Minggu, 15 Mei 2011

“Adakah Anda Di Barisan Itu?”


Mata-mata alap sang Elang, lapar dan gahar
siap menyergap setiap gerakan
awas diri dengan segala kemungkinan
menyanyi dan berteriak seperti hendak mewakili
mengapa mata-mata itu tak kunjung terpejam?
bukan karena lapar mereka berjuang
ada sejuta harap mengelayut di pelupuknya
ini bulan mei
dimana aku masih menyandang status mahasiswa
aku terpanggil ikut barisan
tapi aku tak meneriakan isi
berbaris di empat barisan terdepan

Di keramaian ini aku merasa sendiri
tak perlu berteriak karena aku terwakili
cukup mengangkat kaki dan menari-nari
sesekali mengepalkan tangan meninju langit
sejumlah kecil orang-orang ketakutan menawarkan air
genangan air pun menembus tenggorokan kering
basahnya menuju ruang hati
orang takut itu mengaku-aku orang pribumi
hoiiii! ini bulan mei
bukan pawai kostum dan karnaval agustusan
hanya sekali bulan mei kalian boleh partisipasi
tak perlu upacara khusus

Langkah-langkah kaki semakin berani
karena ramai mereka berani
tapi aku merasa semakin sendirian disini
barisan bercampur tak lagi murni
teriakan caci bahkan tirani
berkecamuk tangan dan kaki
seseorang mendahului melemparkan batu pada toko
pada swalayan
pada restaurant
pada ……….
milik pribumi
pribumi! pribumi! pribumi! pribumi!
pribumi! pribumi! pribumi!
pribumi! pribumi!
pribumi!
ditulisi dinding dan pintu dengan prihatin
aku membacanya
peri hati, peri hati, peri hati,
aku ternganga
perih hati
menjarah tak lagi terhenti
ini masih bulan mei

Dentuman senjata
barikade tentara
gas air mata dan air mata sungguhan
ini kah bulan mei itu?
Tak kurayakan mei-mei lainnya

Untuk sejenak aku terjaga dari mimpi
disana ada yang hangus terpanggang api
tengah mencuri mesin cuci
atau sekedar kepingan vcd
yah ini, ini, ini lah!
ini bulan mei itu
dimana ratusan orang mati
entah berguna entah sia-sia
sang Elang mati

Sekarang
ratusan hari sesudahnya
tak kunikmati bulan mei itu
walau sekarang bulan mei lagi
kau dan aku yang berada di dalam barisan itu
bercerita dengan gaya bahasa, isi cerita, dan kepentingannya
kita berbeda
untuk yang menikmati hasil
untuk yang menangisi
untuk yang memanfaatkan
untuk yang mengingkari janji
kita berbeda bhineka tunggal ika
Pancasila menyiratkan ketunggalan Tuhan Yang Maha Esa
Kita berbeda mengungkapkannya

Sekarang
untuk ratusan hari sesudahnya
buat bulan-bulan mei mendatang
parlemen berisi orang-orang yang dulu ada di barisan
pasar-pasar, rumah sakit, kantor-kantor pemerintahan, kampus-kampus
juga masih berisi orang-orang yang dulu ada di barisan
semangat reformasi tak sehebat cerita transformer
gedung parlemen tempat praktik berpolitik licik
sarjana-sarjana kembali menganggur
laboraturium kampus tak juga memadai
sudah menjadi anggota DPR baru studi ke luar negri, dulu waktu kuliah kemana aja?
ini baru bulan mei akhir sambil menunggu bulan mei tahun depan
aku tak bisa mengayuh rezeki
bahkan besok mati aku tak bisa prediksi
berkepentingankah?
penting amat kah?

Tak ada niat murni
hanya sebuah kepentingan
Nagari?
Golongan?
Partai?
Pribadi?

