bilang buat segitiga same kaki, tapi apa yang kau buat ni?” Uyung memperhatikan gambar yang dibuatnya, diputar-putar kertas tersebut,ke kanan ke kiri, rasa-rasanya gambarnya sudah betul, yaitu segitiga sama kaki.
“Tapi ini kan segitiga same kaki, pamaaan?”
“Ulang. Buat lagi segitiga same kaki. Sekarang!” lalu uyung bergegas membuat ulang segitiga sama kaki satu lagi buat pamannya. Semua ini demi sebuat alat tulis.
“Hah. Dah jadi pun. Ni die paman, segitige same kaki.”
“Ah kau ni Yung.”
“Ah juga paman.”
“Ha ha ha. Sekarang kau dengarkan perintah aku sekali lagi. Buatlah segitiga same kaki. Sekarang!”Uyung berfikir keras. Setelah beberapa menit akhirnya Uyung mendapat pencerahan. Aha! Lalu Uyung melukis segitiga dengan mempergunakan kakinya. Penuh kehati-hatian Uyung pun mulai melukis sebuah segitiga tak beraturan. Segitiga yang ia lukis dengan kakinya.
“Nih paman! Dah jadi nya segitige yang aku lukis dengan kaki.”
 “Syabas Uyung. Brilian! Kau anak hebat. Cerdas itu bukan dari kata-kata saje tapi dari perbuatan.” Paman mengambil uang ribuan sebanyak sepuluh lembar lalu diberikannya kepada Uyung.
“Paman aku hanya butuh tujuh ribu saje. Nih tiga ribunye.”
“Tak usah lah, buat kau saje, kau tabung atau nanti kalau dah banyak kan kau tak usah mintak same aku lagi, kau bisa belik sendiri yang kau butuh. Itu lebih hebat dari pada kau mintak same aku. Tapi jangan lupa besok kau kupas buah kelape yang baru dipetik kemarin. Kita harus punya usaha buat kita jadi laki-laki sejati. Ingat kau itu Yung!”
“Siap paman. Uyung pulang dulu ye. Makasih ya paman.”

-o-

Sedari tadi Murni yang mengintip sambil tersenyum, melihat langkah Uyung bagai Hang Tuah, yakni bagai tokoh dalam kisah yang diceritakan ayahnya. Murni bangga dengan keberhasilan Uyung telah lulus ujian dari ayahnya. Setibanya Uyung di depan teras Murni menghampiri dengan sebuah bungkusan.
“Hai Murni, kau main-mainlah ke rumah?” Wajah cerah Uyung yang mengajaknya untuk singgah ke rumah amak.
“Iye lah. Lain kali. Ini ada gulai jengkol kesukaan kau. Aku mintakan sama amak’ku, khusus buat kau dan amak di rumah.”
“Makasih ye Murni. Jangan lupe kau tu.”bungkusan itu ia gantung di stang sepedanya.
“Ape tuh Yung?”
“Maeeeen ke ru mah! Oke nona!"
“Yung kalau di sekolah jangan lupa kau bawakan aku onde-onde buatan amak kau tu ye. Atau kue talam juge tak ape, nanti aku bantu kau menjualkannye.”
“He he he. Kau ni, asyik aje nak bantu aku jual ke. Tak penat ke kau ni?”
“Aku nak bantu aje.” Murni tersenyum malu-malu.
“Haa, iye lah. He he he.” Sambil mengayuh sepeda Uyung tertawa senang,hari ini adalah hari penuh kesenangan.
 
Kesenangan  hari ini adalah ia bisa beli penggaris, dan hari ini pula ia makan gulai jengkol kesukaannya. Tetapi diluar semua itu hari ini adalah hari kemenangannya mengalahkan ujian paman yang dianggapnya orangtua keduanya, juga hari ini ia percaya bahwa yang memasak gulai jengkol pasti Murni sendiri. Betapa hebatnya perempuan-perempuan itu, hanya amak dan Murni lah yang tau kesukaan Uyung.

