Kamis, 05 Mei 2011

PROPAGANJA


Ganja adalah jenis psikotropika, yang pemakaiannya dahulu tidak terlalu mengkhawatirkan. Karena biji dan daun ganja sangat enak untuk dicampurkan kedalam masakan sebagai penyedap makanan. Beberapa ibu-ibu dulu menjemur bijinya sampai kering lalu ditumbuk rata dan disimpan dalam kendi kecil gerabah sebagai bumbu masak. Tetapi akhir-akhir ini banyak dipakai sebagai bahan penyedap tembakau, selain cengkih daun ganja kering juga termasuk yang populer dipakai.
Rasa candu yang diakibatkan daun ganja kering yang dihisap adalah rasa ilusi sesaat terhadap sesuatu yang dipandang atau difikirkan, itu menurut orang yang baru mencoba-coba menghisapnya. Tetapi menurut penghisap daun ganja aktif, merasakan daun ganja sama hal-nya dengan menghisap tembakau kering. Seperti layaknya rokok ganja lebih keras karena ukuran linting rokok tembakau lebih besar dibandingkan linting rokok ganja, tetapi reaksi yang mengendorkan otot dan syaraf jauh lebih cepat rokok ganja.
Rasa candu sebenarnya bukan sifatnya aktif dan pasif belaka, tetapi pemakaian yang diluar batasan dan salah pemakaian adalah faktor yang menjadi kekhawatiran orang-orang. Seperti halnya pulsa, dapat juga membuat orang kecanduan, bayangkan ada orang yang panik dan stress saat mendapatkan hapenya sudah habis pulsanya. Mau berapa pun harga pulsa yang habis terpakai pasti akan diisi ulang lagi. Hal yang sifatnya dan kedengarannya semu tetapi membuat orang pemakainya senang. Coba anda perhatikan orang ini, yang tengah malam buta dibawah sinar rembulan, dibawah pohon beringin, cekikikan dan ngomong sendirian, sebuah kabel headset dari kantung celana sampai ke kuping, tidak peduli nyamuk, tidak peduli hansip, terus cekikikan ngobrol dengan orang lain yang kasat mata.
Kecanduan lainnya adalah hipnotisme. Orang akan kecanduan berkaca dan memotret dirinya sendiri. Atau yang paling ngeri lagi yaitu: ada orang memaki, menyanyi, bahkan curhat di hadapan sebuah camera untuk di upload di you tube. Orang terhipnotis dengan namanya pengkuan dan pemujaan, seperti orang yang bertanya dengan sebuah pertanyaan yang sebenarnya orang itu sudah mengetahui jawabannya. Orang itu hanya butuh pengakuan dan pembenaran atas jawabannya sendiri, terhinotis untuk sebuah pembenaran dari orang lain atau sebenarnya memang kita bebal mengakui bahwa hal itu sudah benar dan tak perlu pembenaran lagi.
Tapi tenang. Untuk itulah gunanya sekolah kedokteran, psykolog, dakter jiwa. Yah untuk mengobati orang-orang yang kelewatan dan sulit mundur, terlalu maju dari kemampuannya juga tidak baik, atau terlalu mengalami kemunduran juga tidak baik. Maka dokterlah yang menjadi juru mudinya.
Sedari dulu aku masih tetap kecanduan kopi Aceh, katanya ada campurannya. Tetapi kalau dirasakan di lidah tidak jauh beda dengan kopi Medan atau kopi Padang. Mungkin karena mendengar ada campurannya maka yang ada dibenak pasti tentang bahan campurannya. Padahal bisa saja campurannya hanya sedikit sekali. Tetapi tetap saja membedakan penyebutannya. Sebut saja kopi jagung, pasti yang ada difikiran yaitu campuran kopi dengan jagung, atau kopi luwak pasti difikiran anda adalah kopi hasil eek luwak. He he he he.