Bermainlah aku didepan cermin ajaib milik pak Tarno
tolong ya dibantu! tolong ya dibantu! tolong ya dibantu!
aku butuh bantuan diriku
bertanya dan berjawab

rela merogoh pajak dan jual-jual sapi?
semua bisa di jual, namanya juga makelar!

atau versi Malinda Dee?
menunggu mesin cuci gilirannya sendiri-sendiri!

atau pemukulan kolektor yang bikin mati?
Berani hutang atau mati!

atau konspirasi jabatan dan jual beli suara?
ikuti jin jawa aja: wani piro!

atau RUU yang tak jadi-jadi?
namanya juga rencana, nunggu ada yang mati!  

atau seperti merpati yang tak ingkar janji?
yah, selalu terbang tak lupa turun, terserah dimana!

atau seperti Briptu yang menari dan menyanyi?
semua orang pintar bernyanyi, apalagi kalau sudah tertangkap!  

tragedi kemanusiaan, bencana alam atau opera sabun mandi?
loe yang belum mandi! ntu baru tragedi dan bencana!
(sambil menunjuk wajah sendiri aku bertanya) gue maksud loe?

Perdamaian?
butuh uang dan komisi pemerhati, uang damai ini itu, dan damaikan dengan komisi ini itu!

Kau yang ada di barisan itu
aku masih ingat bau keringatmu
seharum semangatmu
tapi sekarang kau lupa menggosok gigi
mulut mu bau tapi bajumu wangi
jangan ingkari hati
bulan mei nanti
atau kapan-kapan bertemu lagi
aku menagih janji
jangan lupa loh!