Minggu, 10 Juli 2011

(Hahay Story 053) OJEK SETAN


Togar orang yang baru sampai di Jakarta. Setibanya di terminal ia dijemput opung untuk menginap dirumahnya. Bosan terus-terusan di rumah, ia bermaksud main ke rumah temannya yang ada di Jakarta, sama opungnya ia diberi bekal dan ongkos. Lalu opung pun memberikan petunjuk menuju alamat yang dicari.
“Dari sini kau naek bus nomor sekian, lalu berhenti di tempat ini, kau liat ada gedung AO, kau turunlah di situ. Setelah itu kau naek angkot nomor sekian pulak. Habiz itu kau turun disana. Di depan gedung terkenal AU, kau turun pulak disitu. Dari situ kau jalan kaki sazalah. Sampainya kau di alamat itu.”
“Sudah sampai aku yah opung?”
“Yah belum, tapi kau tanya-tanya laaah. Ingat! Malu bertanya sesat dijalan.”
“Tanya siapa saja orang pazti tau yah opung.” Opung mengangguk yakin. Wajah si Togar penuh keraguan tapi yakin juga mau pergi ke tempat temannya itu. Tekadnya telah bulat. Togar tersenyum.
“Oh ya Togar, kalau kau bingung-bingung, daripada kau tersesat, lebih baik kau naik ojek aja. Ojek di Jakarta 24 jam tersedia.” Wajah Togar sumringah, mengangguk penuh percaya diri.
Keesokan harinya, Togar siap berangkat dengan sebuah catatan instruksi yang diberikan opung. Harus naik apa dan turunnya dimana. Instruksi pertama naik bus nomor sekian dan turun didepan gedung AO. Maka naiklah Togar kedalam bus dan duduk disebelah ibu-ibu yang memakai parfum tebal sehingga menusuk hidung Togar. Duduk di dekat pintu biar bisa melihat keluar kaca jendela, sebelum membayar kepada kenek ia berpesan agar diturunkan di depan gedung AO. Perjalanan ternyata macet panjang, perjalanan masih jauh dan melelahkan, Togar merasa belum sampai-sampai juga ke tujuan.
Baru 15 menit di dalam bus Togar mulai panik. Ia teringat pesan opungnya agar jangan malu bertanya supaya tak sesat di jalan. Bertanyalah Togar pada ibu yang berbau pewangi buatan luar negri. Ibu itu mulai tak kuasa menahan kantuknya tapi berusaha menjawab pertanyaan Togar. Katanya, “Masih jauh nak.” Togar tenang kembali. Sepuluh menit kemudian tak jua ia sampai ke tujuan. Lalu Togar membangunkan ibu itu yang sudah tenggelam dalam lelapnya. Dengan nada kesal si ibu menjawab, “Ahhh masih jauh tau! Orang baru yah!” Togar terdiam mendengar hardik si ibu yang setelah itu kembali tidur.
Sepuluh menit kemudian ia tak jua sampai ke tujuan. Melihat ibu itu tengah mendengkur Togar mengurungkan niatnya bertanya pada si ibu. “Cilaka! Itu sama saja membangunkan macan sedang tidur,” fikirnya. Ia menghampiri kenek yang sedang berdiri di pintu dan sedang menghitung uang, lalu Togar menanyakan perihal mengapa ia tak kunjung sampai ke tujuan.
“Ohhh elu mau kesono. Yah udah berdiri disini aja, bentar lagi juga nyampe.” Kata si kenek dan menyediakan tempat Togar untuk berdiri.
“Sudah dekat ya bang?” tanya Togar penuh kekhawatiran.
“Paling-paling dua belokan lagi, tunggu aja.” Setelah mendengar itu Togar lega.  
Setelah berdiri 20 menit Togar tak kuat lagi tapi tak juga sampai. Otaknya Togar penuh rasa heran. “Bang, katanya dua belokan lagi. Tadi aku hitung sudah enam belokan belum juga sampai?”
“Ya dua belokan. Belok kanan dan belok kiri.” Jawab kenek seenak udelnya. Togar dengan muka kesal tapi tak berani marah sama abang kenek yang badannya lebih besar dari dirinya.
10 menit kemudian akhirnya Togar sampai juga. Dengan dengkul yang gemetaran Togar turun dari bus, seharusnya ia bisa enak-enakan duduk di jok di bawah AC, eh malah ia berdiri di dekat pintu. Dengan perasaan penuh kesal ia turun dan menghentikan angkot nomor sekian dan nantinya berhenti di depan gedung AU, begitu petunjuk opungnya. Di dalam angkot yang tak ber AC didalamnya banyak cewek-cewek seumuran dengannya, yang bekerja di swalayan sebagai pramuniaga. Mereka bercanda saling menggoda satu dan lainnya. Togar cengengesan mendengarkan candaan mereka. Tahu-tahunya Togar kelewatan, kata supir angkotnya sudah kelewatan beberapa menit yang lalu. Togar pun turun disitu dengan wajah ketar-ketir takut tersesat di kota besar ini.