Rabu, 04 Mei 2011

(Hahay Story 040) Kedondong

Sebatang kedondong tua tampak sangar menghadap ke jalan. Anak-anak SD yang melihatnya selalu tergoda untuk memetiknya. Dari arah jalan batang kedondong itu berdiri tinggi melebihi rumah sang pemilik. Pemiliknya adalah seorang bapak pensiunan tentara berpangkat rendahan. Memiliki jiwa temperamental dan meledak-ledak. Setelah pensiun memilih bekerja sebagai pelatih tinju sekaligus satpam dari sasana tinju milik bosnya. Rumahnya bersebelahan dengan ring tinju dan mess tempat anak latih yang menginap disana. Sasana yang cukup luas dan tidak berpagar, halaman lainnya ditanami dengan pohon jambu batu, mangga dan lontorogung. Kebetulan batang kedondong tepat berada di hadapan rumahnya dan menghadap ke jalan raya tempat anak-anak SD itu lalang lintas.
Hanya pohon kedondong itu lah berbuah, yang lainnya tidak berbuah sama sekali. Batang kedondong itu berbuah lebat sekali. Setiap hari anak-anak SD yang melewatinya meneriaki “minta dong om,” dan selalu di jam-jam pak tua itu sedang beristirahat bbs (bobo-bobo siang). Sambil lewat saja dan tak pernah anak-anak itu berani mendekati apalagi memanjatnya karena memang tak ada yang berani. Pak tua selain terkenal galak juga terkenal sangat nyentrik dengan dandanan ala tujuh puluhan. Layaknya potongan bekas tentara, wajah angkernya masih ketara. Seperti tengah terbangun dari mimpi buruk di siang bolong pak tua terengah-engah. Suara riuh bocah itu benar-benar merupakan mimpi buruk buatnya yang sedang menikmati bobo siang. “Hrrrrggghhhh! Awas yah!” suara mengaum dari mulut pak tua bagaikan macan ompong.
Tapi hari ini adalah hari yang berbeda, si Joni yang terkenal badung di SD itu layaknya sang jendral kancil siap memimpin pasukan untuk memanjat batang kedondong itu. Dan teman-temannya seperti mendapat angin segar, lalu siap menunggu perintah komandan, bersama 3 ajudan yang sama bengalnya Joni berjalan tegak menuju medan laga. Anak-anak butuh seorang patriot yang sanggup menghadapi veteran tua tersebut. Joni dan 3 temannya dengan sigap menaiki dahan-dahan kedondong yang lumayan licin. Anak-anak lainnya menunggu di bawah.
Karena riuh anak-anak lain yang kegirangan membuat pak tua terbangun. Baru beberapa buah yang berhasil dipetik tiba-tiba terdengar jeritan sang veteran dari dalam rumah. Kontan membuat anak-anak lari kocar-kacir. Belum sempat pak tua menghadapi bocah petualang itu mereka sudah kabur. Walau hanya mendapat beberapa buah saja, misi kali ini termasuk berhasil, dan Joni cs akan mengulanginya lagi esok hari.
Keesokan harinya Joni melakukannya dengan tenang dan tak bersuara seperti kemarin. Semua anak-anak hanya berbisik-bisik saja dan melangkah jinjit penuh kehati-hatian. Lalu Joni dan ketiga temannya siap beraksi lagi. Tetapi apa yang terjadi, ternyata batang kedondong telah dilumuri gemuk (licin seperti lemak dan kental seperti oli). Membuat Joni dan ketiga temannya jatuh bangun. Melihat temannya berjatuhan yang lain pun tertawa terpingkal-pingkal. Suara gaduh anak-anak itu pun telah membangunkan veteran tua itu lagi. Dan suara gelegar dari dalam rumah terdengar lagi meneriaki “maliiiing”. Anak-anak pun berhamburan kocar-kacir. Misi kali ini gagal total. Pak tua dengan nafas terengah-engah mendapati mereka sudah kabur lagi. “Anak-anak kurang ajar! Huh hah. Cepat sekali lari mereka. Awas ya aku tunggu kalian!” fikir pak tua.