Jakarta 13 05 2011
Menandai hari, untuk bulan mei ada yang belum kembali

Selasa, 10 Mei 2011

TERUSIK KLITIK

Tanpa sengaja aku menyaksikan dialogh antara pro kontra brainwash di salah satu TV berlogo sebuah angka dan dibaca dengan bahasa Inggris, warna logo merah, tatkala itu tengah membahas tentang “arti (harfiah) serta makna-makna dari kata dan kalimat dalam kitab (buku),” yang kebetulan dibawa oleh narasumber sebagai panduan. Dengan sekonyong-koyong aku mulai terusik topik yang unik. Walau narasumber hanya membawa beberapa buku contoh saja, tetapi tetap saja menarik untuk aku menyaksikannya. Betapa singkat dialogh tersebut hanya berdurasi 30 menit tetapi maksud dan tujuannya telah aku tangkap.
Lalu aku mencoba mencari buku cetakan lama, wal hasil aku berhasil mendapatkan hanya sebuah buku usang yang terawat baik, cetakan Januari 1954, terbitan Widjaya Djakarta. Bukunya berjudul Fiqh Islam ditulis oleh H Sulaiman Rasjid (dibaca Rasyid). Warna kertasnya mulai kecoklatan dan rapuh disana-sini. Memang hanya satu buah buku saja karena aku hanya ingin mencocokan yang aku dapat dari tontonan tersebut dengan kenyataan yang aku alami sendiri. Apa yang aku dapat disana... wow! Ternyata benar-benar pengalaman yang hebat.
Beberapa buah kata dalam harfiah bertuliskan sama dengan kata yang ada tetapi memiliki arti yang jauh berbeda dengan apa yang ada di kepala. Sebagai contoh kata ‘SALAM’ yang selama ini aku tahu adalah ucapan pembuka atau penutup, sapaan teguran dengan sesuatu yang bersifat, atau sesuatu yang tidak berwujud. Tetapi aku dapati dari buku ini arti SALAM dalam “fasal muamalat (jual-beli)” halaman 261,
Kata SALAM dalam buku tersebut yang berarti (aku tulis sama dengan yang ada di buku); “jaitu mendjual sesuatu jang tidak dilihat zatnya, hanja ditentukan dengan sifat, barang itu ada didalam pengakuan (tanggungan) sipendjual... Djadi salam ini djual beli utang dari pihak sipendjual dan kontan dari pihak sipembeli, karena wangnja telah dibajar sewaktu ‘aqad.”
Atau arti lainnya; “Rahasia Salam: Orang jang mempunjai perusahaan sering kali butuh kepada wang guna untuk keperluan perusahaan mereka, malah sewaktu-waktu sampai terhalang perusahaan lantaran kekurangan pokok, sedang pembelian dari dia akan mendapat barang jang sesuai dengan kemampuannja, pun dia sudah menolong akan kemadjuan perusahaan saudaranja, maka kepentingan tersebut Tuhan Allah adakan peraturan salam.”
Ada beberapa kata lainnya yang sifatnya benar-benar baru aku ketahui, telah memberikan aku pengetahuan baru serta wawasan tentang arti harfiah dan penyebutan kata yang sama namun berlainan arti, atau kata itu sekarang telah berubah penulisannya tetapi lebih kurang memiliki arti yang tak jauh sama dengan sekarang.
Sebagai contoh lainnya,
“Iqrar (mengaku). Iqrar: artinja mengakui akan kebenaran sesuatu jang bersangkutan dengan dirinja untuk jang lain umpama seseorang berkata: Saja mengaku bahwa saja telah minum arak, atau saja mengaku bahwa saja berutang kepada orang ini.” Halaman 281.
Sedangkan “ikrar” yang berarti lain adalah perjanjian atau persaksian tentang suatu hal. Bahkan ikrar juga disamakan dengan sumpah.
“Wadi’ah (petaruh). Berpetaruh jaitu menitipkan sesuatu barang kepada orang lain, agar dia memelihara dan mendjaganja menurut sebagaimana mestinja… Menerima petaruh; bagi orang jang pertjaja kepada dirinja bahwa dia sanggup mendjaga petaruh yang diserahkan kepadanja. Memang menerima petaruh adalah sebagian dari tolong menolong jang diingini oleh agama Islam.” Halaman 291.
Sedangkan “petaruh” yang berarti lain adalah seseorang yang melakukan taruhan atas barang atau uang terhadap permainan, pertandingan, lomba, aduan, dan lain sebagainya. Sedangkan arti (harfiah) kata taruh adalah menempatkan sesuatu barang atau benda lainnya kepada sesuatu, atau arti lainnya meletakkan (bukan letak tapi meletakan). Petaruh bisa saja diartikan orang yang meletakkan.
Dan masih banyak kata-kata baru yang aku cari di kamus bahasa Indonesia pun tidak terdapat kata-kata tersebut. Memang semuanya tak bisa aku cari perbandingannya karena keterbatasan buku petunjuk tetapi aku akan mencoba cari perbandingannya yang paling mendekati. Seperti kata “Luqatah” yang artinya barang yang didapat, dipungut, dijumpai, ditemukan, dari tempat yang tidak dipunyai oleh seorang pun juga. Luqatah ini adalah kata baru yang aku baru temui, tetapi dalam bahasa Arab mungkin telah menjadi bahasa baku, tetapi dalam bahasa Indonesia kita belum memberikan nama untuk sifat bagi barang-barang tercecer.
Sungguh menakjubkan pengalaman ini. Mungkin akan aku coba lagi mencari buku-buku lama lainnya yang akan menambahkan wawasan baru buatku. Memang seuatu yang sederhana dan ada di sekitar kita terkadang terabaikan, terkadang juga menggelitik perasaan kita untuk tersentuh, tertawa, rasa ingin tahu dan juga terobsesi seperti halnya orang yang telah tersalah-artikan sesuatu kata lalu terobsesi oleh kata-kata tersebut. Seperti halnya diriku saat ini tengah terusik klitik oleh dialogh dua narasumber yang mengagumkan itu.
Bagi anda yang mau mencoba dan mungkin bisa memberikan masukan buatku, aku siap menerimanya.
Ahay....