Berdiri di pinggir jalan Togar celingak-celinguk mencari nama jalan tapi tak satu pun alamat yang dituju ia temukan. Akhirnya ia ingat pesan opungnya, daripada tersesat lebih baik naik ojek saja. Dengan wajah mendapat pencerahan Togar pun mencari tukang ojek. Setelah berjalan ke pangkalan ojek, sekitar sepuluh menit berjalan kaki di bawah terik matahari Togar pun akhirnya menemukan pangkalan tukang ojek. Badannya penuh peluh, ia dahaga sekali, kemudian membeli air mineral untuk membuang dahaganya. Setelah itu ia memperhatikan satu per satu tukang ojek yang sedang mangkal, Togar memilah milih orang mana yang cocok dengan hatinya yang akan menghantarkan ke alamat. Togar memutuskan bapak-bapak yang paruh baya yang menjadi tukang ojeknya. Fikirnya, orang yang sudah tua tidak akan membohonginya. Ia menghampirinya.
“Pak tau alamat ini?” Togar menyodorkan alamat yang ada di kertas kepada bapak tua itu. Bapak tua itu menjauhkan dari matanya dan mengernyitkan dahi sambil membaca. Matanya yang mulai lamur membaca dengan seksama.
“Oh ya. Bapak tau. Emangnya ada apa nak?” setelah membacanya pak tua tukang ojek balik bertanya. Wajah Togar sumringah.
“Oh ya? Oke deh pak, hantarkan saya ke alamat itu. Ongkosnya berapa?”
“Ya sudah dua puluh ribu aja.” Togar yang gantian kernyitkan dahi uangnya hanya tinggal sedikit, setelah hitung-hitung buat ongkos pulang ternyata tidak cukup. Akhirnya Togar menawar.
“Sepuluh ribu aja deh pak?”
“Ya udah naek.” Jawab bapak tukang ojek cepat. Tanpa ada proses banding lagi bapak itu menyetujui. Togar merasa menang bisa menawar dan memotong separuh harga ongkos ojek, begitu mudahnya tawar-menawar harga di kota besar seperti Jakarta, ibukota tercinta ini. Dengan tersenyum cerah Togar langsung naek ke motor bebek tua milik tukang ojek.
Dengan berusaha duduk nyaman Togar siap meluncur. Bapak tua mengemudikan motornya dengan hati-hati, hanya dengan kecepatan 20 km/jam. Fikirnya, betapa sopannya tukang ojek disini, jalan penuh kehati-hatian agar jangan kecebur ke kali. Meluncur membelok di prapatan yang berada di sebelah pangkalan ojek. Dari paraptan melewati sekitar empat rumah motor ojek pun berhenti.
“Kok berhenti pak?” Togar heran dan tetap duduk di jok belakang.
“Ini sudah sampai nak!”
“Hah?”
“Ya ini sudah sampai. Turunlah!”
“Haaaaah?” Tanya Togar lagi.
“He eh!” dengan setengah menghardik bapak tua menyuruhnya turun.
“Kalau tau dekat begini aku tak harus naek ojek pak?”
“Tapi kan tadi kau tanya, bisa menghantarkan ke alamat? Ya sudah bapak hantarkan.” Togar bergegas turun dari motor.
“Haaaaaaaaaaaaaaaah?” Togar menambahkan wajah kesalnya ke hadapan wajah bapak tua tukang ojek.
Dengan berat hati ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari saku celananya, Togar membayar ongkos ojeknya dengan rasa tidak ikhlas, dengan wajah penuh dendam. Kemudian bapak tua itu meluncur dengan kencang. Ternyata motornya bisa ngebut juga. Asap motornya yang tebal menyemprot ke muka Togar. Naiklah gondok Togar sampai ke tenggorokan. Dengan mengepal tinjunya dan penuh amarah Togar menjerit.
“Dasaaar Ojek Setaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnn!”
Eh motor tua itu berhenti dan memutar kembali ke arah Togar. Lalu menghampirinya sembari pak tua itu berkata, “Ini Jakarta bung!”
Kemudian bapak tua itu menyalip, memutar motornya dengan kencang bak pembalap, asap hitam penuh timbal dan udara kotor mengebul ke udara. Togar diam ketakutan memeluk erat tas gendongnya.