Karena kemarin gagal, maka hari ini Joni menyusun strategi. Merasa kesal karena tidak mendapatkan hasil dan hari ini mereka siap melakukan perlawanan pamungkasnya, Joni telah mempersiapkan tangga dari bambu. Tapi kali ini pak tua pun telah siap melakukan perlawanannya dengan menjaga dari dalam rumah, beliau tidak bobo siang hari ini khusus untuk melakukan misi penyergapan dan penangkapan.
Dengan berjalan pelan-pelan Joni dan ketiga temannya menggotong tangga, diikuti oleh rekan-rekannya dari belakang. Jangan sampai ada suara apa pun kali ini, tidak boleh ada tertawa lagi, bahkan Joni melarang ada bersin-bersin dan kentut yang bersuara, cukup bau saja dan jangan bersuara. Pak tua telah mempersiapkan segala sesuatunya, borgol dan tali-temali, bahkan batang kedondong telah dililit dengan kawat berduri. Lalu Joni menyandarkan tangganya ke batang yang sudah dilumuri gemuk, kemudian ia memanjat sampai melewati dahan pertama. Setelah itu Joni harus melewati kawat berduri, dengan cerdik Joni membungkus tangannya dengan kain agar tidak tertembus kawat. Akhirnya Joni berhasil melewatinya, disusul kemudian oleh tiga temannya.
Sementara di dalam rumah pak tua mulai terkantuk-kantuk. Diluar tak terdengar suara riuh sama sekali. Pak tua merasa mungkin ini jam sekolah, jadi anak-anak badung itu belum pulang. Lalu ia benar-benar tertidur, tapi sesekali terjaga dan kupingnya ia tempelkan ke daun pintu. Tangannya menggenggam borgol dan tali. Pakaian perangnya pun ia pakai, lengkap dengan tanda jasa miliknya. Pertempuran kali ini siap ia menangkan. Tapi matanya tak kuasa menahan kantuk maka ia tertidur lagi. Di luar, Joni telah berhasil memetik buah-buah kedondong itu.
Tak lama berselang terdengar suara benda yang terjatuh dan pak tua itu terkejut dibuatnya. Tangga yang mereka pakai ternyata jatuh bersama salah satu temannya, tinggallah Joni dan dua temannya lagi yang masih berada di atas pohon. Pak tua tersadar bahwa musuh sudah mencapai garis tempur, ia bergegas keluar sambil berteriak, “serbuuuuuu.” Kontan anak-anak pun berhamburan kocar-kacir, kabur menghindari sergapan tentara tua. Dua temannya Joni yang berada diatas terjun dan langsung lari pontang-panting, tinggallah Joni sendirian.
Dengan nafas terengah-engah pak tua menengok ke atas mendapati Joni tengah asyik duduk santai sambil menguyah kedondong yang sudah matang. Geram dan murka pak tua tak tertahankan lagi. Sambil mengambil sebatang kayu, ia ayun-ayunkan ke atas, lalu melemparkannya ke arah Joni.
“Hai bocah tengil! Turun kau!” teriak pak tua tidak digubris Joni sama sekali.
“Ayo turun! Kalau berani sini kau!” teriak pak tua lagi.
“Kalau berani bapak aja yang kesini.” Jawab si Joni santai sambil memetik buah lainnya. Pak tua semakin gondok. Lalu ia masuk ke dalam rumah seperti hendak mengambil sesuatu.
Tak lama berselang pak tua itu pun keluar lagi dan kemudian memunguti batu-batu kerikil. Dengan ketapel karet dan peluru kerikil ia siap membidik si Joni. Melihat jelagat tak baik Joni siap-siap melindungi kepalanya. Dan, pletak! Tembakan pertama meleset.
“Gak kena. Gak kena. Gak kena.” Ledek si Joni. Pak tua semakin geram saja, lalu mencari batu kerikil yang agak besar, dan diletakkan di ketapel dan siap membidik lagi. Pletak.
“Aduh!” teriak si Joni, tulang kakinya terkena hantaman batu, ia mengerang kesakitan.