(Hahay Story 043) PESTA PERNIKAHAN

Sepasang pasutri Joan dan Joni, yang belum lama menempuh bahtera pernikahan, hari itu ikut menghadiri undangan nikah rekanannya. Di sebuah gedung mewah, acara berlangsung tertib dan khusyuk, sajian makanan dan iringan musik band menyanyikan lagu-lagu cinta menambah kesan kemewahan. Disana telah hadir teman-teman dan sanak saudara dari pasangan pengantin tersebut. Pengantin yang mengundang Joan dan Joni adalah sahabatnya mereka sewaktu kecil. Joan dan Joni adalah alumni di SD, SMP dan SMA yang sama, pertemuan jodoh keduanya yakni di saat reunian seangkatannya yang di adakan di Jakarta. Pernikahan mereka juga masih seumur jagung, dan masih hangat-hangatnya.
Setelah sekian lama mereka berpisah dikarenakan kesibukannya masing-masing akhirnya mereka dipertemukan di acara temu kangen itu. Sejak kecil mereka sudah saling kenal bahkan saling ejek, Joan jerawatan, atau sebaliknya, Joni gembul. Dari pertemuan itu hubungan mereka berlanjut, awalnya dari TTM lalu mesra beneran, sampai kemudian Joan menantang Joni untuk saling mengikat janji. Joni pun menyetujui proposal tersebut, kawan pun ia kawini. Berawal dari ejekan teman-temannya yang selalu menjodoh-jodohkan keduanya. Joni yang bertubuh gempal lebih pendek dari Joan. Sementara Joan adalah wanita cantik yang selalu mencuri hati Joni untuk selalu mencuri-curi waktu menatapi wajahnya dan memandangi kekaguamnya atas kecerdasan Joan. Begitu pula Joan yang sering lupa diri terpingkal-pingkal mendengar joke-joke yang Joni buat untuk menghiburnya.
Pertemuan kembali dengan teman-teman sekolahnya di acara pernikahan ini sekaligus mengobati rasa kangen mereka terhadap teman-temannya yang telah menjodohkan mereka, yang telah lama tidak bersua lagi sejak pernikahan mereka tepatnya empat tahun yang lalu. Di acara yang telah riuh itu, mereka menceritakan kepada siapa saja tentang kebahagian hidupnya telah serumah sebagai sepasang suami istri yang saling melengkapi. Sahabat mereka Tutik mendengar cerita mereka yang berbahagia telah meruntuhkan imannya. Kemudian Tutik menceritakan perihal pernikahannya yang telah usai dengan suaminya tiga tahun yang lalu karena mengetahui suaminya kawin lagi. Betapa luluhnya hati Tutik yang telah menikah selama sepuluh tahun. Keduanya memberi semangat Tutik untuk tetap tabah dan kuat menghadapi cobaan hidup.
Kemudian mereka juga menceritakan kebahagiaannya kepada sahabatnya Endang. Endang pun demikian menanggapi kegembiraan mereka dengan mengiba tangis nestapa. Sepenggal cerita rumah tangga yang menyanyat hati, Endang pun mengikuti jejak Tutik untuk menjadi single parent karena menjadi korban KDRT. Perlakuan suaminya yang mulai kasar terhadap dia dan anaknya, padahal mereka sudah tiga belas tahun menikah. Joan dan Joni saling bertatapan, bingung, dan mereka terharu mendapati temannya telah bercerai dan melakoni hidup sendiri sebagai ibu dan juga ayah bagi kedua anaknya. Seperti Tutik, perlakuan yang sama mereka berikan, menyemangati dan mendorong untuk tetap tegar.