 hahayayayay

Sabtu, 02 Juli 2011

Chapter 1 Sita Mencari Ayah - Prediksi Sebuah Kematian

PREDIKSI SEBUAH KEMATIAN

(Beberapa saat sebelumnya.)

Rumah sakit ini penuh sesak didatangi pasien, maklum rumah sakit terbesar di kota kecil. Saat inilah aku datang untuk mengecek kelainan dalam pernafasanku yang terkadang sesak mendadak dan juga terkadang sulit tidur, karena punggungku akhir-akhir ini terasa panas dan kepala gampang sekali cenat-cenut. Dokter yang know me so well adalah Dokter Zakaria, sahabat sekaligus musuh sewaktu merebutkan mantan pacarku, sekarang sudah ku peristri.
Sebelum aku masuk menjumpai sahabat yang dokter spesialis penyakit dalam, ia tengah mendebatkan penyakit seorang lelaki tua renta yang terkena penyakit jantung. Setelah itu namaku dipanggil juru rawat, seorang laki-laki bertubuh gemuk berlari ingin masuk dan kami bertubrukan di depan pintu. Kami berdua terjatuh dan aku menggerutu karena kesal. Ia berdiri dengan rasa amarah, yang nabrak dia yang marah juga dia. Aku ingin sekali meninju mulutnya yang bau, saat ia berbicara tercium bau gulai basi, aku terpancing emosi. Lalu aku tersadar dan berusaha sabar. Akhir-akhir ini memang kesabaranku mulai berkurang.
Dengan penuh kesal dan dendam aku mengambil hasil ronsen yang terjatuh. Aku berusaha  menunjukan nomor urut dengan nada perlahan seperti orang menahan buang kentut, lelaki gendut itu menjawab dengan marah-marah karena merasa nomor urutnya terlewati, itu karena beliau kebetulan kekamar kecil untuk membuang air besar, dan terjadi penjelasan sengit oleh juru rawat, padaku dan pada lelaki gendut berbau mulut. Aku rasa ia juga berpenyakit dalam, darah tinggi, gagal ginjal dan jantungan, kelihatan dari tubuhnya yang tidak terawat.
Beberapa saat terlewati, walhasil beliau mendapat giliran setelahku. Beliau menahan  dadanya yang sesak karena menahan sakit, jantungnya kumat. Dengan fikiran yang kesal aku masuk tanpa memperhatikan hasil ronsen yang terbawa adalah hasil ronsen tubuh lelaki gendut itu. Memang aku juga merasa terlalu mudah marah akhir-akhir ini menunjukan aku juga sebenarnya sakit.
D Zacz panggilanku buat Dokter Zakaria, ia sedikit kesal karena lelaki tua, pasien yang masuk sebelumku tidak mau pulang, dan memutuskan berlama-lama diruangan dokter, terlebih lagi dengan kegaduhan yang terjadi didepan pintu tadi, Zacz menerima kedatanganku dengan wajah agak cemberut. Setelah memeriksaku dan memeriksa hasil ronsen, maka hal mengejutkan itulah yang aku dengar saat itu. Aku divonis berpenyakit jantung yang akut dan harus melakukan pengobatan yang ekstra. Bahkan jika aku membandel maka vonis matilah yang mempercepat akhir semua rasa sakit ini. Aku keluar dari ruangan dengan rasa berat dan kepala tertenduk lesu. Selebihnya kami saling membagi, Zacz mencoba menyemangati, tidak ada keputusan dan cermat seorang dokter yang selalu benar, ia menganjurkan aku hidup sehat saja dan melaluinya dengan gembira. Bisa saja prediksi ini salah dan bahkan ada keajaiban aku bakal sembuh.
Setelah beberapa saat didalam aku berbincang-bincang, aku memutuskan untuk segera keluar dari ruangan rumah yang berbau obat ini. Setibanya di luar ruangan aku terduduk lesu di bangku antri. Untuk beberapa saat aku melamun. Lelaki yang bertubuh gemuk tadi masuk ke ruangan Zacz. Aku masih duduk lesu. Entah berapa lama aku melamun, lelaki gemuk itu telah selesai konsultasi ia keluar dengan wajah sumringah. Setelah mendengar adanya perkembangan baik dari hasil ronsen yang bukan miliknya membuat dirinya bertambah sumringah dan bersemangat lagi untuk terus tetap hidup.
Keluar dari ruangan dokter dengan langkah semangat dan rasa sakit dadanya hilang mendadak membuat aku cemburu. Tetapi aku tak menyadari ada permainan takdir Tuhan disini, yang sebenarnya aku dan lelaki gendut itu tak menyadarinya sama sekali. Alangkah bodohnya aku harus mencumburui kesehatan orang lain, fikirku. Aku bergegas bangkit dan mengemasi barang bawaanku ke dalam tas besar. Lalu segera pulang menuju rumah dimana istri dan anak-anakku lebih berharga dibanding wajah lelaki gendut itu, sekali lagi aku benar-benar ingin meninju mulutnya yang tertsenyum lebar sekeluarnya dari ruangan tadi.  