“Rasakan kau! Berani-beraninya kau melawan aku yah. Terima yang ini!” pak tua memungut batu yang agak besar lagi. Si Joni mendapati perlawanan yang tidak seimbang lalu ia bersiap-siap terjun. Tiba-tiba, pletak! Tembakan kali ini mengenai punggung Joni.
“Aduh. Aduh. Aduh. Awas yah kalau aku udah di bawah nanti!” gertak Joni.
Joni pun terjun di saat pak tua sedang mencari-cari batu untuk dijadikan pelor, kesempatannya buat melepaskan diri dari pak tua. Sesampainya ia di bawah dengan cekatan Joni merampas ketapel pak tua lalu lari. Sambil sesekali ia berhenti meledek pak tua. Pak tua pun tak mau kalah ia kejar Joni sekuat tenaganya, tapi apa lancung memang Joni terlalu muda untuk ia lawan. Walhasil pak tua jadi bulan-bulanan Joni. Sambil berlari kencang Joni berteriak, “Pak tua pelit!”
Keesokan harinya veteran tua itu memanggil anak latih tinjunya untuk menebang batang kedondong tersebut. Karena batangnya besar maka tak cukup satu dua jam untuk menebangnya. Sampai siang batang kedondong belum juga tumbang, sementara anak-anak SD telah pulang dari sekolahnya. Kemudian Joni dan teman-temannya duduk-duduk di seberang jalan menonton dengan tatapan haru, menghadapi kenyataan detik-detik terakhir batang kedondong itu rubuh. Detuman kapak yang membelah batang kedondong seperti dentuman genderang, bam bum bam bum.
Hari menjelang sore batang kedondong belum juga rubuh. Anak-anak yang tadi telah pulang ke rumah ternyata kembali lagi berdiri dan duduk-duduk di seberang jalan itu. Semakin ramai saja anak-anak dating menonton. Termasuk para remaja dan orang tua siap menyaksikan rubuhnya batang kedondong. Akhirnya terdengar teriakan pak tua, “tariiiiik.” Tali yang mengikat di batang itu siap ditarik. Krekekekek, kreeeeeeekkkkkkkhhhhh. Bum! Rubuhlah si kedondong tua yang telah berpuluh-puluh tahun menempati tempat itu jauh sebelum veteran tua itu datang.
Tapi bersamaan suara bum terdengar suara anak-anak SD itu, “horeeeeeeeeee.” Sambil berlarian mereka mendekati batang kedondong dan berebut memetik langsung buahnya dari dahannya. Dan mereka memunguti buah-buah kendondong yang jatuh. Alangkah senangnya hati anak-anak itu bisa memetik langsung buahnya. Hati pak tua itu pun juga senang, dengan berakhirnya buah terakhir ini maka berakhirlah mimpi buruk di siang bolong. Kemenangan buat kedua belah pihak, tidak buat kedondong tua, masa tugasnya telah habis.
ahay ....

Selasa, 03 Mei 2011

Ayakan 2


Aku telah mendengar bahwa As’ep (e dibaca dengan ‘e’ pepet, Asap jadi As’ep, panggilan buatnya yang berarti Anak Seribu Pulau, nama aslinya Edi) sahabat lama yang sudah naik hajji, kabar kepulangannya ke tanah air telah aku dengar jauh hari sebelum hari ini baru berkesempatan bertemu dengannya lagi. Sudah lima bulan lamanya. Tidak mau di panggil pak hajji. Panggil seperti biasa saja dan seperti adanya sama sebelum naik hajji, menurutnya sih begitu.
Entah kenapa baru ada kesempatannya hari ini. Tapi memang aku sudah berniat ingin ketemuan hari ini. As’ep sudah sukses, memiliki perusahaan sendiri, sebelumnya mah cuma karyawan biasa dan sambilan usaha jualan telor bebek. Sekarang memiliki rumah gedong plus kolam ikan di halamannya, satu buah mobil, satu buah sepeda motor, dan satu buah sepeda berkeranjang. Buat ukuran orang kota mah termasuk sukses lah! Yang lain boro-boro punya halaman, yang ada, buka pintu langsung prapatan lampu merah, he he he.