Lalu mereka bertemu Anto, sahabat mereka yang juga nyentrik dulunya. Mereka menceritakan kebahagiaan mereka setelah menjadi suami istri. Mereka selalu menceritakan kebahagiaan mereka, karena itu adalah bentuk terima kasih buat sahabat-sahabat yang telah menjodohkan mereka selama ini. Perihal yang sama yang mereka dengar adalah perceraian dan bubar jalan. Anto memutuskan bercerai dengan istrinya karena telah memilih istri yang muda, dibandingkan dengan istrinya yang dulu istri yang ini adalah belahan jiwanya.
Kemudian mereka bertemu dengan sahabat lainnya yang hadir di pesta itu; Cindy, Fatur, Mamat, dan Iis. Begitu juga semuanya telah memutuskan berpisah dengan derita sedih dibelakang ceritanya. Saat Joan sedang mengunyah hidangan, terasa ketir di tenggorokan, lalu ia menatap Joni. Joni pun demikian. Serasa pernikahan dan kebahagian mereka yang baru beberapa tahun menikah, dibandingkan teman-temannya tak terasa ada sedikitpun kebahagiaan itu. Tetapi tak lama kemudian terdengar heboh diatas panggung, suara sepasang pengantin memberikan sumbangan lagu kenangan mereka saat berpacaran. Keketiran Joan dan Joni serasa terhibur. Lalu mereka mengingat saat-saat janji suci mereka ucapkan dulu, maka bangkit kembali semangat mereka untuk saling menyintai.
Tak lama sebelum pulang. Mereka menemukan sepasang single parents yang tengah saling pendekatan, Fatur dan Cindy. Di saat mereka tengah asyik saling mengakrabkan hati dan saling memuji satu sama lain, Joan dan Joni mengendap-ngendap, mencuri dengar apa yang mereka lakukan. Sambil cekikikan Joan dan Joni mengintip dibalik bunga-bunga taman di sekitar gedung. Sebenarnya Cindy dan Fatur dulu telah berpacaran, tetapi memilih menikahi pasangan yang lain, lalu sekarang mereka merajut kasih kembali, CLBK-KJTLK (cinta lama bersemi kembali – kalo jodoh tak lari kemana). Kemudian Joan dan Joni mengejutkan kedua sejoli yang sudah cukup umur itu. Cindy dan Fatur terkejut bukan kepalang, terlanjur basah mereka pun menyambut keduanya, bersenda gurau bersama di taman sampai langit telah di penuhi bintang gemintang.
Ketakutan Joan dan Joni memang beralasan, orang yang telah menempuh pernikahan puluhan tahun saja bisa cerai berai, apalagi pernikahan mereka yang masih seumur jagung. Tetapi semangat mereka untuk menentukan jodohnya sendiri sampai akhir hayat telah mereka ikrarkan dengan berani, dan membuang jauh keketiran tentang perpisahan itu. Dari semua temannya yang telah memutuskan bercerai lebih memilih hidup sendirian tetapi tidak dengan Cindy dan Fatur. Hanya separuh teman-temannya saja yang memilih keputusan untuk menyudahi pernikahannya, sepertiganya lainnya masih jomblo, dan sisanya mempertahankan pernikahan mereka.
Ahay...