Chapter 1 Sita Mencari Ayah - Aku … Seseorang Yang Sekarat

Apakah perasaan anda jika anda divonis akan mengakhiri kesenangan, kebahagian, kebaikan-kebaikan, dan semua yang terlanjur anda miliki di dunia ini. Itu perasaan yang aku miliki sekarang dan untuk beberapa waktu kedepan. Tak seorang manusia pun bisa menghentikan ajalnya, begitu juga aku.
Kematian yang baik itu datang kapan saja. Aku mengakuinya sebagai kematian yang baik. Pada saat-saat tubuh merasa masih segar bugar dan berfikir masih akan berumur panjang tiba-tiba becak menyenggol anda membuat anda terjatuh ke sisi jalan, lalu mobil yang berlari kencang mencium pipi anda, lalu mati. Atau pada saat menikmati momen berenang-renang di tepi pantai bersama keluarga, menikmati senyum anak istri anda, entah dari mana anda tertusuk duri ikan yang berbisa, tanpa bisa tertolong lalu mati. Atau saat tengah mengejar bola dan akan mencetak gol, anda terkena serangan jantung, terjatuh lalu mati. Atau sedang mencoba-coba memperbaiki sendiri AC yang sudah jelek, lalu anda tersetrum dan mati. Atau disaat anda tengah mengantuk diatas bangku salah satu stasiun kereta karena melamunkan nasib yang tak membaik, datang angin semilir anda tertidur pulas, tiba-tiba asma anda kumat, mati juga, walaupun saat itu sedang enak-enaknya mimpi jadi orang terkaya.
Aku hanya mencermati sebuah prediksi dari seorang ahli penyakit dalam. Aku hanya duduk terpaku mendengar penjelasannya. Bahkan aku tak melakukan perlawanan baik secara ilmiah, ilmu kedokteran, ilmu gaib, atau pun perlawanan secara mental. Aku hanya mengiyakan saja dan mengakui bahwa selama akhir-akhir ini aku memang dalam keadaan tidak sehat, secara badaniah iya, tetapi bukan secara rohaniah. Yang tersisa memang spirit dan cel-cel otakku yang sedang berfikir waras, yang lainnya mulai mengalami penurunan aktifitasnya. Sejak penurunan kemampuan tubuhku ini, aku menyesal ke rumah sakit, karena begini jadinya. Aku bakal mati dalam waktu yang telah ditentukan.
Profesi Dokter terkadang buatku kagum karena kehebatannya bisa menyembuhkan penyakit. Tetapi juga aku kagumi karena profesi yang dengan mudah bisa membunuh semangat hidup orang atau bahkan membunuh nasib orang yang masih hidup. Aku ingin sekali memukul mulutnya yang berani memfonis sisa hidupku hanya tinggal sekian. Tetapi aku takut sekali nanti jumlah waktuku nanti berubah tambah pendek olehnya. Aku benar-benar belum siap untuk mati. Aku dan dokter berjanji untuk merahasiakan ini dari keluargaku dan semua orang yang aku kasihi. Masalah ini adalah hak untukku menyimpannya erat-erat.
Disaat pulang dari rumah sakit mengemudi kendaraan roda dua punyaku, aku masih menerawang jauh. Dilemma hidup mati, aku memutuskan untuk tidak pulang ke kantor lagi dan cabut melalang ke wahana kota. Perut gendutku terasa lapar, aku acuhkan saja dan terus saja berputar-putar mengelilingi kota. Akhirnya aku memutuskan untuk ke pantai saja. Karena jarak pandang bisa lebih jauh memandang bila aku menghadap laut.
Menjelang kematian seseorang berhak mempertanyakan dirinya sendiri. Bahkan sebelum orang lain mempertanyakannya. Baik itu disaat aku masih hidup atau yang lebih buruk lagi sesudah aku mati. Orang-orang akan menggunjingkan keburukan-keburukan hidup yang aku jalani. Atau apakah orang akan menghargai kematian aku dengan menghadiri pemakamanku sambil tersenyum dalam tangisan haru. Memang ajal seseorang tidak dapat di ukur secara ilmu manusia, tapi dapat di prediksi waktunya. Sekarang ajalku sudah terukur oleh waktu sesuai prediksi penyakit yang aku alami.
Sesampainya aku di tepi pantai aku menghentikan roda motor. Aku coba menikmati indahnya pantai dan pandangan yang ada di depan mataku ini saja. Aku berjalan di atas pasir tanpa sepatu dan coba berteduh pada sebatang nyiur yang tengah berbuah kelapa masih muda-muda. Aku melihatnya, buahnya masih muda pasti airnya segar bila di beri gula jawa dan beberapa potong es. Aku melepaskan pandanganku ke laut lepas, ombaknya menghempas pantai, berulang-ulang. Selalu begitu, mungkin sejak dari dulu sudah begitu. Aku tersenyum kecut, dan meletakkan sepatuku disamping nyiur tersebut.
Aku duduk di pasir lalu bersandar ke batang nyiur tersebut, membayangkan wajah istriku yang cantik dan anakku yang satu beranjak remaja, satu lagi tengah menuju dewasa. Sudah mulai berdandan mengikuti petunjuk ibunya, begini begitu. Aku tersenyum kecut lagi. Terbayang pula saat pertama merasakan betapa bahagianya hadir si buah hati. Mengakui memang istriku cantik sekali, kecantikannya menular ke kedua anak kami. Mataku mulai berkaca-kaca, angin pantai yang kering dan mengandung garam membuat mataku tambah berair. Mengalir air bening di pipiku, segera aku hapus dengan tanganku.
Setelah sekian lama aku menikmati semua yang sudah aku dapatkan di hidup ini, aku mulai menyadarinya semua akan berakhir. Aku tak mempertanyakan keajaiban Tuhan untuk memperpanjang umurku. Aku telah mengetahui betapa banyak yang telah pergi dan kalah melawan penyakit ini. Sekarang aku harus siap menerimanya bukan berarti aku menyerah. Aku hanya cukup menghabiskan sisa hidupku saja.
Aku mulai menerawang jauh, lebih jauh lagi, pada waktu sebelum seperti sekarang ini. Saat aku mengejar apa yang aku anggap itu sebagai kebahagian hidup dan kebaikan dari Tuhan untukku sebagai orang yang bergumul di dunia ini bersama dengan yang lainnya. Sama seperti yang lainnya, aku mempunyai kesalahan masa lalu, yang ingin aku lakukan saat ini adalah memperbaikinya. Atau sesuatu yang belum sempat aku lakukan tetapi telah aku janjikan. Keinginan istri dan anak-anakku.
Kenyataan itu memang terkadang membuat sesuatu luka dihati, sesuatu terhianati, sesuatu teringkari, sesuatu atas pembenaran orang yang diyakini lalu kita tercurangi dengan sesuatu yang kita anggap salah. Aku merasa terjebak dalam perasaan terlukai karena harus mati dalam waktu yang telah di tentukan. Di usiaku yang masih produktif dan mungkin masih bisa banyak yang aku lakukan. Tapi aku dipaksa harus puas dengan semua yang aku dapat sekarang ini. Aku hanya berfikir, bagaimana cara membagi kebahagiaan pada saat-saat terakhir ini saja.
Tampak dikejauhan dua anak pantai tengah asyik mencoba menaikkan layang-layang. Aku mendekatinya dan memperhatikan kedua anak itu, tak putus asa terus mencoba menaikkannya. Aku menawarkan diri untuk mencoba menaikkannya dan mengajarinya cara menaikkannya. Kami berhasil. Betapa senangnya anak-anak itu merasakan bisa menaikkan layang-layangnya, terasa seperti dulu untuk pertama kalinya aku berhasil menaikkannya. Layang-layang itu menari-nari di langit membelah udara.
Kepuasan melakukan sesuatu yang baru memang mengasyikkan, begitu kata orang yang berhasil melakukan hal-hal perdana dalam hidupnya. Untuk mengulanginya aku tak akan merasakan hal yang sama dengan perasaan saat perdana aku melakukannya dulu. Tapi kalau ingin merasakannya hal itu masih menarik dan mengasyikan sama seperti dulu itu maka cobalah rasakan dari perasaan orang lain. Aku membantunya untuk melakukannya hal itu sesuai dengan cara aku melakukannya pertama kali. Paling tidak aku ikut merasakannya, seperti saat dulu aku merasakan hal itu.
Alangkah indahnya perasaan itu. Tiba-tiba perasanku menjadi damai. Aku merasakan semangat indah itu timbul kembali. Atas dasar hal itulah aku ingin melakukan sesuatu yang dulu pernah aku lakukan dan berhasil. Aku juga ingin seseorang juga dapat merasakannya seperti apa yang aku rasakan dan perasaan itu dapat terulang kembali saat aku melakukannya bersama-sama seseorang lainnya. Atau paling tidak ada yang menggantikan aku untuk melakukannya. Ide yang cemerlang. Aku bergegas pulang ke rumah.