Bertemu dengannya lagi adalah kangen-kangenan dan mengobrol ngalur ngidul seperti biasanya. Aku cukup mengenalnya karena kami memang sudah lama kenal. Sekedar ingin ngobrol saja mengulang-ulang kisah. Tak sedikit pun aku menanyakan perihal hajji. Kami bisa menghabiskan waktu sampai malam hanya untuk ngobrol. Dari dulu memang kami hobbi ngobrol tentang apa saja, apalagi menceritakan teman-teman yang konyol dan lucu.
Setelah makan malam bareng keluarganya, As’ep mengajak ku duduk-duduk di beranda rumahnya sambil minum wedang jahe, si ibu menyediakan camilan kacang goreng. Lalu kami lanjutkan ngobrol cerita tentang teman-teman kuliah. Tak terasa pukul telah mendekati pagi, jam sebelas malam, waktunya untuk aku pamit pulang. Satu pukul dua pukul, tak terasa sudah, kami cukup sudahi hari ini ngobrolnya. Rasanya tak cukup hanya sepukul dwipukul bisa-bisa sampai subuh. Sebelum pamit aku tergelitik meminta oleh-oleh dari perjalanannya ke Mekah. Aku tak mengharapkan kurma atau tasbih, aku hanya ingin berbagi pengalamannya saja.
Dengan kalimat sederhana dan singkat cerita, tak bertele-tele dan panjang-panjang. Tidak seperti biasa aku mendengar orang lain yang naik hajji, pasti ada cerita berbau mistik lah, atau cerita yang aneh-aneh. Tapi ini cerita yang singkat dan padat.
“Hajji, ya jalanin rukun yang wajib-wajib aja dan yang sunah-sunah cukup atu kali, setelah itu yah pulang.” Menurutnya demikian.
Lalu aku bilang padanya, “wah kalau cuma itu semua orang juga tahu.”
“Yah kalau sudah tahu, laksanakan.” Begitu ia lanjutkan.
“Oh begitu yah?” kata ku.
“Aku nggak bisa ceritain pengalaman yang lain, karena aku hanya bisa melakukan rukun-rukun wajib aja dan setelah itu aku pulang. Kan niatnya hanya mau naik hajji bukan yang lain-lain, mengharapkan sesuatu dari rumah yah cukup dari rumah aja. Kalo mau beli kurma dan oleh-oleh hajji tuh di Tanah Abang juga ada.” Katanya lagi.
“Gak ada cerita aneh bin ajaib yang kau rasakan disana geetoh?” tanya ku lagi.
“Kagak. Semuanya biasa aja. Yang pasti rame banget orang disana. Tapi orang yang sudah hajji itu harusnya ibadahnya lebih getol lagi. Kagak berarti orang udah hajji terus jadi ustad atau guru, ngajarin diri sendiri aja dulu dengan melakukan ibadah lainnya dengan bener baru jadi imam buat keluarga.” Aku mengangguk-angguk setuju.
Aku mengangguk-angguk setuju. Tak lama sesudah itu aku pamitan.
 Sungguh aku tak menyangka, pemikirannya begitu sederhana. Tak melebih-lebihkan keadaan. Banyak cerita orang lain yang hajji telah dibukakan pintu hati dan fikirannya, berarti selama ini mampet dan kesumbet dong. Ada benarnya, tentang hajji dan rukun-rukunnya telah banyak ditulis di dalam kitab, tinggal dipelajari sendiri.


Senin, 02 Mei 2011

(Hahay Story 039) Jambu Air

Watseni adalah seorang kakek tua pemilik pohon jambu air. Tempat tinggalnya berada diujung jalan bersebelahan dengan mushala dan tanah lapang tempat anak-anak bermain bola. Halamannya sedikit luas, yang ia tanami satu batang pohon jambu, satu batang pohon nangka, satu batang pohon rambutan, satu batang pohon belimbing, satu batang pohon mangga, satu batang pohon ara dan satu batang pohon sirsak. Jarak satu batang dengan yang lainnya berdekatan. Untuk ukuran orang yang tinggal di Jakarta, pasti rumah Watseni termasuk luas, dan jarang sekali orang menanami halamannya dengan berbagai tanaman buah.