(Hahay Story 042) Timun & Ubi Jalar Merah


Sebuah kebun milik pak tani muda tepat bersebelahan dengan hutan milik pemerintah. Lahan gambut dan subur, juga bersebelahan dengan sungai kecil berair warna kecoklatan seperti air sedu daun teh. Karena lahan gambut itulah maka warna airnya kecoklatan, tetapi bersih dan tidak berbau. Seorang petani timun bertopi jerami tengah menyiangi tanamannya dari gulma dan tumbuhan pengganggu lainnya. Sementara dilihatnya buah timun mulai membesar perlahan-lahan, tersirat senyum kegembiraan. Betapa ia menanti hari itu. Setelah ia tanam dan rawat sampai hari ini, melihat kemajuan yang menggembirakannya, buah-buah mulai menunjukan hasil. Setelah selesai menyiangi ia pun duduk di tepian pagar yang hanya tinggi satu meter. Pagar dari potongan bambu dibuatnya untuk menghindari babi hutan atau binatang lainnya agar tidak merusak tanaman. Sambil mengipas-ngipas badannya dengan topi jeraminya ia meneguk air dari botol bekas minuman mineral 1 liter.
Tapi petani itu tak menyadari bahwa selain gulma dan hama, atau binatang berkaki empat yang merusak tanaman, ada juga seorang yang tengah mengintai dari balik pagar di sebelah sisi lain kebunnya. Seorang pencuri yang telah siap menggasak habis buah timun milik petani tersebut. Seusai istirahat petani itu pun mulai mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pulang, dan esok ia siap memetik panen. Tapi sang pencuri juga telah siap sedia dengan karungnya untuk terlebih dulu memanen timun tersebut. Baru beberapa kayuh pedal sepeda, petani meninggalkan kebun, sang pencuri pun beraksi.
Pencuri dengan sangat rakus memetik timun-timun yang berukuran besar saja, ia masukan ke dalam karung. Sampai empat karung terisi penuh sang pencuri pun memindahkannya ke dalam hutan untuk ia bawa pulang melalui hutan tersebut. Dengan memikulnya pencuri itu pun berhasil memindahkan satu per satu hasil curiannya.
Keesokan harinya petani bertopi jerami itu datang kembali bersama sepeda ontel miliknya. Alangkah terkejutnya saat ia melihat sebagian besar timun yang siap panen itu telah raib. Dengan wajah sedih pak tani itu mengelilingi kebunnya, ia dapati hanya tersisa sedikit saja yang bisa ia petik dan sebagiannya lagi masih kecil-kecil. Runtuhlah imannya. Tapi pak tani tak sedikit pun memaki, atau kata cacian, amarah, dan kedengkian yang keluar mulutnya. Hanya ia berusaha menahan tangis sambil terduduk di tanah garapan yang bukan miliknya, ia hanya petani garapan saja.
Tak lama berselang sepeda mini milik anak perempuannya mendatangi beliau dengan membawa bungkusan nasi dan satu botol air minum di keranjang depan. Anak itu terkejut melihat ayahnya tengah terduduk bungkam. Tak berani mengucapkan salam ia hanya diam sambil menjinjing bawaannya. Rencananya putri kesayangannya akan membantu memetikan buah. Lalu ia menghampiri ayahnya. Sang petani lalu bangkit dari duduknya dan membuang jauh-jauh wajah muramnya, ia tersenyum menyambut putrinya. Seolah ia telah melupakan kepedihannya, ia mengajak putrinya untuk tetap memetik sebagiannya saja yang bisa mereka petik.
Setelah selesai memetik mereka pun makan bersama nasi bawaan dari rumah. Sambil makan sang ayah berkata, “Ini timun bakal buat uang sekolah kamu, jadi kita harus jual hari ini juga.” Mendengar ucapan ayahnya sang anak tersenyum saja sambil menguyah nasi. Dalam hatinya penuh pertanyaan dan ia menunggu ungkapan perasaan ayahnya perihal hilangnya buah timun mereka yang dicuri. Tapi tak satu kata pun yang terucap dari sang ayah tentang hal itu. Sampai pulang pun sang ayah tak menceritakan apa-apa, seperti tidak terjadi apa-apa.
Hanya bisa mengangkut dua karung timun, satu diletakkan di sepeda anaknya dan satu di sepeda ayahnya. Lalu sang putri naik ke sadel dan mulai mengayuh pedal. Sebelum mulai mengayuh sepedanya sang ayah memanggil dan putrinya menghentikan kayuhnya. “Besok bantu ayah memanen ubi jalar merah yah! Kan hari ini tidak banyak tenaga jadi besok kan masih kuat memanen ubi?” Pinta sang ayah. Putrinya mengangguk kencang dan tersenyum. Selain tanah garapan ini beliau juga punya tanah garapan lainnya, yang juga diijinkan tuan pemilik tanah untuk mereka garap. Keduanya tersenyum dan mulai mengayuh sepeda meninggalkan kebun.
Beberapa menit kemudian terdengar suara tangis dari balik belukar tak beberapa jauh dari kebun garapan petani tersebut. Sang pencuri tak kuasa menahan bendungan air matanya. Ia menangisi dirinya sendiri. Setelah ia menyaksikan keikhlasan petani itu dan begitu juga kasih sayang anak dan ayah, semakin bercucuranlah air matanya. Betapa ia merindukan kasih sayang ayahnya yang sekarang tengah sakit dan tak berdaya di rumah. Kedua orang tuanya sudah terlalu tua dan tak sanggup memberikan nafkah lagi buatnya. Dengan terpaksa mencuri pun ia telah melukai hatinya sendiri. Sementara petani yang tak punya tanah saja bisa memiliki kebun dan buah siap panen. Sang pencuri pun guling-gulingan di tanah sambil menangis tersedu-sedu.
Ahay....