Jumat, 01 Juli 2011

KISAH SEBELUM TIDUR PANJANG


Menjadi seorang pendengar sejati kadang ada untungnya, yaitu bisa menceritakannya kembali. Ini hanya kisah ulang dari cerita orang-orang yang berbagi tanpa ada pengurangan atau dilebih-lebihkan. Tidak ada maksud menakut-nakuti atau menyinggung seseorang pun, yang diceritakan disini adalah buah hasil dari pendengar sejati.
Tadinya hanya ingin mencermatinya saja bukan untuk di share sama yang lain. Tapi kok tiba-tiba aku tersentuh dengan sebuah kata wasilah. Maka berikut ini mengalir saja sesuai dengan ingatan seadanya. Semuanya seingatnya saja. Sungguh tak dilebih-lebihkan. sama yang lain. Tapi kok tiba-tiba aku tersentuh dengan sebuah kata wasilah. Maka berikut ini mengalir saja sesuai dengan ingatan seadanya. Semuanya seingatnya saja. Sungguh tak dilebih-lebihkan.
-o0o-
UJIAN
Sebuah pengalaman seorang ibu yang berusaha mengobati anaknya yang kesurupan. Diceritakan kepadaku oleh ibu itu, kejadian dimana negeri ini belum ada listrik, jaman baru saja merdeka. Tinggal di kampung dan berpenghuni ramai. Anaknya kesurupan di salah satu tempat yang oleh penduduk sekitar dianggap angker. Bersama teman-temannya anak tersebut main di tempat itu, tetapi hanya dial ah yang kesurupan di sana.
Setelah berjuang berhari-hari hingga bulan-bulanan, mencari kepada orang pintar bahkan kepada orang ahli ibadah, tetapi tak ada satu pun yang mampu mengobati sakit anaknya. Lalu ia mendapat anugerah pencerahan, ia mengobati anaknya sendiri melalui shalat semalaman tanpa keluar kamar, sejak magrib sampai waktu yang tidak ia tentukan, hanya berwasiat agar tidak ada satu orang pun yang masuk dan mengganggu. Walhasil ibu berhasil mengobati anaknya yang telah kesurupan selama berhari-hari. Memohon kesembuhan anaknya secara langsung pada sang Khaliq.
Tetapi setelah kesembuhan anaknya lalu anak tetangganya yang kemudian kesurupan. Ternyata penyakit itu berpindah ke orang lain dalam satu kampung itu. Lalu warga kampung menghusir ibu tersebut bersama keluarganya, menganggap bahwa ibu itu adalah dukun dan pembawa kesialan. Maka hijrahnya beliau bersama keluarganya meninggalkan kampung tersayang.
Maka mencermati tentang nasehat H. Muttafaq Alaih, H.R. Bukhari dan Muslim, serta H.R. Tarmudzi. Ketiganya menasehati hal yang serupa tentang sebuah ujian. Setelah seorang yang lulus ujian, maka belum tentu tidak akan diuji kembali. Sesuai dengan maknanya, lulus ujian karena kemampuan seseorang untuk lulus ujian dan mencermati ujiannya, maka tingkatannya pun akan berbeda-beda setiap orang yang menerima ujiannya. Seperti ibu tersebut setelah lepas dari ujian satu lalu menghadapi ujian lainnya maka ia akan dinaikan tingkatannya oleh Allah. Tetapi berbeda dengan warga kampung yang tidak siap menerima ujiannya. Berikut nasehat ketiganya;
“Tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa gangguan, semacam tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu dihapuskan Allah perbuatan buruknya serta digugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang mengugurkan daun-daunnya.” Tutur H. Muttafaq Alaih.
“Tidak ada mushibat yang menimpa seperti keletihan, kelesuan, sakit, duka, susah atau gangguan tusukan duri sekalipun, melainkan dihapuskan Allah sebagian dari dosanya.” Tutur , H.R. Bukhari dan Muslim.
“Ujian yang tiada henti-hentinya menimpa kaum Mu’minin, pria atau wanita, yang menimpa dirinya, hartanya, anaknya,tetapi ia tetap bersabar, ia akan menemui Allah dalam keadaan tiada berdosa.” Tutur dan H.R. Tarmudzi.
“Dan Kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kamilah kalian kembali.” Q.S 21 al-Anbiya; 35.