Yang membuat heboh hati dan mengocok perasaan gundah Watseni adalah sepohon jambu air itu, selalu berbuah lebat dan menggiurkan. Maka buah-buah jambu itu selalu menggoda orang yang lalu lalang di bawahnya. Karena letaknya bersebelahan dengan mushala maka daun-daunnya yang kering pasti suatu saat akan jatuh ke jalanan dan kemungkinan ditiup angin menyeberang ke mushala, sangat mungkin sekali membuat kesal penjaga mushala. Dan mushala pasti akan selalu didatangi orang, dan orang-orang itu sebelum masuk ke mushala pasti akan menengok ke atas dimana jambu-jambu merah itu menggoda. Sementara pohon buah lainnya agak ke dalam pekarangan dan buahnya pun jarang, kecuali rambutan dan sirsak.
Watseni yang tidak enak hati itu mengurangi dahannya dengan cara memotong dahan yang keluar dari pagar rumahnya. Tetapi anehnya, tunas-tunas yang baru selalu tumbuh mengarah ke mushala itu, terlebih lagi buah-buah jambu yang menggelayut itu pun lebih banyak tumbuh ke arah mushala dibandingkan yang menghadap ke rumah Watseni. Sementara dahan yang mengarah ke rumah Watseni adalah dahan yang sudah tua dan tidak di tumbuhi tunas lagi hanya menyisakan dahan segitunya saja, tidak bertambah atau pun berkurang.
Orang-orang yang lalu lalang pasti tergoda oleh rimbunan buah jambu milik Watseni. Pada suatu siang, sepulangnya anak-anak SD dari sekolah dan melewati jalan di sebelah rumah Watseni, tergodalah mereka untuk menikmati dan merasakan buah jambu itu. Lalu mereka berteriak dari balik pagar memohon Watseni untuk memberikan izin agar mereka diperbolehkan memetik jambu-jambu tersebut. Tak henti-henti mereka berteriak. Lalu merasa terusik oleh teriakan mereka, sang kakek keluar dan menghampiri mereka dari balik pagar, karena umurnya yang sudah uzur kakek pun mendengar suara itu sayup-sayup dan jalannya perlahan tapi pasti sampai ke tepi pagar miliknya.
“Kek, bagi dong jambunya?” pinta anak-anak SD itu.
“Bukannya kakek tidak mau memberikannya tapi jambu-jambu itu belum matang. Datanglah lagi barang seminggu lagi. Minggu depan matanglah, datanglah kalian, buah-buah itu pasti boleh kalian petik sendiri. Ia toh?” Watseni menjelaskan.
“Ah kakek pelit. Bilang aja tidak mau kasih.” Kata salah satu anak yang bertubuh lebih besar dan dibandingkan yang lainnya, merasa terwakili yang lain pun mengiyakan dan mengangguk serempak.
“Bukannya kakek pelit. Begini ya, kalau jambu itu tidak dipetik sesuai waktunya, nanti jambu-jambu itu tidak mau berbuah lagi dalam waktu yang tepat dan cepat. Jambu itu juga, kalau tidak dipetik pun nanti busuk dan berguguran, juga bisa membuat jambu tidak mau berbuah lagi dalam waktu dekat. Iya toh?” Sang kakek menjelaskan lagi.
“Huuuuuu. Kakek pelit! Kakek pelit!” sambil berlari mereka meneriaki sang kakek. Watseni pun sedih dibuatnya. Berjalan sangat pelan menuju rumahnya lagi. Dalam hatinya ia berjanji akan menyisakan buah jambu itu dengan jumlah banyak dan akan ia bawa menuju SD tempat anak-anak itu sekolah.