Senin, 09 Mei 2011

(Hahay Story 041) " G A N J A "


Seorang supir dan seorang kenek truk, orang Padang tulen, sedang membawa hasil kebun dari Lampung untuk mereka jual ke pasar tradisional Bekasi. Setelah penyeberangan Bakaheuni-Merak, terus merangsek masuk ke jantung kota Banten, dilanjutkan masuk ke jalur tol Jakarta dan menuju ke Bekasi. Perjalanan yang sudah biasa dilaluinya, sudah lumrah hafal di luar kepala. Bak pribahasa Minang, “Makan tacirik minum tajamban (apa yang dimakan dan diminum pastinya akan terbuang juga, sudah menjadi hal yang lumrah, sajalah).”  
Sepanjang perjalanan tidak ada halang merintang yang begitu berarti, semua berjalan normal-normal saja. Tetapi sesampainya di pintu tol Bekasi Timur truk mulai ngadat, ndut-ndutan dan rewel. Bawaan dibelakang sarat dan sesak, berisi buah-buahan, ada pisang, petai, manggis dan durian, semua hasil tanam perkebunan khas propinsi Lampung yang mereka hantar menuju tujuannya yaitu pangsa pasar orang Bekasi. Sesuai pesanan hantaran harus sampai sebelum pagi menjelang karena semua harus siap edar pagi dini hari, dan sampai ke penjual eceran sebelum siang. Hari ini sudah mulai meranjak ke pagi, jam 23 30. Sang supir marah-marah kepada keneknya, “Lah wa’ang cek tu oli dan masin nyo?” Sang kenek menjawab dengan menjerit pula, “Alah! Sajak kapatang ndak ado masalah! Mungkin businyo!” Begitulah keduanya saling berkomunikasi.
 Sebelum melewati pintu keluar tol truk mengangguk-angguk. Ditekan pedal gas dalam-dalam, bunyi mesin meraung, tapi jalannya tetap angguk-anggukkan. Tapi mesinnya masih bisa hidup dan truk masih bisa jalan kembali, mereka meneruskan perjalanan. Sesampainya di sebuah tanjakan jembatan penyeberangan, mesin seakan meraung tak kuasa untuk menanjak. Semakin di gas suara semakin meraung tetapi truk tak jua mau mendaki seakan kehilangan kekuatan mesin pun tak kuasa menanjak. Tiba-tiba truk mundur sendiri lalu sang supir menginjak tuas rem dalam-dalam, sambil berteriak, “Ganja! Ganja! Ganja! Ambiak ganja nan gadang! Lakehlah wa’ang ko!” Sang kenek membuka pintu dan terjun dari tempat duduknya. Mengambil potongan balok yang terbungkus dengan kertas koran sang kenek bergegas meletakkannya di roda yang sedang meluncur turun. Tap, balok tepat pada waktunya menghentikan truk dari meluncur turun mundur.
Tak dinyana di dekat truknya ada seorang polisi yang tengah patroli dengan sepeda motornya. Mendengar teriakan “ganja-ganja-ganja,” dalam fikirannya pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan truk tersebut. Lalu ia menghentikan motornya di tepi jalan sebelum pendakian tepat tak jauh dari pantat truk. Ia berjalan mendekati kenek yang sedang jongkok memperhatikan mesin dari bawah truk. Sang polisi mencolek sang kenek, dan kemudian kenek menoleh ke belakang didapati sang polisi tengah berdiri tolak pinggang.
“Ado apo pak pulisi?” tanya si kenek. Mendengar suara kenek yang tengah berbicara dengan seseorang si supir menengok dari kaca spionnya. Polisi dengan ramah menyapa.
“Selamat malam pak.” Pak polisi mengangkat tangan kanannya ke jidat memberi hormat.
“Selamat malam juga pak.” Jawab si kenek sambil jongkok ia mengangkat tangan kanannya ke kuping kanannya.
“Bisa tunjukan surat-suratnya! Sedang mengangkut apa kalian? Coba di buka?” pinta pak polisi.
“Oh bisa sebentar yah pak.” Si kenek berdiri lalu meletakkan tangan kanannya di mulut kemudian ia berteriak kencang membuat pak polisi tersurut kaget.
“Oiii supir! Iko pak pulisi mintak ka mancaliak surek-surek, lakehlah!”