-o0o-
WASILAH WAL FADHILAH
Orang yang diutus untuk menyampaikan kabar atau berita adalah orang yang telah melihat dari luar konsep kemampuan manusia dan sosiologisnya. Kepantasan untuk menerima apa yang telah Allah beri adalah kenikmatan hakiki, tidak semua orang mendapatkan petunjuk langsung kecuali orang yang dikasihiNYa. Semua yang diberikan oleh Allah adalah sebuah kebaikan dan apabila adanya sesuatu yang buruk atau pun penyakit itu berasal dari diri sendiri. Dan tidak semua orang mampu menerima sisi buruk yang diberikan Allah adalah sebagai sebuah teguran.
Dan setelah teguran itu lalu sebuah ujian, ujian yang berupa kenikmatan atau keburukan. Ujian dan teguran itu juga bisa disampaikan Allah melalui orang-orang yang kita tidak kehendaki, berbeda kepercayaan dan bahkan dari benda yang tidak bernyawa sekalipun, semua itu hanya untuk menguji keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.
Diceritakan kepadaku oleh seorang sahabat yang menjalani pengalaman ini, tentang seorang buta yang berkehendak ingin melihat warna-warni dunia ini. Lalu bertemu dengan seseorang yang sanggup menolongnya, lalu orang itu bertanya padanya. “Apakah kau ingin sembuh atau kau ingin berobat. Jika kau kau ingin berobat kau harus bersabar di dunia ini tetapi kau akan masuk surga lebih dulu selama 500 tahun dibanding saat kau sembuh?” namun orang buta menjawab ingin sembuh. Setelah ia sembuh dibantu operasi mata cangkokan maka ia melihat indahnya dunia beserta keburukannya. Setelah ia sembuh justru ia banyak melakukan keburukan dan melukai banyak hati orang-orang. Tak lama kemudian ia meninggal dunia.
-o0o-
ZHALIM
Arti kata Zhalim menurut ahli bahasa dan kebanyakan Ulama, ialah: "... meletakan sesuatu bukan pada tempatnya yang semestinya. Baik itu mengurangi, menambah atau mengubah tempat, waktu, berat, atau letaknya." Oleh karena itu kezhaliman diartikan sebagai penyimpangan dari ketentuan, baik besar ataupun kecil.
Banyak yang merasa dirinya dizhalimi atau teraniaya secara fisiknya. Lalu orang yang menganiaya mendapatkan laknatnya dengan cepat, kemudian orang tersebut merasa ikut teraniaya pula, maka disebutkan dalam hadits, “.. bahwa sesungguhnya kebaikan itu datangnya dari Allah dan datangnya sesuatu penyakit berasal dari dirimu sendiri.” Lalu mengapa Allah mengizinkan, karena doa orang yang benar-benar teraniaya adalah doa yang didahulukan.
Orang yang menganiaya akan mendapatkan balasannya dengan cepat dan segera sesuai izin Allah, lalu orang yang menganiaya merasa dirinya ikut teraniaya dan menyalahkan Allah, sesungguhnya hal itu Allah izinkan, agar ia kembali bertaubat dan bersyukur.
Dikisahkan tentang seseorang yang menderita suatu penyakit aneh. Orang yang perutnya pernah mengeluarkan kawat, dan setiap kawat itu dikeluarkan maka kawat lainnya akan tumbuh menggantikannya. Dan kalau dipertanyakan mengapa ia bisa menderita penyakit seperti demikian, itu bukan dikarenakan penyakit itu datang dari dirinya sendiri, bukan dari tubuh orang lain. Andai saja ia mencari tahu dari dalam dirinya atau dari ingatan fikirannya, apakah ia pernah menyakiti orang lain melebihi sakitnya sekarang, bukankah Allah mengabulkan setiap doa orang yang teraniaya dan menderita.
Abu Nu’aym dalam Al-Hilyah mengatakan bahwa Mujahid berkata, “Tidak ada suatu penyakit yang diderita seorang hamba melainkan utusan Malaikat maut ada bersamanya, sehingga jika penyakit terakhir telah bersarang pada dirinya, Malaikat maut mendatangi seraya berkata, utusan demi utusan dan peringatan demi peringatan telah datang kepadamu, utusan yang memutus hubunganmu dengan dunia.”
Seorang perempuan yang sangat takut akan kematiannya. Ia sangat mencintai cucunya dan sangat takut untuk kehilangannya. Semasa hidupnya lumayan dan bercukupan hingga suatu saat sang suami mengalami kecelakaan dan melukai kemampuan otaknya. Kecelakaan itu terjadi disaat bersamaan ia bertengkar hebat dengan ibu kandungnya. Otak sang suami mengalami kemunduran dalam berfikir dan terkadang lambat mengingat sesuatu. Dan kemudian sang suami pun dianjurkan mengundurkan diri dari perusahaannya untuk menghindari kecelakaan kerja dan membahayakan orang lain.
Setelah mengundurkan diri dengan pesangon yang diterima suaminya maka keluarga itu pun hijrah ke kota lain. Disana sang suami mulai dengan pekerjaan barunya sebagai supir. Karena biasa dengan kebutuhan yang mencukupi, mereka belum siap hidup dari hasil menyupir angkot. Maka sang istri membantu ekonomi keluarga dengan berdagang, awalnya berdagang kreditan, namun lama kelamaan sang istri pun mengembangkan usahanya dengan meminjamkan uang kepada yang membutuhkan dengan bunga yang lumayan mencekik. Usaha ini menunjukan hasil.
Disaat ekonomi mulai membaik, sang suami pun menceraikannya untuk menikah dengan perempuan lain. Runtuhlah rumah tangganya, sang istri pun mulai sakit-sakitan. Usaha bunga uangnya ikut runtuh. Ia sakit-sakitan dan hidup menumpang dirumah kontrakan milik anaknya. Lalu ia mencari pengobatan kemana-mana, baik medis maupun non medis yang terjangkau. Tetapi karena hatinya tertutup, maka tak satu pun tempat yang murah seseuai koceknya ia temui. Dalam keletihan mencari pengobatan, ia telah sampai pada titik nadirnya, disaat itu datang teguran seorang sahabat yang telah lama bekerja di luar negri. Sahabat itu bagaikan setetes air dalam dahaganya, ia menasehati agar sang istri tersebut kembali ke fitrahnya, menyadari kekeliruannya selama ini.
“Orang yang butuh bantuan itu adalah orang yang prihatin. Orang prihatin adalah orang membatasi dirinya dari hal yang berlebihan. Orang membatasi dirinya adalah orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa adalah orang yang dekat dengan Allah.” Nasehat yang paling berharga yaitu dari sahabat, menyadarinya akan kesalahannya selama ini.
Disaat sakit-sakitan itu terbukalah hatinya, betapa ia telah melukai banyak hati orang lain yang membutuhkan bantuan, seperti hal dirinya saat itu. Ia menyadari bahwa ia telah melukai hati ibunya. Maka ia kembali ke dalam dirinya yang takut akan kematian. Kemudian meminta maaf kepada semua orang yang pernah ia lukai, hal telah membuatnya tenang. Disaat yang sulit itu lalu bantuan pun mengalir untuk membantunya mencari pengobatan.
-o0o-