Dua hari kemudian, giliran dua anak pemulung masih remaja tanggung. Merasa siang itu sangat panas mereka beristirahat di depan mushala, lalu pandangan keduanya tertuju tepat ke arah jambu-jambu merah itu. Dengan rasa haus dan keinginan merasakan jambu-jambu itu, mereka memberanikan diri meminta izin pada sang pemilik. Keduanya berteriak bergantian, sementara sang kakek baru saja terlelap karena jumlah kantuk dimatanya melebihi dari jumlah umurnya.  
“Ibu, bapak, minta jambunya dong?” si anak berambut ikal bertubuh lebih gelap berteriak.
“Ambilah!” sahut anak satu lagi, rambut lurus, belah pinggir, tubuh gempal dan juga berkulit agak gelap. Keduanya bau sangit, seperti terbakar matahari.
Kebetulan hari itu sepi, dan mereka merasa beruntung karena rumah itu juga sepi, barangkali pemiliknya sedang pergi keluar. Kemudian keduanya beraksi, melempari jambu-jambu hingga berjatuhan ke jalan. Dapatlah keduanya makan buah jambu yang baru matang setengah, sebagian kecil ada juga yang telah matang. Setelah mereka kumpulkan hampir terisi setengah kantung plastik berukuran besar. Lalu mereka melempari lagi, dasar sial batu yang mereka lempar mengenai jendela kaca milik Watseni. Prang! Terkejut keduanya menghadapi kenyataan itu, Watseni juga terjaga dari tidurnya mendengar keriuhan di luar.
Melihat Watseni keluar dari rumah berjalan mendekati pagar kedua pemulung itu kalap dan bergegas kabur membawa serta jambu di kantung plastik. Watseni hanya memperhatikan keduanya tengah berlari membawa sekantung jambu miliknya. Menemukan jendela kacanya pecah Watseni pun sedih hatinya. Ia berjanji akan memberikan sebagian besar jambu-jambu itu untuk ia berikan pada pemulung dan peminta-minta.
Dengan menggunakan plester ia mencoba menyambung potongan mozaik karya dua bocah pemulung tadi, walhasil kaca tersambung kembali dan berhasil menutupi rumahnya dari angin dan percikan air hujan. Lalu Watseni menengadah ke atas tempat jambu-jambu bergelayutan, menatap sedih pada buah-buah jambu itu telah membuat risau hatinya. Beberapa hari ini tidak seperti hari-hari biasanya buah jambu itu berbuah, tidak ada orang yang mengatai pelit, juga tidak memecahkan jendela kacanya. Ia terenyuh dalam angan-angan kesedihan. Biasanya ia dengan bangga membagi-bagikan jambu miliknya kepada tetangga, sanak keluarga, juga tamu-tamu dari mushala itu.
Keesokan harinya hujan turun dengan derasnya, diiringi gemuruh angin, dan angin yang berputar-putar benar-benar menjatuhkan buah-buah jambu yang belum sepenuhnya matang itu. Ukuran jambu-jambu milik Watseni memang berukuran lebih besar dari buah jambu yang dijual di pasar, dan berwarna merah lebih pekat semakin matang semakin merah kehitaman, Watseni tahu betul jambu miliknya ditanam dengan bibit unggul. Maka Watseni pun tahu ukuran dan warna jambu yang benar-benar matang, karena jambu itu sudah tumbuh selama 32 tahun menemani hidupnya. Watseni kembali sedih melihat runtuhnya jambu-jambu miliknya dikarenakan angin beliung. Sebagian berjatuhan di halamannya dan sebagian lainnya berjatuhan di jalanan di depan mushala, angin telah menjatuhkan hampir semuanya. Dari balik retak jendela wajah ketir bercampur sedih, Watseni menatap penuh keharuan melihat jambu-jambu itu, karena ia terlanjur berjanji untuk membagi-bagikan kepada anak-anak SD dan bocah pemulung tersebut.