“Iyo! Iyo. Tunggu sakasua jo banta.” Si supir berkelakar dan terkikih perlahan di depan. Kemudian ia turun dari truk dan memberikan surat-surat itu pada polisi tersebut. Pak polisi membacanya dan mendapatkan konten dalam surat bahwa bawaannya adalah buah-buahan, pak polisi tak percaya begitu saja.
“Coba kalian buka tutupnya!”
“Ini isinyo buah pak! Ndak ado yang macam-macam. Picayolah pak!” jawab si supir, si kenek hanya mengangguk mengiyakan.
“Ahhh, saya suruh buka ya buka. Saya mau lihat.” Jawab pak polisi tegas dan galak.
“Baiklah! Oii capek ang bukak dari belakang!” supir menyuruh keneknya yang sedang bengong.
 Lalu dengan cekatan keduanya membuka tutup terpal dan daun pintu belakang truk. Pak polisi memeriksa dengan teliti, ia berputar memeriksa satu per satu, sampai ke atas truk dan kedepan kursi kemudi. Tak satu pun barang mencurigakan ia temui. Tetapi ia masih penasaran, karena sewaktu ia tengah berada di motor ia mendengar jeritan ‘ganja’. Maka ia mencari benda yang sebagai targetnya adalah bungkusan ganja. Dengan sabar ia mencari sampai ke belakang jok. Akhirnya tak satu pun barang yang menyerupai target operasinya.
Kemudian ia kembali kepada dua orang yang menjadi tersangka dan terduga, tapi tak terkira bahwa barbuk tak jua ia dapatkan, maka ia mencoba mencari tahu dari keduanya. Berdiri bertolak pinggang, dengan nada penuh wibawa ia bertanya.
“Jadi benar kalian hanya membawa buah-buahan saja?”
“Betul pak. Kan bapak sudah tengok-tengok sendiri. Indak ado barang yang haram do, paaaak. Babi saja ndak ado apalagi barang haram yang lain.” Jawab si supir mulai ketakutan.
“Tadi saya mendengar ganja-ganja-ganja. Jangan-jangan kalian membawa ganja! Coba kalian buktikan!” mendengar pertanyaan pak polisi, keduanya saling bertatapan dan mengangkat bahu. Lalu si kenek tiba-tiba melotot seperti mendapat pencerahan.
“Ooooh mungkin yang dimakasud pak pulisi iko adalah ganja untuk menahan truk.” Jawab si kenek dengan girang menemukan klu.
“Oh iya-iya, mungkin itu makasudnyo.” Sambil ketakutan sang supir menimpali dengan mendorong-dorong sang kenek untuk mencabut ganjal balok yang terbungkus koran untuk menahan truk tersebut dari meluncur turun. Lalu sang kenek yang juga mulai takut, mengangguk mengiyakan dorongan rekannya untuk mencabut, setelah ia cabut ganjal itu lalu ia bergegas menyerahkan kepada pak polisi.
“Jangan berikan ke saya, kalian saja yang pegang. Coba kalian buka bungkusannya!” balok yang terbungkus koran perlahan-lahan mereka buka bersama, karena takut mereka membukanya berhati-hati. Tanpa mereka sadari truk mereka mulai beringsut mundur, bergerak perlahan tanpa bunyi mundur mengikuti jalan yang menurun. Setelah bungkusan terbuka terlihat lah balok hitam berlumuran oli, itu sebabnya mereka membungkusnya dengan koran.
“Ini di kampong kami namanya ganja pak pulisi!” jawab si kenek.
“Ganja itu untuak menahan apo sajo, yah bulih roda bulih juga daun pintu. Ini lah namonyo ganja!” jawab sang supir menambahkan.
“Jadi kalian bilang ganja-ganja-ganja itu, adalah balok dekil ini?”
“Iya pak pulisi.” Jawab keduanya serentak sambil memegang bareng balok hitam di atas koran.
Tiba-tiba terdengar, brak, brek, krek, bum, prang! Dengan serempak ketiganya menoleh ke arah datangnya suara. Mereka dapati motor pak polisi telah ringsek ketabrak truk dan tertimbun buah-buahan yang tumpah menimpa sepeda motor patroli.
“Wualaaaah!” teriak pak polisi sambil jingkrak-jingkrak menahan kesal melihat motornya remuk.
“Wadoooooooooh.” Teriak si supir dan kenek melihat muatannya berhamburan.
Keduanya menahan tangis penuh haru sambil merapikan tumpukan buah di tepi jalan sepi tengah malam buta di bantu pak polisi tersebut dan bala bantuan polisi lainnya.
Ahay....