TANDA-TANDA HUSNUL KHATIMAH

Seorang satpam didepan kantor berseberangan tentang penyakitnya. Dulu ia adalah seorang pedagang sekaligus penjaga keamanan sebuah pabrik. Suatu saat ia mengalami penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia mengeluhkan penyakit itu telah menguras tenaga, fikiran dan hartanya. Seluruh anggota keluarganya mendukung untuk kesembuhan sang ayah. Setelah berobat kesana kemari, telah ia jual hartanya, tetapi penyakit tak jua sembuh. Telah ia jual rumah, motor dan tanah miliknya, hingga tidak menyisakan harta sama sekali selain rumah kontrakan yang berisi tv berwarna satu-satunya sebagai tempat hiburannya.
Hingga suatu hari dimana suami istri ini tengah pulang dari rumah sakit menuju rumah kontrakannya. Bertemulah mereka dengan seorang ibu dari suku Nias, yang berbeda adat budayanya, berbeda agamanya, bahkan cara hidupnya. Ibu tersebut lalu mau menyembuhkan penyakit suami tersebut. Lalu ia menceritakan dalam tujuh kali pertemuannya dengan ibu tersebut, sembuhlah ia. Sekarang ia hidup dengan pas-pasan dan bahagia, ia menuturkan baru saja menghantarkan anaknya untuk menjadi satpam sebuah bank lokal. Setelah ibu yang mengobatinya tadi menyelesaikan panggilannya, lalu pergi, entah kembali ke kampungnya atau entah berkelana kemana, begitu pak satpam bertutur. Tanpa bayaran apa pun dan tanpa permintaan apa pun.
Kesembuhan itu datangnya dari orang yang tidak ia duga-duga bahkan tidak ada orang yang tahu dari mana datangnya orang itu. Walau telah berobat menghabiskan hartanya tetapi kesembuhan tak kunjung datang, tetapi hanya dengan bantuan seadanya kesembuhan itu datang.
Anas r.a. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda,
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia akan memperlakukannya (dengan baik).”
Ditanyakan, “Bagaimana Dia memperlakukannya?”
Beliau menjawab, “Dia menuntunnya untuk berbuat amal salih sebelum kematiannya.” (H.R. Turmudzi Al-Hakim).

Amr ibn al-Hamq menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Jika Allah mencintai seseorang hamba, Dia akan memberi kehormatan baginya.”
“Bagaimana Dia memberi kehormatan kepadanya?” Tanya para sahabat.
Beliau menjawab, “Dia menuntunnya untuk berbuat amal salih ketika mendekati ajalnya sehingga para tetangganya meridhainya.” (H.R. Ahmad dan Al-Hakim)
-o0o-
Semakin ikhlasnya orang akan ujian yang ia hadapi maka semakin tenanglah hati dan fikirannya. Dalam tenang semua hal bisa dilakukan dan semua perintah bisa dilaksanakan. Sebagai seorang serdadu hanya tinggal mengikuti arahan saja maka semua perang akan dimenangkan, sebegitu pula seorang hamba Allah.
 
Juni 13:30. Ahad 02072011
Ahayyay