Sedari pagi hujan tak jua berhenti. Menjelang Magrib hujan mulai mereda, sore itu sudah seperti malam karena dari pagi matahari tertutup mega, azan Ashar tak lama berselang dan waktu mendekati Magrib. Hujan benar-benar reda. Karena matanya sudah lamur sang kakek tidak menyegera membersihkan jambu yang ada di jalanan tetapi ia memunguti jambu-jambu yang masih layak dimakan yang ada di perkarangannya saja. Disaat itu juga ada tiga orang musafir ingin segera menunaikan shalat Ashar sebelum waktu benar-benar kasip, mereka singgah di mushala itu, menghentikan motornya dan memarkirkannya di depan mushala.
“Wah. Banyak sekali jambu air itu. Sayang sekali tidak segera di panen.” Kata salah satu musafir berbaju hitam sambil berjalan berjinjit memperhatikan langkahnya menghindari menginjak buah jambu itu. Mereka tak menyadari kalau sebelumnya telah terjadi badai yang mengakibatkan runtuhnya jambu-jambu itu dari batangnya.
“Wah wah wah. Iya nih. Padahal kan bisa dijual. Lumayan nih dapet dua karung lebih. Yah gak?” salah satu musafir lainnya berbaju putih menimpali perkataan temannya. Musafir satunya lagi yang berbaju biru hanya mengangguk dan senyum sinis. Watseni yang tengah memunguti jambu yang masih bagus mendengar percakapan itu. Watseni bertambah sedih mendengarnya, karena Watseni tidak pernah menjual jambu-jambunya, ia lebih baik membagikan kepada tetangga-tetangganya.
“Pasti dapat untung besar ini.” Kata lelaki baju hitam lagi.
“Mungkin orangnya kikir dan hatinya tidak baik, mangkanya jambunya rontok-rontok. Tuh liat aja! Jambu-jambu banyak ulatnya dan busuk.” Timpal si baju putih, temannya yang baju biru sedari tadi diam saja hanya mengangguk-angguk dan senyum sinis. Ketiganya berjalan berhati-hati menuju pagar mushala. Sementara Watseni tak kuasa membendung air matanya, perlahan mengalir di pipinya yang sudah keriput.
Betapa terpukul perasaannya, runtuhlah imannya, karena ia tahu setiap saat ia hendak menebang pohon jambu ini maka setiap itu pula lah bunga jambu bermunculan, maka tak tega lah Watseni untuk menebangnya. Dan setiap saat itu pula lah jambu-jambu ranum bermunculan di dahan-dahannya. Seperti tidak mau ditebang, batang jambu itu selalu memberi Watseni buahnya yang terbaik, dan setiap tiga bulan sekali selalu saja berbuah tanpa henti. Tak ada sedikit pun Watseni berniat membiarkan jambunya busuk atau mubazir tak termakan, apalagi untuk menjualnya. Mengapa orang-orang telah menghukumnya dengan perkataan yang menyakitkan hatinya.
Ketiga musafir itu berjalan sangat berhati-hati. Tetapi saat mereka hampir mendekati pintu pagar mushala, kaki musafir berbaju putih terpeleset oleh jambu-jambu itu dan menimpa kedua temannya. Ketiganya jatuh di antara jambu-jambu itu dan mengakibatkan baju mereka kotor dan terkena air jambu membuat noda-noda merah melekat pada pakaian mereka. Ketiganya memaki-maki jambu itu dan perkataan kotor keluar dari mulut mereka.
Tetapi dari balik batang jambu itu, Watseni menahan mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar. Bahunya naik turun, perutnya berguncang, Watseni pun girang. Lalu menatap pohon jambu itu dari bawah sampai atas. Mereka berdua seperti satu sama lain dengan bahasa sunyi keduanya berdialogh. Putik-putik putih berjatuhan perlahan menerpa wajah Watseni. Watseni tersenyum melihat putik putih itu, ia mengerti. Yang berjatuhan adalah buah-buah yang besar. Sementara calon buah dan buah yang masih kecil-kecil belum berjatuhan bahkan bertahan di dahan lebih kuat menghadapi angin kencang tadi pagi. Mereka adalah calon buah berikutnya. Watseni pun kembali ke dalam rumah dengan tersenyum. 
ahay....